𝐒𝐞𝐬𝐚𝐭 𝐏𝐢𝐤𝐢𝐫 & 𝐊𝐞𝐛𝐨𝐝𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐏𝐄𝐍𝐃𝐀𝐊𝐔 𝐒𝐚𝐥𝐚𝐟𝐢𝐲𝐲
Oleh: Arsyad Syharial
Membaca postingan oknum PENDAKU Salafiyy ini saya langsung tertawa sakit perut…
Bagaimana tidak…?
Perkataan dari seorang àlim, Imām al-Ḥasan ibn Àliyy al-Barbahāriyy al-Ḥanbaliyy رحمه اللـه تعالى, dijadikannya sebagai “parameter mutlak” untuk menentukan seorang termasuk “ahlus-sunnah” atau “ahlul-bidàh”.
Padahal, perkataan Imām al-Barbahāriyy رحمه اللـه تعالى itu BUKAN dalìl, dan ia bisa jadi benar kalau yang didoakan keburukan itu adalah penguasa yang ṣōliḥ, àdil & cakap. Logikanya, yang mendoakan keburukan bagi penguasa yang demikian jelas adalah pengikut hawa nafsu.
Akan tetapi kalau yang didoakan keburukan itu adalah penguasa yang buruk dan lalim, maka tentunya tak begitu ceritanya. Sesat itu namanya…!
Buktinya di dalam al-Qur-ān surah Yūnus (10) ayat ke-89, Allōh ﷻ mengabadikan doa Nabiyy Mūsā عليه السلام yang mendoakan keburukan bagi Firàun, di mana itu malah menjadi satu-satunya doa bagi penguasa yang diabadikan di dalam al-Qur-ān.
Lucunya lagi, biasanya kalau dibawakan QS Yūnus ayat 89 tersebut, maka jawaban klise dari para PENDAKU Salafiyy penganut àqīdah Neo Murji-ah itu adalah: “Jadi anda samakan pemimpin Muslim yang ẓōlim dengan Firàun?”.
Maka jelas itu membuktikan kebodohan mereka, sebab Baginda Nabī ﷺ malah mendoakan keburukan bagi siapapun yang diberikan kekuasaan atas ummat Islām lalu ia berbuat ẓōlim terhadap mereka:
ٱللَّـهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَٱشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَٱرْفُقْ بِهِ
“Wahai Allōh, siapa saja yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku, lalu ia mempersulit urusan mereka, maka persulitlah ia. Siapa saja yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku, lalu ia berusaha membersamai mereka, maka bersamai pulalah ia.” [HR Muslim no 1828; Aḥmad no 23481, 25003, 25015].
Bahkan mendoakan keburukan terhadap orang yang menẓōlimi itu adalah HAK bagi orang yang diẓōliminya itu sebagaimana dinyatakan pada QS an-Nisā’ (4) ayat 148.
Berdasarkan nash tersebut maka para Salafuṣ-Ṣōlih tak pernah ragu untuk mendoakan keburukan bagi penguasa yang lalim sekalipun oknum penguasa tersebut adalah seorang Muslim yang masih ṣolāt, dan ḥukum yang ia berkhidmat padanya adalah Ṡarīàh (al-Qur-ān dan as-Sunnah).
Silakan baca di sini siapa-siapa saja Salafuṣ-Ṣōlih dan ùlamā’ yang mendoakan keburukan bagi penguasa Muslim yang lalim – link: https://www.facebook.com/share/p/1LQcpXxros/
Lebih lanjut…
Kalaulah perkataan Imām al-Barbahāriyy رحمه اللـه تعالى tersebut dibawakan ke zaman now kepada:
- 1,8juta orang Muslim yang hidup di koloni pemukim illegal Yahūdiyy-Zionist (sekira 18% dari populasi), atau
- 4,4juta orang Muslim yang hidup di Amrik (sekira 1,3% dari populasi), atau
- 215juta orang Muslim yang hidup di India (sekira 14,5% dari populasi).
Maka kira-kira apakah masuk àqal kalau orang Muslim di koloni pemukim illegal Yahūdiyy-Zionist harus mendoakan kebaikan bagi Netanyahu, atau orang Muslim di Amrik harus mendoakan kebaikan bagi si bangsat Trump, atau orang Muslim di India harus mendoakan kebaikan bagi si Modiyaaar, agar mereka tetap diakui sebagai “Ahlus-Sunnah”…???
Well… orang yang cerdas dan memiliki àqal sehat serta hati nurani yang lurus pasti tahu jawaban yang benar itu bagaimana.
▪ IQ itu given, stupid itu pilihan.







Komentar