Pandji dan Kemuakkan Kelas Menengah

Pandji dan Kemuakkan Kelas Menengah

✍🏻Markijok

“Indonesia hanya berubah kalau itu dimulai dari kita sendiri, kita tidak mungkin menggantungkan pada pemerintah. Kita hanya bisa berharap pada diri sendiri, kita mau berharap pada siapa? polisi kita membunuh, tentara kita berpolitik, presiden kita mau maafkan koruptor, wakil presiden kita….Gibran!”

Begitu kira-kira closing statement Pandji Pragiwaksono dalam Mens Rea. Seingat saya Pandji bikin podcast awalnya Mens Rea itu setelah Pilpres 2024. Sebuah kanal yang dia buat untuk menyalurkan daya kritisnya. Mengundang semua mantan kandidat di Pilpres 2024. Kemudian berkembang menjadi satu tontonan di dalam gedung yang dikemas dalam stand up komedi.

Pandji adalah seorang komedian stand up yang pernah terjun menjadi relawan politik, 2014 dia menjadi influencer Jokowi. 2019 dia absent, dia memilih menjadi influencer Anies Baswedan di Pilgub DKI ketika melawan Ahok. Disini Pandji pernah kontroversi. Tahun 2024 dia menjadi influencer juga dipasangan Anies-Muhaimin. Tetapi Pandji segera bisa kembali ke dunia hiburan dan tetap menjadi magnet dengan membuat kanal Mens Rea.

Setelah Pilpres Pandji menjadi bagian suara yang kritis. Dia adalah komika, sebutan seorang komedian stand up. Dia termasuk yang senior bersama Indro warkop membuat chanel SUCI alias Stand Up Comedy Indonesia. Ini adalah komedi yang bergantung pada pengetahuan dan keterampilan orang per orang. Trend komedian single ini mengikuti arus besar komedi terutama dari Amerika. Dulu dibawakan oleh MC kondang untuk menghibur penonton, kemudian berkembang menjadi tontonan sendiri dengan istilah open mic.

Tren ini pernah menjadi tontontan dan Kompas TV memulai dengan kompetisi yang digagas Pandji. Pandji layaknya adalah seniman komedian yang kreatif. Karirnya semula adalah penyiar Radio Hard Rock, kemudian perlahan merambah TV, acaranya Kena Deh, waktu itu cukup populer karena mengerjain orang yang kemudian diakhiri ungkapan “kena deh!”. Pendidikannya dari ITB (Fakultas Seni Rupa dan Desain).

Dari karir dan latar belakang maka kesimpulan dia orang kreatif yang terdidik membuat dia punya “massa” sendiri. Dia ngocol dan perbendaharaan materinya kaya, sehingga improvement di atas panggung bisa menghanyutkan penonton dan mengundang tawa.

Disitulah kunci kehebatan seorang komedian. Pandji mengiklankan acara stand up Mens Rea sudah cukup lama, dia beredar di beberapa kota besar. Harga tiketnya antara 1 jutaan sampai 4 jutaan. Gilanya Sold Out! Mens Rea yang tayang di Netflix itu adalah yang diselenggarakan di Jakarta (Agustus 2025). Ribuan kursi terisi dan Pandji mendapatkan momentum politik sehingga dia bisa membuat gacor para penontonnya.

Saya melihat tayang di Netflix ketika awal diupload Netflix di akhir tahun 2025. Awalnya saya merasa terhibur dan merasa bahwa tontonan Pandji ini akan banyak yang suka. Bukan apa-apa bahan komedinya istilah anak sekarang “kena banget”. Deretan penontonnya Pandji ini adalah kelas menengah. Mereka pasti juga well educated. Karena menonton stand up seperti ini perlu koneksi pikiran yang cepat sehingga kita bisa ikut tertawa, bahkan ketika seorang komika menyisipkan simbol simbol, kita paham arahnya simbol itu kemana dan kepada siapa.

Stand up kita bisa melahirkan film kayak “Agak Laen” yang dilahirkan oleh Ernest Prakarsa, atau film Ari Kriting. Mereka adalah beberapa komika yang memang cerdas dan merambah dunia hiburan lainnya. Para komika ini beberapa dulu digunakan sebagai influencer oleh calon-calon Pilpres 2024. Sampai hari ini pun mereka adalah penyambung lidah kritis yang menjadi representasi generasi hari ini dan kelas menengah. Kita tahu ada Bintang Emon, Ari Kriting dan beberapa komika bahkan menjadi orator dalam demonstrasi menyikapi kebijakan pemerintah.

Komika seperti juga warga negara yang lain, mereka punya hak bersuara, bahkan mereka ini menjadi barisan yang cukup penting karena mereka punya fans atau massa. Komedi-komedi yang mengkritik atau tepian jurang istilahnya justru disukai oleh kelas menengah dan generasi sekarang. Gaya mengkritiknya khas, mereka memakai materi yang dibumbui dengan gaya umpatan anak sekarang yang memang juga sudah berubah. Dulu kita mengumpat ‘anjing’ saja itu sudah merasa berdosa seumur hidup. Tetapi anak sekarang mengumpat “anjir, “njing”, konto*” dll itu kalau kita mendapati perbincangan itu seperti tanpa dosa dan “plain” saja. Saya kira gejala seperti ini mereka ahli bahasa dan psikolog bisa mempelajari, perubahan percakapan verbal anak muda sekarang menujukkan ada lapisan kekecewaan, ketidaksetujuan, protes dan juga kemuakan itu dalam umpatan-umpatan yang dulu dianggap tabu, sekarang menjadi terbuka dan “plain” (biasa).

Ketika melihat Mens Rea, Pandji menggunakan umpatan yang persis saya demgar ketika anak sekarang bercakap, umpatan yang dulu kita anggap kasar, sekarang anak-anak muda kita biasa untuk justru menunjukkan itu sebagai satu kedekatan dan sapaan buat kawan atau peer groupnya. Sebenarnya Pandji tidak ada sesuatu yang baru. Dia hanya menjelaskan hal yang selama ini orang dengar tapi tak paham. Misal apa yang disebut pencucian uang, bagaimana cara mencuci dan itu dilakukan oleh orang yang ditengarai sekarang jadi pejabat negara utusan khusus Raffi Ahmad. Atau Pandji menjelaskan perwira tinggi kepolisian Teddy Minahasa atau Sambo yang sangat jauh dari bayangan itu dilakukan oleh perwira tinggi polisi. Atau dia mengungkapkan tentang tambang yang diperoleh ormas keagamaan karena digunakan sebagai alat penambang suara dalam pilpres, kemudian imbal baliknya diberi konsesi tambang.

Tak ada yang luar biasa sebenarnya dari Pandji. Tetapi momentumlah yang membuatnya dibicarakan dan kontroversial. Momentum ini berupa krisis kepercayaan warga pada pemerintah juga elit-elit politik termasuk juga aparaturnya seperti polisi dan tentara. Pilpres 2024 sudah selesai, tetapi residu tentang kecurangan, tentang rekayasa itu masih ada dan terus akan menggelayuti perjalanan pemerintahan Prabowo-Gibran. Itu akan terus jadi bahan candaan, kritik, materi stand up dan lainnya. Pandji melakukan stand up itu jelas sebelum bencana Sumatera. Karena sejak bencana Sumatera itulah krisis kepercayaan pada pemerintah makin naik.

Efek obral konsesi tanah yang mengakibatkan perubahan ekologi, dimana sawit dan tambang telah membuat bencana mengakibatkan rakyat semakin paham, bahwa bencana itu bukan murni alam tetapi karena kebijakan. Penolakan pemerintah untuk menyatakan Bencana Nasional juga menjadi titik balik, ketika rakyat tidak mempunyai kemampuan solidaritas setinggi bencana alam dahsyat sebelumnya seperti tsunami Aceh, gempa jogja dll itu dikarenakan kelas menengahnya sedang anjlok karena kebijakan ekonomi yang menggerus jumlah kelas menengah. Apalagi ekonomi komando dilakukan hanya untuk melakukan distribusi ekonomi golongannya, sementara pasar dan swasta semakin mengecil. Hal terbaik dalam ekonomi yang sudah terlanjur liberal adalah menyerahkan pada mekanisme pasar dimana negara mengurangi peran pengatur dan tugasnya adalah menegakkan hukum bagi para pemain yang tidak fair.

Di tengah itu semua, resentralisasi politik juga mengarah pada otoritarianisme baru. Suara rakyat untuk memilih kepala daerah akan diganti melalui DPR, DPRD. Pilihan langsung yang pernah melahirkan pemimpin lokal maupun nasional hendak dirubah menjadi pilihan perwakilan. Hak rakyat disalahkan karena dianggap boros, tidak efisien, padahal yang punya keinginan membeli suara itu ya partai politik dan calon pemimpinnya. Rakyat hanya menerima ketika mereka melakukannya. Sekarang rakyat yang disalahkan. Mereka yang boros sendiri, hak pilihan langsung rakyat yang mereka ambil.

Mau berharap pada penegakan hukum, aparat kita terutama polisi bobrok, makanya kemudian presiden meminta untuk direformasi. Sedangkan tentara kita memang sedang pelan tapi pasti meninggalkan profesionalitasnya, ikut mengurus dapur MBG, ikut mengurus koperasi desa merah putih, ikut mengurus pertanian dll. Ada banyak hal di negeri ini yang membuat rakyatnya hilang kepercayaan. Anak muda kritis ditangkapi. Akademisinya sibuk dengan pangkat dan jabatan dan menjilat pemerintahan. Sehingga suara ilmiah dari kampus sekarang digantikan oleh komika yang kritis dan apa adanya.

Jadi apa salahnya Pandji? Dia hanya kanal dari kemuakkan dan ketidakpercayaan kelas memengah terutama kepada perilaku yang menyimpang dari aturan bernegara yang disepakati bersama. Kalau kritik dibungkam, kita kembali diingatkan sajak Wiji Tukul yang selalu akan menjadi penanda bahwa otoritarianisme sedang di depan mata.

Peringatan (Wiji Tukul):
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang,
suara dibungkam,
kritik dilarang tanpa alasan,
dituduh subversif dan mengganggu keamanan,
maka hanya ada satu kata: lawan!

Komentar