✍🏻Catatan Erizeli Jely Bandaro
Penerimaan pajak turun. Bukan feeling, bukan narasi oposisi, bukan “sentimen global”, tapi data resmi negara. Dan dalam ilmu ekonomi, ada satu hukum yang bahkan para politisi paling pandai bersandiwara pun tidak bisa membantah: Penerimaan pajak turun = aktivitas ekonomi melemah.
Sesederhana itu. Ini bukan opini kelas warung, tapi logika dasar fiskal. Negara hidup dari pajak. Kalau pajak melemah, berarti mesin produksi pelan, konsumsi lesu, korporasi menahan napas, dan rumah tangga mengurangi belanja.
Namun entah bagaimana, di negeri penuh influencer dan elite bermental bandit, fakta sederhana ini bisa dipelintir menjadi optimisme palsu. Tiba-tiba muncul jargon bombastis: Ekonomi akan didorong tumbuh 6–7%. Didorong pakai apa? Pakai powerpoint? Pakai doa massal? Atau pakai bisingnya buzzer yang dibayar?
Yang percaya ekonomi akan tumbuh 6-7% biasanya hanya dua golongan:
- Miskin harta, yang tidak punya apa-apa sehingga menggantungkan hidup pada harapan.
- Miskin literasi, yang tidak paham perbedaan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan utang pemerintah.
Mereka tidak salah. Mereka hanya korban dari mimpi palsu yang ditiupkan influencer berbayar dan elite yang sudah lama memperlakukan republik ini seperti mesin ATM pribadi.
Faktanya?
- Penerimaan pajak neto turun 3,9% (YoY).
- Restitusi naik 36,4%.
- Artinya? Negara mengembalikan lebih banyak uang ke wajib pajak karena aktivitas bisnis lesu atau overpayment yang harus dikoreksi.
Kata Dirjen Pajak: “Restitusi melonjak… sehingga penerimaan neto menurun.” Ini eufemisme birokrasi. Di balik kalimat rapi nan teknokratik itu, maknanya hanya satu: Ekonomi sedang ngos-ngosan. Memperbaiki situasi ini hanya dengan disiplin fiskal. Pangkas anggaran populis dan focus kepada perbaiki iklim bisnis yang ramah dan penegakan hukum yang tak bisa dibeli. Itu aja
Tanpa itu hanya omong kosong. Yang tumbuh hanya elite dan oligarki. Sementara sebagian rakyat yang miskin harta dan miskin literasi akan tetap percaya ekonomi akan meroket 6-8%, karena dalam negara yang sedang menurun, harapan palsu memang lebih menghibur daripada kenyataan pahit. Sayangnya, realitas fiskal tak bisa disogok dengan retorika.






