Noel Kembali ke Titik Nol

Immanuel Ebenezer alias Noel benar-benar apes. Di-OTT KPK bersama katakanlah 10 orang anak buahnya. Ikan teri, ianya ikan tongkol.

Anak buahnya tak loyal. Enteng saja menyebut dirinya terlibat dan KPK enteng pula menangkapnya. Mudah, tanpa beban, dan tanpa penghalang.

Bandingkan dengan OTT KPK di Sumatera Utara. Stop hanya pada yang di-OTT saja. Anak buahnya, yang notabene Kepala Dinas, tak mau menyeret atasannya (Gubernur Sumut Bobby menantu Jokowi).

Kalaupun diseret, belum tentu juga KPK serta merta berani menyeretnya. KPK dipuji hanya karena ada Noel di OTT kemarin itu.

Immanuel Ebenezer alias Noel berada ditempat yang salah. Pemerasan yang digulung OTT KPK itu sudah berlangsung sejak 2019 era Jokowi. Noel-lah yang seharusnya melibas praktik pemerasan itu.

Tapi istilah Presiden Prabowo, Noel tipe pemimpin yang imannya lemah. Yang kuat cuma mulutnya saja. Kata-katanya.

Kalau anak buah Gue pesta pora, kenapa Gue sebagai atasan tak ikut menikmati. Begitulah.

Tapi Noel lupa, ia pendatang baru. Anak buahnya sudah terlatih dan tahu konsekuensi yang akan ditanggungnya. Noel menangis bombay, anak buahnya malah santai.

Amnesti?

Keliru Immanuel Ebenezer alias Noel meneriakkan amnesti kepada Presiden Prabowo. Bikin malu saja.

Tidak saja kepada Presiden Prabowo, tapi juga pada keaktivisan yang kerap dibanggakannya. Cemen betul. Ditangkap nangis, lalu meneriakkan amnesti pula. Jauh sekali dari profil seorang Noel yang dikenal selama ini.

Tegas, keras, tajam, berani, seperti tak ada urat takut dalam dirinya. Noel tidak sedang dijebak, tapi terjebak sendiri. Tidak sedang masuk perangkap, tapi secara sadar terjun ke dalam perangkap itu. Sungguh disayangkan.

Immanuel Ebenezer alias Noel terlihat sekali tak bisa menenangkan dirinya. Ini terlihat saat penangkapan KPK ini; saat posisinya di bawah. Karakter aslinya langsung keluar.

Berarti, ia meledak-ledak selama ini hanya karena ia kurang tenang saja, bukan karena ia tahu apa yang harus dilakukannya.

Menjadi wajar Noel pernah menghantam Prabowo, karena ada bersama Jokowi. Lalu tiba-tiba pindah ke Ganjar dan balik lagi ke Prabowo, karena Jokowi bersama Prabowo. Baru akan balik menghatam Jokowi pula, ia langsung di-OTT KPK.

Sudah benar Immanuel Ebenezer lari dari Jokowi dan mulai merapat ke Prabowo. Karena Presidennya sudah bukan Jokowi, melainkan Prabowo.

Tapi Prabowo tak akan melindungi tindakan koruptif, sekalipun itu anak buahnya sendiri. Dan ini sudah berkali-kali diungkapkan Prabowo, bahkan dipidato kenegaraan tahunan di MPR.

Noel agaknya kurang menjaga itu. Petantang-petenteng tak karuan. Giliran di-OTT KPK Jokowi mengatakan hormati proses hukum, Prabowo menyatakan prihatin lewat Mensesneg Prasetyo Hadi. Noel menangisi nasibnya.

Mustahil Immanuel Ebenezer alias Noel tak tahu arti amnesti yang dimintanya kepada Presiden Prabowo.

Artinya, ia sudah mengaku bersalah. Ia hanya minta pengampunan dari Presiden. Tapi Noel lupa, ini bukan kasus politik atau beraroma politik. Ini kasus korupsi. Tangkap tangan pula.

Tapi kenapa Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP bisa? Noel bukan Hasto dan kasus Hasto sudah pernah disidang 5 tahun lalu dan nama Hasto tak ada atau sengaja ditiadakan ketika itu.

Itu permainan hukum dan politik yang jorok. Prabowo ingin menutupnya merapat-rapat.

Seharusnya, Immanuel Ebenezer alias Noel berjuang dulu sampai titik darah penghabisan. Jangan minta amnesti dulu yang menandakan ia bersalah.

Kalau perlu serang dulu KPK seperti layaknya koruptor ditangkap dan pura-pura tak tahu apa-apa. Dijebak-lah, tebang pilih-lah dan lain-lain. Banyak sekali yang bisa untuk dibandingkan.

Banyak yang besar-besar tapi seperti dibiarkan. Atau sekalian saja jadi justice collaborator. Tapi agaknya Noel tak sejeli itu. Ia tak tahu permainan juga agaknya. Hanya bisa ngomong saja, tak tahu peta yang sebenarnya. Iman lemah pula.

Presiden Prabowo sudah mengeluarkan surat pemberhentian Immanuel Ebenezer. Amnesti yang diminta, surat pemberhentian yang tiba.

Noel kembali ke titik nol. Ia pasti bisa melalui, karena pernah berada di titik nol itu. Mustahil Noel tak memiliki sesuatu yang bisa dinarasikan dari dalam tahanan.

Belajar dari Hasto Kristiyanto, pertahanan yang baik itu justru menyerang, bukan bertahan. Pihak mana yang akan diserang Noel, belum terlihat jelas?

Noel harus mengumpulkan kembali informasi, hingga penangkapannya, sebelum merangkai narasi baru seperti tersangka koruptor lain pada umumnya.

(Oleh: Erizal)

Komentar