Sejumlah pejabat pemerintahan Presiden AS Donald Trump memperingatkan para anggota parlemen bahwa drone serang Shahed milik Iran menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanan udara Amerika Serikat.
Dalam pengarahan tertutup di Capitol Hill pada Selasa, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengakui bahwa drone Shahed menimbulkan persoalan yang lebih besar dari perkiraan awal. Informasi ini disampaikan oleh sejumlah sumber yang mengikuti sesi tersebut kepada CNN.
Drone Shahed, termasuk varian seperti Shahed-136, dikenal terbang rendah dan relatif lambat. Karakteristik ini justru membuatnya lebih sulit dideteksi dan dicegat dibandingkan rudal balistik yang memiliki lintasan lebih jelas dan kecepatan tinggi.
Meski demikian, sumber lain menyebutkan para pejabat juga berupaya meredam kekhawatiran dengan menyatakan bahwa sejumlah negara mitra AS di kawasan Teluk Persia telah menimbun persediaan rudal pencegat (interceptor).
Pemimpin Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, yang turut menghadiri pengarahan tersebut, mengkritik Presiden Trump karena dinilai belum memberikan penjelasan memadai kepada Kongres terkait alasan pengerahan militer AS dalam eskalasi terbaru melawan Iran.
“Tidak ada penjelasan jelas mengenai apa yang sebenarnya memicu keputusan untuk memasuki perang pilihan ini, tanpa bukti adanya ancaman yang segera terhadap Amerika Serikat atau kepentingannya di kawasan,” ujarnya.
Senator Mark Kelly, anggota Komite Angkatan Bersenjata Senat, juga memperingatkan keterbatasan stok amunisi pertahanan udara AS. Menurutnya, Iran memiliki kapasitas produksi besar untuk drone Shahed serta berbagai jenis rudal balistik jarak pendek hingga menengah.
“Pada titik tertentu ini menjadi persoalan matematika. Bagaimana kita mengisi ulang persediaan amunisi pertahanan udara? Dari mana asalnya?” kata Kelly.
Sementara itu, Ketua DPR Mike Johnson menyebut keterlibatan militer AS sebagai “operasi berbahaya”.
Laporan terpisah dari The Wall Street Journal menilai gelombang serangan drone dan rudal Iran telah menekan kemampuan militer AS dalam mencapai tujuan strategisnya di kawasan Asia Barat. Analisis tersebut menyebut sumber daya militer dan diplomatik Washington di kawasan berada di bawah tekanan meningkat akibat serangan beruntun terhadap target Israel dan kepentingan AS.
Di sisi lain, laporan dari Military Watch Magazine menyebut sistem pertahanan udara yang ada saat ini dinilai kesulitan mencegat rudal hipersonik Fattah-2 milik Iran, yang disebut hampir mustahil untuk diintersepsi dengan teknologi yang tersedia saat ini.






