Perbedaan Menlu RI dan Iran, bagai bumi dan langit

Perbedaan paling mendasar antara keduanya terletak pada bidang pendidikan dan kemampuan serta pengalaman diplomatik.

🇮🇩Menlu RI Sugiono adalah lulusan Computer Science (Norwich University, AS) dan Master of Business and Management (Jerman). Ia tidak memiliki latar belakang formal di bidang Hubungan Internasional atau diplomasi. Ini menjadikannya figur yang tidak biasa sebagai menteri luar negeri.

🇮🇷Menlu Iran Abbas Araghchi sebaliknya, menghabiskan seluruh pendidikan formalnya di bidang Hubungan Internasional, dari S1 hingga S3 di Universitas Teheran, dengan disertasi dan publikasi akademik tentang strategi AS di Timur Tengah. Ia adalah diplomat klasik yang terlatih secara akademis dan praktis sejak awal kariernya.

Jalur karier kedua tokoh ini sangat kontras:

🇮🇩 Sugiono:
Awal karier sebagai Perwira Kopassus (Letnan Satu, 2002-2004).
Peralihan, Menjadi sekretaris pribadi Prabowo Subianto, lalu terjun ke politik sebagai kader pendiri Partai Gerindra.
Pengalaman diplomatik sebelum jadi Menlu:
Hanya sebagai anggota Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan luar negeri, bukan sebagai diplomat karir.
Diangkat karena politik (orang dekat Presiden), bukan karena jenjang diplomasi tradisional

🇮🇷 Abbas Araghchi:
Awal karier, Langsung masuk ke Kementerian Luar Negeri setelah kuliah, meniti karir dari staf hingga duta besar.
Pengalaman lapangan luas, Menjadi wakil duta besar di Irak (1997-2001), duta besar untuk Bahrain (2007-2010), Direktur Jenderal Teluk Persia, Wakil Menlu untuk Urusan Arab dan Afrika (2011-2016).

Seyyed Abbas Araghchi adalah diplomat senior. Ia dikenal luas sebagai negosiator ulung.

Araghchi memiliki latar belakang akademis yang kuat di bidang politik dan hubungan internasional:

  • Sarjana (S1): Hubungan Internasional dari Sekolah Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran.
  • Magister (S2): Ilmu Politik dari Islamic Azad University, Cabang Teheran Pusat.
  • Doktor (S3): Pemikiran Politik dari University of Kent, Inggris.

Jenjang Karier
Kariernya di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran membentang selama beberapa dekade dengan berbagai posisi strategis:

  • Duta Besar Iran untuk Finlandia (1999–2003): Merangkap tugas untuk Estonia
  • Duta Besar Iran untuk Jepang (2007–2011): Memperkuat hubungan bilateral di Asia Timur
  • Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Mei–September 2013): Masa transisi kepemimpinan
  • Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Hukum dan Internasional (2013–2017): Menjadi salah satu negosiator utama dalam perjanjian nuklir (JCPOA)
  • Wakil Menteri Luar Negeri Bidang Politik (2017–2021): Peran kunci dalam diplomasi regional dan internasional
  • Sekretaris Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri (2021–2024): Menjabat setelah masa pemerintahan Hassan Rouhani berakhir
  • Menteri Luar Negeri (2024–Sekarang): Dilantik di bawah pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian.

Kemampuan Bahasa: Ia fasih berbicara dalam bahasa Persia, Arab, dan Inggris.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 komentar

  1. orang yg dibanggakan oleh kadal gurun berperang melawan irak saddam hussein tercatat dia served di irgc melawan saddam hussein, org spt ini yg kamu banggakan wahai kadal gurun? memerangi kaum ahlusunnah? ya salam

    1. Banyak belajar biar pinter le. Kamu ini sepertinya kader PKI ya , sukanya mengadu domba sesama islam. Perang Irak Iran itu justru yg memulai adalah Irak dgn meng invasi Iran pada 22 Spt. 1980 , yg dilatarbelakangi sengketa perbatasan. Sungail Shatt al-Arab ingin dikuasai penuh oleh Irak yg sebagian dikuasai Iran berdasarkan Perjanjian AlJazair 1975.
      Jangan banyak Nyepong melulu , sisakanlah sedikit waktu buat belajar…😂😂😂

      1. siapa suruh memprovokasi org siah di dalam irak, makanya diserang, gaada asap kalau gaada api, knapa antum jadi belain siah? takiyah bisa dibuat mudah

    2. abu janda lebih cocok kayanya yg jadi menlu,setuju dooong ?! begitu kalah berdiplomasi dgn negara lain diplomatnya langsung di anjing anjingin sama abu janda😁

  2. jangankan dibandingin Pak Abbas, sama Bu Retno Marsudi aja jauh. keliatan jomplang. di forum internasional aja bicaranya gelagapan