Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan menggelar pertemuan tertutup dengan para petinggi industri pertahanan terbesar AS di Gedung Putih pada Jumat mendatang. Pertemuan ini disebut sebagai langkah darurat untuk mempercepat produksi senjata setelah serangan militer terhadap Iran menguras stok persenjataan strategis Negeri Paman Sam.
Sejumlah sumber yang mengetahui agenda tersebut menyebutkan kepada Reuters bahwa Pentagon kini berpacu dengan waktu untuk mengisi kembali gudang amunisi yang menipis. Operasi militer terbaru, termasuk serangan ke Iran, telah menghabiskan rudal jarak jauh dan sistem persenjataan canggih dalam jumlah besar.
Beberapa raksasa pertahanan yang masuk daftar undangan antara lain Lockheed Martin dan RTX Corporation, induk perusahaan Raytheon. Diskusi ini dikabarkan bersifat sangat sensitif karena menyangkut strategi keamanan nasional dan kesiapan tempur AS di tengah ketegangan geopolitik global.
Melalui media sosial, Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika memiliki pasokan amunisi yang “nyaris tak terbatas” dan mampu mempertahankan perang dalam jangka panjang. Namun di balik pernyataan tersebut, fakta di lapangan menunjukkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kapasitas produksi militer.
Serangan terhadap Iran dilaporkan melibatkan rudal jelajah Tomahawk, jet tempur siluman F-35, serta drone serang sekali pakai. Penggunaan besar-besaran alutsista ini menciptakan tekanan signifikan pada cadangan strategis AS, bahkan disebut melebihi pengiriman bantuan senjata ke Ukraina sejak 2022.
Sebagai respons, Wakil Menteri Pertahanan Steve Feinberg tengah merancang tambahan anggaran sekitar US$50 miliar untuk mengganti persenjataan yang telah digunakan. Sementara itu, Raytheon berkomitmen meningkatkan produksi rudal Tomahawk hingga 1.000 unit per tahun lonjakan drastis dibanding rencana pembelian awal Pentagon yang hanya 57 unit pada 2026.
Di sisi lain, Trump juga memperketat pengawasan terhadap kontraktor pertahanan melalui perintah eksekutif yang menargetkan perusahaan berkinerja buruk. Pentagon bahkan bersiap merilis daftar hitam kontraktor yang dinilai gagal memenuhi standar produksi.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa eskalasi konflik dengan Iran bukan hanya berdampak pada geopolitik global, tetapi juga mengguncang industri pertahanan Amerika Serikat dari dalam.







Trumpet Dajjal & setan yahu cepat lah modyar
insyaallah dunia damai