Hampir saja dunia bernapas lega. Setelah berminggu-minggu ketegangan memuncak, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sementara dua minggu dengan Iran pada awal April 2026. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan itu seolah menjadi titik terang di tengah badai perang yang melibatkan serangan langsung AS-Israel ke Iran. Selat Hormuz yang sempat ditutup Iran mulai dibuka kembali, negosiasi lanjutan di Islamabad direncanakan, dan kedua pihak sama-sama mengklaim “kemenangan”. Trump bahkan terdengar optimis: damai permanen bisa tercapai.
Tapi, baru hitungan jam setelah pengumuman itu, Israel langsung berulah. Puluhan, bahkan ratusan serangan udara menghujani Lebanon. Beirut dan wilayah selatan Lebanon dibombardir habis-habisan. Korban tewas dilaporkan mencapai lebih dari 250 orang dalam satu hari saja—salah satu serangan terberat sejak konflik ini meletus. Rumah warga sipil, infrastruktur, dan posisi Hizbullah menjadi sasaran. Darah kembali mengalir, jerit tangis anak-anak Lebanon pecah, sementara harapan damai yang baru tumbuh langsung pupus.
Iran langsung marah besar. Mereka menuduh ini pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata. Menurut Iran dan Pakistan sebagai mediator, ceasefire itu seharusnya berlaku “di mana-mana, termasuk Lebanon”. Serangan ke sekutu mereka, Hizbullah, dianggap sebagai agresi yang merusak seluruh proses damai. Iran sempat menutup lagi Selat Hormuz dan mengancam mundur dari meja perundingan. Bagi Teheran, bagaimana mungkin bicara damai kalau Israel terus membantai di pintu belakang?
Sementara itu, Trump dan Netanyahu kompak bilang: “Lebanon tidak termasuk dalam deal.” Trump menyebutnya “separate skirmish” alias konflik terpisah karena melibatkan Hizbullah. Bahkan Trump mengaku sudah telepon Netanyahu dan minta Israel “lebih low-key” supaya tidak mengganggu proses dengan Iran. Tapi nyatanya? Serangan justru makin gencar. Netanyahu tetap ngotot operasi pelucutan senjata Hizbullah harus berlanjut, seolah-olah kesepakatan damai besar-besaran dengan Iran hanyalah angin lalu.
Ini bukan pertama kalinya Israel bertindak seenaknya. Sejak lama, sikap Israel sering kali menjadi batu sandungan utama setiap kali ada upaya perdamaian di Timur Tengah. Mereka seolah punya hak veto atas segala bentuk kesepakatan, meski itu melibatkan Amerika Serikat sendiri. Trump yang baru saja berhasil meraih titik terang dengan Iran, langsung dihadapkan pada kenyataan pahit: sekutunya sendiri justru merusak momentum itu dengan agresi tanpa henti.
Akibatnya, situasi kembali rapuh. Ekonomi global gelisah karena ancaman penutupan Selat Hormuz yang bisa bikin harga minyak melambung. Rakyat Lebanon yang sudah menderita bertahun-tahun harus menanggung bom lagi. Iran yang sempat mau duduk di meja perundingan kini merasa dikhianati. Dan dunia hanya bisa geleng-geleng kepala: kenapa satu pihak yang begitu kecil jumlahnya tapi begitu besar nafsu agresinya selalu berhasil menggagalkan harapan damai jutaan orang?
Israel memang sering mengklaim “hak membela diri”. Tapi ketika gencatan senjata hampir sukses, lalu mereka malah memperluas serangan ke negara tetangga, sulit disebut pertahanan diri. Ini lebih mirip pamer kekuatan dan keengganan untuk hidup berdampingan secara damai. Sikap “saya mau terus perang” ini bukan hanya merugikan musuh-musuhnya, tapi juga sekutunya sendiri—termasuk Trump yang sedang berusaha menunjukkan kepemimpinan damai.
Kalau Israel benar-benar ingin perdamaian, seharusnya mereka ikut menahan diri, bukan malah jadi biang kerok yang membuat kesepakatan nyaris sukses itu kembali tergantung di ujung tanduk. Dunia sudah lelah melihat pola yang sama berulang: ada harapan damai, Israel berulah, lalu semuanya hancur lagi.







negri orang2 biadab ya isra hell
Kata si gembul harus dijamin keamanannya 😇
ZIONIST 🐷🐷🐷 > LAKNATULLOH
BIADAB NYA KAUM PENGHUNI NERAKA JAHANAM
Sudah menjadi takdir Bani Isroil untuk menjadi kaum perusak dan sudah jadi takdir mereka juga untuk tidak bisa hidup tenang dan harus dibinasakan.
Sudah sifatnya kalau zionist Jahudi itu mengingkari kesepakatan atau janji.
(QS. Al-Baqarah: 100) dan QS. Al-Maidah: 13)