Saat menghadap Gubernur untuk memberitahukan kedatangannya, Ibnu Batutah kaget, karena pada saat yang sama, ada seorang Brahmana yang disertai tiga perempuan, meminta ijin untuk melakukan upacara membakar diri.
Tiga perempuan itu adalah janda dari orang yang mati karena mempertahankan tanah Abjore dari serangan perampok. Ada tujuh yang mati dari umat Islam dan tiga orang dari umat Hindu.
Sesuai dengan keyakinan masyarakat Hindu Abjore kala itu, apabila seorang suami meninggal, maka para istri akan membakar diri bersama jenazah suami dalam upacara Sati. Pengorbanan diri ini juga diyakini akan memuliakan keluarganya kelak di Nirwana.
Sati bukanlah sebuah kewajiban. Akan tetapi, bila seorang janda tidak mau membakar diri, ia akan distigma sebagai istri durhaka. Ia juga mendapat sanksi sosial yakni pengucilan. Perempuan penolak sati juga tidak boleh berhias, hanya boleh memakai kain katun kasar dan tidak boleh memakai alas kaki.
Ketika Gubernur sudah menyetujui, dilaksanakanlah pesta di rumah para janda tersebut. Mereka yang akan membakar diri diberi pakaian terbaik. Aneka tetabuhan dan nyayian dilantunkan dan para kerabat datang memberikan selamat.
Usai pesta tiga hari tiga malam, tibalah saat upacara Sati dilangsungkan. Tiga janda itu dikarnavalkan keliling kota, untuk kemudian dibawa ke sebuah tempat yang menurut Ibnu Batutah, muram, sedikit gelap dan ada tumpukan kayu bakar untuk semacam api unggun dan juga balok-balok kayu besar.
Tiga perempuan itu kemudian turun dari kuda, ia menuju api yang sudah mulai berkobar. Sebelum melangkah masuk, ia melakukan penyembahan kepada dewa api. Ketika ada tangan yang hendak mendorongnya, ia marah dan bilang, “Jangan dikira aku takut dengan api dan kematian. Tidak usah didorong, aku akan masuk ke api sendiri.”
Usai melompat ke dalam api, para perempuan itu melolong kesakitan. Dengan sigap, para petugas mengangkat balok kayu dan ditindihkan ke perempuan itu sehingga tubuh yang terbakar itu tidak bisa bergerak. Genderang yang dipukul bertalu-talu dan terompet ditiup keras-keras mendistraksi suara hingga jerit kesakitan yang makin lirih tidak terlalu terdengar.
Ibnu Batutah terkejut bukan kepalang, seolah tak percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata. Ia sampai hampir terjatuh dari kuda yang ditungganginya.
***
Lalu, apakah Sati, tradisi kematian dari India ini juga berlangsung di Nusantara? Jawabnya, iya. Tradisi ini berlangsung di Jawa maupun Bali. Sati terbesar dalam catatan Belanda adalah saat kematian Raja Tawang Alun II, Raja terbesar Kerajaan Blambangan. Kerajaan Blambangan adalah kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa yang berpusat di ujung timur Jawa, kini dikenal sebagai Banyuwangi
Karena ia seorang Raja, maka ikut dibakar hidup-hidup bersama jenazah sang Raja itu ke 271 istrinya. Orang Jawa menyebutnya sebagai Pati Obong.
Dalam buku Arus Balik, Pramoedya menorehkan catatan tentang upacara bakar mayat ini.
“Tetapi pesta itu kini telah ditiadakan. Dahulu dalam pesta ini ada tulang belulang atau mayat-mayat dibakar bersama-sama di empat penjuru kota. Bila memang banyak yang harus dibakar. Bila abunya telah diambil. Janda-janda pun menyusul masuk ke dalam api unggun sampai lumat jadi abu pula. Pesta api sudah tiada. Orang-orang Islam telah berusaha melawan adat kejam dan mengerikan ini, sambil memasyhurkan agamanya.”
Sumber :
– Rihlah Ibnu Batutah, penerbit Al Kautsar
– Pramoedya Menggugat, Melacak Jejak Indonesia, Prof. Koh Youn Hun, hal. 263
(Arif Wibowo)








