Pengaruh Budaya Gurun (Islam) di Nusantara

Pengaruh Budaya Gurun

✍🏻Arif Wibowo

Gagap Sejarah Kaum Rahayu yang sering membenturkan Islam dengan kebudayaan Jawa adalah mengaku sebagai pemilik asli budaya, menjunjung tinggi kejayaan Majapahit, anti budaya gurun (baca Islam) tapi menampilkan diri dengan busana Mataram Islam.

Pakai udheng atau blangkon lengkap dengan beskap tapi cuap-cuap penjajahan oleh budaya Arab. Kalau yang perempuan hobinya membenturkan kebaya dengan jilbab. Padahal kedua macam busana itu, beskap dan kebaya, dikenakan ketika masyarakat Jawa sudah masuk Islam.

Istilah kapitayan yang dikenal luaskan oleh Kyai Agus Sunyoto, kyai NU yang mengaktifkan Lesbumi, Lembaga Seni Budayanya NU, dengan merujuk jejak linguistik yang masih ada di masyarakat untuk menggambarkan konsepsi masyarakat Jawa tentang Tuhan kini juga diklaim sebagai wujud institusi religi asli Jawa. Dan lagi-lagi dibenturkan dengan Islam.

Menelusur jejak budaya lama itu sah-sah saja, akan tetapi ketika kemudian mengklaim diri paling asli dan yang lain pendatang yang merecoki tentu harus diuji klaimnya.

Misal soal busana, kalau kita merujuk ke busana masyarakat Jawa kuno yang ada di relief kaki bangunan Borobudur, Karmawibhangga, maka dapat kita ketahui bahwa cara berpakaian orang Jawa kuno itu hanya tertutup mulai pusar ke bawah.

Yang membedakan antara rakyat biasa dengan bangsawan dan brahmana itu terletak pada penutup kepala dan perhiasannya.

Gambar 37A menunjukkan keluarga raja dan hambanya, gambar 39A itu penari kayangan dan nomer 40A itu lelaki bangsawan dan istrinya. Jadi, dari rakyat jelata hingga raja, pada abad ke 8-9 M, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya masih telanjang dada.

Ketika saya minta bantuan chatgpt (AI) gratisan untuk memvisualisasi relief Karmawibhanggha tersebut, ia tidak membuat secara apa adanya, tapi dimodifikasi dengan standart kesopanan (lihat gambar sebelah kanan di atas).

Jadi, salah satu peran besar Islam dalam membentuk budaya Jawa Baru adalah menetapkan standart norma berpakaian dalam masyarakat Jawa.

Karenanya, menjadi hal yang alamiah ketika jilbab diperkenalkan secara luas masyarakat menyambutnya. Ini bukan arabisasi tapi tahapan alamiah bagi masyarakat Jawa yang kini mayoritasnya memeluk agama Islam.

Jadi pesan saya ke kaum rahayu fasis Jawa, yang kemana-mana mengaku paling asli Jawa dan nyinyir terhadap Islam, paling tidak jujurlah ketika menarasikan sejarah. Janga sampai kulakan dari budaya “muslim Jawa” tapi menyerang Islam.

Jadi, kalau bodho itu baiknya nggak usah diumumkan.

Sumber :
Busana Jawa Kuna karya Inda Citrandini Noerhadi.

Komentar