Pantesan selama ini RA duitnya ga habis-habis.. Bahkan publik memberi julukan si raja Sultan, ternyata oh ternyata….

✍🏻Balqis Humaira

“Raffi Ahmad itu mungkin gak pernah cuci uang, tapi yang paling jelas dia nyuci perasaan lo biar gak curiga sama adegan gelap negara.”

Nah.
Masalahnya tuh bukan soal uang.
Bukan soal rekening.
Bukan soal audit.

Masalahnya itu perasaan publik.

Negara hari ini tuh pinter banget. Dia udah gak doyan mukul kepala pake pentungan doang. Sekarang pake senyum. Pake selebritas. Pake orang yang bikin lo ngerasa “ah masa sih”.

Dan di posisi itu, Raffi Ahmad itu sempurna. Terlalu sempurna malah.

Coba jujur.
Lo marah sama pejabat, iya.
Lo kesel sama pengusaha tambang, iya.
Tapi begitu ada Raffi di frame, otak lo langsung melembek dikit.

“Ah masa iya sih…”
“Kayaknya baik deh orangnya…”
“Paling cuma kerja profesional…”

Nah. Di situlah kerjaannya jalan.

Sekarang kita bahas Haji Isam.
Pengusaha gede. Tambang. Alat berat. Konsesi. Izin.
Kalau nama ini berdiri sendirian, citranya keras. Bau konflik. Bau masalah.

Makanya dia butuh wajah lain.

Dan wajah itu bukan polisi.
Bukan pejabat.
Bukan jenderal.

Tapi selebritas.

Raffi itu bukan ditempel buat bisnis.
Dia ditempel buat psikologi publik.

Biar rakyat yang awam, yang gak baca dokumen, yang gak ngikutin konflik agraria, ngerasanya aman. Ngerasanya “oh ini bagian dari hiburan aja”.

Padahal di saat yang sama, Jhonlin Group lagi disorot warga Papua.
Demo. Teriakan. Tuduhan tanah adat dirampas.
Tapi suara itu tenggelam.

Kenapa tenggelam?

Karena kalah rame sama konten.

Gue kasih analogi paling warung ya.

Bayangin lo lagi ribut sama tukang parkir soal tarif. Suasana panas.
Terus tiba-tiba ada badut lewat, joget, bagi permen.
Anak-anak ketawa. Emak-emak senyum.
Ribut lo jadi keliatan “ganggu suasana”.

Lo salah gak? Enggak.
Tapi perasaan massa udah dialihin.

Itu yang Raffi lakuin. Bukan sebagai niat pribadi mungkin. Tapi sebagai fungsi sistem.

Makanya jangan salah fokus ke niat.
Fokus ke peran.

Raffi itu bukan orang jahat.
Tapi dia dipake di posisi yang bikin kejahatan keliatan normal.

Sekarang soal festival-festival. Batulicin Festival lah, UMKM lah, jalan sehat lah.
Kelihatannya apa? Baik. Merakyat. Dermawan.

Tapi sebenernya itu panggung kekuasaan.

Pamer massa.
Pamer logistik.
Pamer bahwa “gue punya wilayah, gue punya orang”.
Dan ketika Raffi berdiri di situ, efeknya gila.
Yang diliat publik bukan “ini wilayah tambang”.
Yang diliat publik: “wah Raffi disambut meriah”.
Trust lo ke Raffi pindah.
Pelan. Halus.
Lo gak sadar.
Ini bukan karangan gue. Ini kebaca jelas di dokumen analisis yang jadi sandaran narasi ini .

Dokumen itu bilang satu hal penting:
Raffi bukan money launderer.
Dia reputation launderer.
Bahasa warungnya:
Bukan nyuci duit.
Nyuci citra.
Uang kotor itu bau.
Tapi kalau ditempelin senyum, bau nya ketutup.

Dan yang paling bahaya:
Yang jadi tameng bukan aparat.
Tapi fans.
Fans itu benteng paling kuat negara hari ini.
Karena fans gak pake logika hukum.
Pake perasaan.
Begitu lo kritik, lo dibilang iri.
Lo dibilang nyari panggung.
Lo dibilang benci artis.
Padahal yang lo omongin itu struktur.
Ini teknik lama sebenernya. Cuma sekarang versinya lebih halus.

Dulu negara pake tentara.
Sekarang pake selebritas.
Dulu pake senjata.
Sekarang pake algoritma.
Dan Raffi itu algoritma berjalan.
Setiap kontennya nge-reset emosi publik.
Setiap senyumnya nurunin tensi kritik.
Makanya lucu kalau ada yang bilang,
“Emang Raffi salah apa?”
Ya gak salah apa-apa secara pidana.
Tapi dia dipake.
Dan negara tau betul:
Lebih gampang ngeredam rakyat pake orang yang mereka suka, daripada pake gas air mata.
Sekarang masuk ke Papua.
Warga teriak tanah adat.
Media nasional setengah-setengah.
Narasi yang muncul: “hambat investasi”, “ganggu pembangunan”.
Dan di saat yang sama, di timeline lo, muncul apa?

Konten keluarga.
Liburan.
Festival.
Giveaway.
Bukan kebetulan.
Ini pengalihan atensi.
Negara gak perlu nutup mulut warga Papua.
Cukup bikin Jakarta lupa.
Dan Raffi, sadar atau enggak, jadi alat itu.
Makanya gue bilang:
Dia nyuci perasaan lo.
Biar lo gak curiga.
Biar lo capek mikir.
Biar lo nganggep konflik itu “ribut doang”.
Sekarang soal jabatan.
Begitu Raffi masuk ke struktur negara, ini makin gawat.

Karena sekarang dia bukan cuma selebritas.
Dia wajah resmi kekuasaan.
Artinya apa?
Artinya kalau ada konflik bisnis temennya, citra negara ikut nempel.
Dan negara bakal mati-matian jaga citra itu.
Bukan karena peduli rakyat.
Tapi karena reputasi.
Negara hari ini takut satu hal:
Kelihatan jahat.
Bukan jadi jahat.

Makanya negara butuh figur kayak Raffi.
Yang bisa bikin wajah negara tetep ramah, walaupun isi perutnya busuk.
Sekarang gue tanya balik ke lo, pelan-pelan.
Kalau Raffi itu cuma artis biasa, kenapa dia selalu muncul di titik-titik strategis kekuasaan?
Kenapa selalu di panggung yang butuh legitimasi?
Kenapa selalu di momen citra?
Jawabannya satu:
Karena dia efektif.
Dan selama kita sibuk debat “Raffi baik apa enggak”, sistem ketawa.
Karena kita gak lagi bahas: – konflik agraria
– perampasan tanah adat
– izin tambang
– relasi modal dan negara
Kita kejebak debat moral personal.
Padahal ini bukan soal moral.
Ini soal arsitektur kekuasaan.
Gue tutup dengan kalimat sederhana.
Di negara ini, yang paling bahaya bukan orang jahat.
Tapi orang baik yang ditempatin di posisi buat nutupin kejahatan.
Dan selama wajah yang kita suka bikin kita berhenti curiga,
selama itu juga rakyat di Papua, di Kalimantan, di mana pun, bakal terus kalah sama senyum di layar HP.
Bukan karena mereka salah.
Tapi karena perasaan publik udah lebih dulu dicuci.

sumber: fb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *