NEGERI EDAN

NEGERI EDAN

✍🏻Ruly Achdiat Santabrata

Paparan Pandji menunjukkan yang ia katakan di shownya adalah legit.

Dalam tweet di screenshot pertama, Prabowo secara tidak langsung mengakui keterlibatannya dengan menggunakan istilah “mengamankan” (bukan “menculik”), dan menyatakan bahwa semua yang diamankan telah dilepaskan – sebuah klaim yang bertentangan dengan fakta bahwa 13 orang masih hilang.

Kalau kita ke tweet di screenshot kedua, ini terjadi di tahun 2013, masa awal Prabowo aktif di media sosial, menjelang ia semakin serius di politik (calon presiden 2014).

  • Prabowo konsisten menggunakan istilah “diamankan” (bukan “diculik” atau “dihilangkan”), yang merupakan narasi pembelaan: operasi itu untuk keamanan negara, bukan pelanggaran HAM.
  • Ia tidak pernah secara eksplisit mengakui tanggung jawab atas 13 korban yang hilang (termasuk Wiji Thukul), malah sering menyiratkan bahwa itu di luar timnya atau ada pihak lain.
  • Dibandingkan dengan tweet 2014 sebelumnya (di mana ia bilang “saya pernah mengamankan beberapa orang namun semua saya lepaskan”), respons 2013 ini lebih defensif dan menghindari pengakuan langsung.

Dan statement ini:

“Tidak semua orang yang diamankan pada tahun 1998, adalah oleh tim saya”

menyiratkan adanya operasi yang lebih rumit dan melibatkan lebih dari satu tim (bukan hanya Tim Mawar Kopassus di bawah komandonya). Prabowo secara eksplisit membantah bahwa semua kasus “pengamanan” (eufemisme untuk penculikan) pada 1998 dilakukan oleh “tim saya”, yang mengindikasikan pengetahuan tentang pihak atau tim lain yang terlibat.

Namun, berdasarkan semua investigasi resmi dan dokumen historis hingga saat ini (Januari 2026), tidak ada bukti konkret yang mendukung adanya tim lain di luar Tim Mawar Kopassus yang bertanggung jawab atas penculikan aktivis pro-demokrasi 1997-1998.

Mengapa Prabowo Membuat Statement Seperti Ini?

  • Ini adalah strategi pembelaan klasik yang sering ia gunakan: Mengakui sebagian (timnya terlibat dalam beberapa kasus), tapi menyangkal yang terberat (13 korban hilang).
  • Menyiratkan ada “tim lain” bisa untuk mengalihkan tanggung jawab ke atasan (Wiranto, Soeharto) atau operasi paralel yang tidak ia kendalikan.
  • Beberapa pendukungnya (misalnya Fadli Zon atau Kivlan Zen di masa lalu) pernah menyebut kemungkinan tim lain, tapi ini tidak didukung bukti dan sering dilihat sebagai upaya politisasi.
  • Aktivis HAM (KontraS, IKOHI) justru menantang: Jika Prabowo tahu ada tim lain, mengapa tidak pernah ungkap secara resmi untuk membantu penyelesaian kasus?

Ini negeri edan.

Dalam arti menggambarkan operasi intelijen militer yang kompleks dan gelap di akhir Orde Baru, tapi klaim “lebih dari satu tim” tampaknya lebih sebagai narasi defensif daripada fakta terverifikasi. Semua jejak bukti resmi mengarah eksklusif ke Tim Mawar di bawah komando Prabowo.

Hingga 2026, kasus 13 korban hilang tetap belum tuntas secara hukum, meski sudah diakui sebagai pelanggaran HAM berat. Keluarga korban dan aktivis terus menuntut pengadilan ad hoc dan pengungkapan kebenaran penuh.

Lebih edan lagi, Presiden kita sekarang adalah Prabowo.

[Video Pandji singgung penculikan aktivis]

Komentar