Mufti Besar Libya, Sheikh Sadiq al-Ghariani, menyerukan kepada umat Islam di seluruh dunia untuk memberikan dukungan kepada Iran di tengah memanasnya konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa dalam ajaran Al-Qur’an tidak ada konsep netralitas ketika umat Islam menghadapi tekanan. Menurutnya, membantu sesama Muslim merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar.
Ia juga memperingatkan bahwa kehadiran pasukan Amerika di kawasan Arab berpotensi memperburuk situasi dan memicu ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah.
Al-Ghariani menambahkan bahwa kekuatan besar dunia yang bertindak sewenang-wenang pada akhirnya akan menghadapi konsekuensi atas tindakan mereka. Ia mengajak umat Islam untuk mengambil pelajaran dari konflik yang sedang berlangsung dan memperkuat diri melalui keimanan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa umat Islam harus menyikapi perkembangan ini dengan kesadaran penuh, serta mencari kemuliaan hanya melalui ketaatan kepada Tuhan dan Rasul-Nya.
Konflik besar ini sendiri dipicu oleh serangan yang menewaskan Pemimpin Revolusi Iran, Ayatollah Seyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer dan warga sipil pada akhir Februari 2026.
Serangan tersebut kemudian berkembang menjadi agresi militer luas yang menyasar berbagai fasilitas di Iran, termasuk infrastruktur sipil, dan menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Sebagai respons, militer Iran melancarkan serangan balasan dengan rudal dan drone yang menargetkan pangkalan militer Amerika di kawasan Asia Barat serta posisi Israel di wilayah pendudukan.






