Perbandingan Hari Ibadah
- Yahudi → Sabtu (Sabat)
Dalil:
“Pada hari ketujuh Allah telah menyelesaikan pekerjaan-Nya yang dibuat-Nya itu; lalu Ia berhenti pada hari ketujuh dari segala pekerjaan-Nya.”
(Kejadian 2:2, Taurat/Perjanjian Lama)
Intinya: mereka yakini Tuhan capek usai menciptakan langit dan bumi selama 6 hari sehingga istirahat dihari ketujuh. (sabat/sabatun), Karena itu, Sabtu jadi hari ibadah Yahudi.
- Kristen → Minggu
Dalil:
“Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu…”
(Markus 16:9, Injil/Perjanjian Baru)
Intinya: mereka yakini Tuhan mati dikayu Salib dihari Jumat, lalu bangkit di hari Minggu. Jadi, Minggu dijadikan hari suci.
- Islam → Jumat
Dalil:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli…”
(QS. Al-Jumu‘ah: 9)
Intinya: Allah sendiri yang langsung memerintahkan
Jumat sebagai hari ibadah utama.
Kaum Yahudi meyakini bahwa setelah menciptakan langit dan bumi, Tuhan mereka merasa lelah lalu beristirahat pada hari ketujuh. Inilah yang melahirkan konsep Sabat pada hari Sabtu. Mereka seakan menggambarkan Tuhan seperti makhluk yang butuh tidur dan capek. Padahal, Allah ﷻ menolak keyakinan ini secara tegas:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ
“Sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak ditimpa kelelahan (letih).” (QS. Qāf: 38)
👉 Allah membantah dengan sangat jelas: Dia tidak pernah capek, tidak pernah letih, tidak butuh istirahat.
Sementara itu, kaum Nasrani menjadikan hari Minggu sebagai hari suci karena mereka meyakini bahwa “Tuhan mati di salib, lalu bangkit pada hari pertama minggu.” Narasi ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa Tuhan mereka bisa mati. Padahal, Allah ﷻ menegaskan bahwa Dia Maha Hidup, tidak pernah mati, dan mustahil diliputi kematian:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ
“Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Hidup, Yang tidak akan mati.” (QS. Al-Furqān: 58)
Dengan ayat ini, Allah seakan berkata: “Aku tidak pernah mati, Aku tidak bisa mati, dan hanya Aku-lah Yang Maha Hidup kekal abadi.”
🟢Keistimewaan tambahan Jumat:
Sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Salman al-Farisi Radhiyallahu anhu. Dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ اْلإِمَامُ إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ اْلأُخْرَى.”
“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara Jum’at tersebut dan ke Jum’at berikutnya.”
(fb Ngopidiyyah)






