Omong Kosong Soal Tarif

Presiden Indonesia ke Washington D.C. untuk ikut KTT Perdana Board of Peace (BoP). Indonesia ikut sebagai penandatangan pertama BoP ini. Dan, tidak itu saja. Indonesia akan mengirim 8,000 “pasukan perdamaian” ke Gaza. Untuk tahap pertama, 1,000 pasukan akan dikirim April nanti.

Banyak orang mengernyitkan dahi ketika Indonesia dengan sangat antusias ikut BoP. Lembaga ini identik dengan Donald Trump. Dia menjadi ketuanya. Bahkan setelah dia tidak menjadi presiden. Hanya dia yang bisa menunjuk siapa yang bisa menggantikannya.

Megalomaniaknya Donald Trump, semua dari kita sudah tahu. Dia haus kuasa dan suka main ancam. Bahkan sekarang Amerika berantem dengan negara-negara sekutunya. Mulai dari tarif yang dikenakan Trump serampangan hingga ke soal militer.

Negara-negara Eropa dan sekutu-sekutu lainnya mulai jengah. Mereka akhirnya sadar bahwa Trump itu seorang perisak (bully) yang tidak boleh dikasih hati. Kalau Anda mengalah, itu artinya Anda lemah. Itu hukum Trump. Anda harus memperlihatkan Anda kuat.

Nah, mengapa Indonesia malah mendekat dan bahkan terkesan mau jadi ‘anak baik’ di depan Trump? Presiden kita, tahun lalu bahkan kelihatan memnfasilitasi bisnis keluarga Trump dengan mengatakan ingin bertemu atau menelpon Eric Trump. Atau, Don, Jr.

Kita terlihat sebagai pihak yang antusias sekali mendukung Trump. Sementara, Presiden kita kemarin-kemarin juga ikut China yang sekarang menjadi lawan Trump. Apakah ini politik ‘bebas dan aktif’? Tapi bukankah bebas aktif itu berarti mandiri dan menjadi pemimpin dari negara-negara bekas jajahan yang ingin memperoleh kekuatan internasional tanpa harus memihak yang adidaya (the great powers)?

Argumen yang selalu kita dengar dari Presiden dan orang-orangnya adalah kita melakukannya demi tarif! Trump mengenakan tarif 19% untuk barang-barang Indonesia yang masuk ke AS. Sementara Indonesia harus mengenakan tarif 0% untuk barang-barang AS ke Indonesia.

Indonesia juga dipaksa mengimpor banyak komoditi dari AS seperti jagung, kedele, kapas, mesin-mesin, dan lain sebagainya. Sebagian dari komoditi itu dulunya diserap China. Namun kini karena ada perang dagang, China berhenti membeli dari AS. Indonesialah yang kemudian menjadi pasar AS. Dan, masuk tanpa tarif alias tanpa bea masuk!

Nah. Presiden kita ke Washington D.C. untuk ikut KTT BoP yang dihadiri oleh negara-negara kecil dan sebagian besar non-demokratik. Harian Financial Times menyebutnya, “a fledging club of autocrats.”

Dan tarif? Indonesia tetap kena 19%! Jadi apa hasil ke Washington? Nada. Nol. Tidak ada. Kabarnya ada $38 milyar dollar investasi AS di Indonesia. Dan, kontrak karya Freeport diperpanjang sampai 2041. Indonesia akan membeli 12% saham Freeport. Jadi nanti kepemilikan Indonesia akan menjadi 63%!

Senang karena Freeport jadi “milik” Indonesia? Eitss, nanti dulu. Bagaimana dengan ‘management fees’? Bagaimana dengan sewa peralatan? Kerusakan lingkungan yang tanggung siapa? Pemilik PT Freeport, kan? Dan, itu artinya: NKRI! Freeport McMoran tahu persis bahwa dengan kepemilikan Indonesia, mereka tidak dapat lagi dituntut untuk soal pencemaran lingkungan.

Ini kita belum bicara soal BoP. Ide Trump adalah membuat Gaza menjadi Riviera, tempat indah, penuh hiburan. Nanti rakyat Gaza akan dapat kerja, katanya. Ide bahwa modal bisa menyelesaikan segalanya. Bahwa menjadi tukang pel atau tukang ganti sprei bisa cukup buat makan. Dan para pemodal itu — bisa diduga itu adalah Trump dan keluarganya — merasa berjasa!

Dan, kita? Baiklah. Kita lupakan sejenak BoP, dimana negara-negara waras (termasuk Vatikan) menolak untuk ikut berpartisipasi. Mengapa kita begitu tunduk pada Trump?

Apa yang kita dapat? Sejauh ini, nggak ada! Nada. Nol. Kosong! Yang mengherankan untuk saya, presiden yang berapi-api kalau berpidato, yang selalu memproyeksikan ketegasan dan keberanian, yang selalu mengatakan “Indonesia negara besar tapi tetap miskin karena ditipu dan dirampok negara asing,” mengapa menjadi ayam sayur ketika berhadapan dengan Trump?

Kemarin saya mendengar Presiden Prabowo menceramahi para birokrat yang dia kumpulkan dekat rumahnya. “Kalau Indonesia diserang, tidak akan ada yang membela!” Mengapa imajinasinya Indonesia diserang? Itu imajinasi ketakutan bukan? Belum lagi kalau kita mempertanyakan, siapa yang akan menyerang Indonesia kalau kita tidak agresif? AS? China?

“Indonesia negara besar tapi tetap miskin karena ditipu dan dirampok negara asing.” Tiba-tiba saya sadar. Kita sedang merampok diri kita sendiri. Dan, kita pun sedang menipu diri kita sendiri. Itulah sebabnya kita tetap miskin!

(Made Supriatma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar