Perbedaan awal Ramadhan

✍🏻Ustadz Yendri Junaidi

Di medsos perdebatan tentang awal Ramadhan memang terlihat sengit dan cukup tajam. Tapi di lapangan sesungguhnya tidak semengeri itu.

Ketika berjumpa kita saling bertanya, “Kapan mulai puasa?” “Rabu…”. “Oo.. Ikut Muhammadiyah ya?” “Iya… Bapak sendri?” “Saya Kamis insya Allah…” “Ooo, ikut pemerintah?” “Iya…”.

Dah… Berakhir begitu saja… Tak ada komentar, “Gak sah itu… Yang benar yang ini… Puasanya kurang itu… Mesti diganti nanti…”, dan sebagainya.

Mungkin karena sudah terbiasa, atau tak ada ilmu untuk berkomentar lebih jauh, atau tak ingin merusak keakraban hanya karena sesuatu yang tak berujung, atau karena alasan yang lainnya. Yang jelas, itu pilihanmu dan ini pilihanku, mari kita saling menghargai. Sah atau tidak sah, maqbul atau tidak maqbul biarlah itu menjadi kewenangan Zat Yang Maha Mengetahui.

Alangkah indahnya kalau perbedaan pendapat furu’iyyah yang lain juga sesejuk perbedaan awal Ramadhan di tengah masyarakat.

“Bapak tawassul ya?” “Iya… Mengikut ulama yang membolehkannya…” “Oo…” “Bapak sendiri?” “Saya nggak… Saya ikut ulama yang tidak membolehkannya…” “Ooo…”.

Dah, gitu aja…

اللهم ألف بين قلوبنا فنصبح إخوانا

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar