PANDJI = BAHLUL ?
KRITIK GILA UNTUK ORANG WARAS
Oleh: Ustadz Dr. Hepi Andi Hapsori (Pusat Kajian Sirah)
Belakangan nama Pandji Pragiwaksono ramai diperbincangkan. Ini menyusul adanya kritik pedas kepada Pemerintah yang dilancarkan Pandji melalui Stand Up Comedy bertajuk Mens Rea yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta, beberapa pekan lalu.
Nah, apa hubungannya dengan Bahlul? Bukan Bahlil ya!
Nama Bahlul hari ini sering dipahami sebagai simbol kebodohan atau kelakuan konyol. Namun, jika kita menelusuri akar kata, kisah kemunculannya, dan figur yang hidup dalam bentangan sejarah, kita akan menemukan bahwa makna “Bahlul” justru berangkat dari kecerdasan, kritik moral, dan strategi menyelamatkan diri.
DARI MANA ASAL KATA “BAHLUL”?
Secara bahasa, bahlul (بَهْلُول) atau ada yang mengejanya dengan Buhlul, bukanlah kata celaan murni. Kamus-kamus Arab klasik menjelaskan bahwa kata ini merujuk kepada seseorang yang kelihatan bodoh, jenaka, atau nyeleneh, tetapi sejatinya berakal cerdas.
Ibnu Manzhur, misalnya, dalam Lisanun Arab menjelaskan bahwa bahlul adalah: “seseorang yang cerdas dan berakal, namun menampakkan diri seperti orang bodoh.”
Makna yang sama ditegaskan oleh al-Fairuzabadi seorang ahli bahasa dari Persia dalam al-Qamus al-Muhith, bahwa bahlul adalah sosok yang pintar, jenaka, dan berpura-pura gila demi maksud tertentu (al-Qamus al-Muhith, hlm. ±1345).
Dari sini terlihat jelas: “Bahlul” sejak awal bukan sinonim kebodohan, tetapi kecerdikan yang disamarkan.
BAHLUL DALAM SEJARAH: ANTARA FAKTA DAN SASTRA
Dalam literatur sejarah, memang pernah ada orang yang dikenal dengan Bahlul, sering disebut Bahlul ibn ‘Amr, yang hidup pada masa kekhalifahan Abbasiyah awal. la kerap digambarkan berkeliaran di jalanan Baghdad dengan perilaku aneh, berbicara seperti orang gila, namun ucapannya sarat hikmah.
Tokoh ini banyak muncul dalam karya Ibnu al-Jauzi Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin (Hikayat Orang-orang Dungu dan Pelupa). Dalam kitab tersebut, Ibnu al-Jauzi secara sadar mengumpulkan kisah-kisah orang yang tampak bodoh, tetapi sebagian dari mereka sejatinya adalah orang berakal yang sengaja menyembunyikan kecerdasannya.
Tentang Bahlul, Ibnu al-Jauzi menempatkannya dalam kategori ini, dan mengisahkan dialog-dialognya yang tajam, penuh sindiran, dan sering kali menyentil penguasa.
BAHLUL DAN ISTANA ABBASIYAH
Banyak kisah menempatkan Bahlul hidup di Baghdad pada masa Harun ar-Rasyid, salah satu khalifah Abbasiyah paling masyhur. Dalam cerita-cerita itu, Bahlul bukanlah ulama istana, bukan pula pejabat, melainkan figur luar sistem—orang yang bebas berbicara karena dianggap “tidak waras”.
Dalam beberapa kisah, ia menegur Harun ar-Rasyid tentang kefanaan dunia, menertawakan istana megah sebagai “rumah sementara”, dan mengingatkan bahwa kekuasaan tidak akan menyelamatkan seseorang di akhirat. Teguran-teguran semacam ini mustahil disampaikan secara langsung oleh pejabat atau ulama istana tanpa risiko, tetapi aman diucapkan oleh seseorang yang dicap “majnun” (gila).
Abu Hayyan at-Tauhidi dalam al-lmta’ wal Muannasah menyebut fenomena ini sebagai bagian dari tradisi zuhhad mutamajjinin: para zahid yang tampil aneh untuk menjaga jarak dari kekuasaan.
ANTARA RIWAYAT SEJARAH DAN KISAH ADAB
Di sinilah sikap ilmiah perlu ditegakkan. Tidak semua kisah Bahlul adalah riwayat sejarah yang bersanad ketat. Sebagian besar bersifat adabiyyah—kisah sastra dan hikmah—yang ditulis untuk pelajaran moral, bukan penetapan hukum.
Ibnu al-Jauzi sendiri tidak mengklaim bahwa semua kisah dalam Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin adalah fakta historis yang pernah ada. la mengumpulkannya untuk menunjukkan bahwa: “Tidak setiap orang yang tampak bodoh itu benar-benar bodoh.”
Karena itu, para ulama menempatkan kisah Bahlul sebagai cermin kritik sosial dan moral, bukan sebagai dalil syariat.
MENGAPA “BAHLUL” BERMAKNA NEGATIF DI INDONESIA?
Lalu mengapa ketika di Indonesia kini, makna “Bahlul” kesannya negatif. Kata ‘Bahlul’ di Indonesia lahir dari pemutusan konteks sejarah dan bahasa. Yang tersisa hanyalah lapisan luarnya: tampilan aneh dan lucu. Sementara lapisan terdalamnya —kecerdasan, keberanian moral, dan kritik terhadap kekuasaan—hilang.
Padahal, dalam tradisi Arab-Islam klasik, menyebut seseorang “Bahlul” justru bisa bermakna: cerdas, tetapi memilih selamat dengan berpura-pura bodoh.
APA HUBUNGANNYA DENGAN PANDJI?
Tentang kritik pedas yang dilancarkan ke penguasa. Bedanya, kalau Bahlul melalui kepura-puraannya seperti orang gila, sedangkan Pandji melalui kata-kata kocak, lucu dengan komikanya.
Pelajaran pentingnya: untuk menyampaikan kebenaran kadang tidak bisa dengan cara terang-terangan dan vulgar. Lewat sindiran lucu, atau bahkan pura-pura kurang waras, bisa jadi lebih aman.
(Sumber: IG)







Komentar