Naniek S Deyang: Noel itu muncul dan bergabung dengan anggota lain di lap terakhir, namun seolah dia pejuang sejati

Ibarat balapan grup motor. Noel itu muncul dan bergabung dengan anggota lain di lap terakhir, namun seolah dia pejuang sejati. Bagaimana tidak? Tahun 2014 dan 2019 dia dengan membabi-buta menghajar Pak Prabowo dan pendukungnya, baru di tahun 2023 dia mulai merapat ke kubu Prabowo dari Jokowi Mania berubah menjadi Prabowo Mania.

Bagi pejuang -pejuang Prabowo yg memulai dari lap pertama, kemunculan Noel ini tak lebih sebagai pencuri start di ujung kemenangan. Anehnya dia dapat medali kemenangan bahkan dapat hadiah sebagai WAMEN, sementara yang berjuang terengah -engah ada yg mungkin tidak memperoleh apa-apa, atau hanya dapat hadiah “huburan” di bawah Noel.

Tahun 2019, Noel sang komandan Jokowi Maniac luar biasa meluluhlntahkan moril Pak Prabowo dengan melaporkan semua orang-orang dekat Pak Prabowo, dengan melaporkan ke polisi lewat kasus Ratna Sarumpet. Bagaimana kita yang dilaporkan Noel Cs padahal kita menjadi korban kebohongan dari Ratna Sarumpet?

Ratna Satumpet yg relawan Prabowo dan menjadi pengurus Tim Pemenangan Prabowo-Sandi, yg saat itu wajahnya bonyok mengaku ditonjokin orang, kita hanya menerima aduannya, dan mengadakan jumpa pers, malah dilaporkan menebar hoax, karena polisi menemukan bukti bahwa Ratna bukan dianiaya tapi karena Oplas (operasi plastik).

Bayangkan siapa yg Meng-ARSITEKI kasus Ratna Sarumpet sebenarnya? Kita yg bersimpati dan menerima aduan Ratna dituduh merekayasa dan menebar hoax karena sudah mengumumkan ke khalayak bahwa Ratna dianiaya (kami semua hanya melihat wajah Ratna bonyok, Demi Allah kami tidak tau dia Oplas).

Tak kurang Pak Amien Rais, dan puterinya, Said Iqbal, Fadlizon dll, termasuk Pak Prabowo dilaporkan ke polisi. Waktu Pilpres tahun 2019 saya sebagai salah satu Wakil Ketua Pemenangan Prabowo-Sandi.

Namun yg paling dihajar habis saat itu pak Amien Rais dan saya, Fadlizon meski dilaporkan namun tidak diperiksa polisi karena anggota DPR.

Yang gila, saya yang hanya menulis di FB dari hasil pertemuan saat Ratna minta berjumpa Pak Prabowo di Lapangan Polo Nusantara, dilaporkan gerombolan Noel (yg melaporkan tidak satu orang), sebagai penebar hoax. Saya mengalami stres berat , sampai tremor setiap lihat amlop coklat (gegara setiap panggilan polisi amlopnya berwarna coklat), ekonomi keluarga berantakan dll, tak terkira penderitaan saya akibat ulah Noel Cs.

Saya dibela Tim hukum Bang Dasco, namun karena yg melaporkan bergantian mereka sampai kewalahan. Satu agak reda, ganti lagi yg melaporkan. Sampai Pak Prabowo tidak kuat melihat penderitaan saya, dan saya diminta “minggat” ke Malaysia untuk sementara sampai urusan Pilpres dan sengketa selesai.

Di saat saya bimbang apakah saya pergi ke LN atau saya jalani saja hukuman kalau memang saya jadi tersangka, dan juga capai menghadapi panggilan polisi (cuman nulis kasus Ratna di FB padahal media mainstream juga menulis), saya seperti memperoleh Mu’jizat Allah. Suatu siang di rumah Pak Prabowo , saya bertemu dengan mantan kader Gerindra Arief Puyo yg kebetulan juga dilaporkan gerombolan Noel namun belum pernah dipanggil polisi, karena Arief cukup dekat dengan Kapolri saat itu Tito Karnavian.

Arief cerita saat itu, mau ke rumah Pak Tito (Kapolri), yg dulu rumah Dinas Kapolri di belakang rumah Pak Prabowo di Kartanegara. Saya bilang ke Arief, bahwa saya ikut kalau dia ke rumah Kapolri, saya mau bertanya ke Kapolri sebetulnya salah saya ini apa??? Cuman ikut Pak Prabowo menemui Ratna Sarumpet yg ingin bertemu Pak Prabowo terus menulis di FB berdasarkan cerita Ratna, kok saya terus dilaporkan banyak orang ke polisi (bergantian yg melapor), dan polisi terus memojokkan saya dengan target jadi tersangka.

Saya akhirnya diajak Arief Puyo bertemu Kapolri, di situ saya nangis sejadi-jadinya di hadapan Kapolri, saya terus bertanya apa salah saya? Tito pun akhirnya membuka sedikit rahasia, kala itu bahwa di Kepolisian terjadi beberapa faksi, dan saya bersama yg lain dalam kasus Sarumpet dikerjai faksi A (bukan faksi Tito). Pak Tito sendiri mengaku tidak setuju menggunakan kasus Ratna Sarumpet untuk menyerang Pak Prabowo… (sudah ya yg lain-lain tidak bisa diceritakan).

Yang jelas akhirnya Pak Tito sebagai Kapolri akhirnya meminta anak buahnya untuk menghentikan pemanggilan terhadap saya dll, karena terbukti Ratna yg berbohong, dan kami menjadi korban kebohongan Sarumpaet.

Udah ah segitu dulu.., bikin sakit hati kambuh kalau mengingat kelakuan Gerombolan Noel.

Allah Maha Adil, karma akhirnya datang, dan medali menjadi WAMEN milik Noel kini bukan hanya porak -poranda tapi dianulir oleh Presiden Prabowo karena dia sekarang dipecat sebagai Wamen!

(Naniek S Deyang)

Komentar