“Mr. Trump. Saya mau ngomong, bisa?”

“Mr. Trump. Saya mau ngomong, bisa?”

“Oh, silakan! Mau ngomong apa, Mbul?”

“Mau ngomong soal tarif masuk, Mr. Trump. Kemarin kan kita sudah deal 19%, trus negara Mr. Trump kami kasih tarif 0%. Masih ada syarat lain yang harus kami penuhi. Tapi sehabis tanda tangan kok besoknya negara Mr. Trump ngasih tarif ke negara lain cuma 10%? Katanya saya pemimpin besar. Pemimpin hebat. Sobatnya AS. Tapi kok dikasih tarif masuk lebih mahal?”

“Lho, gimana sih? Justru karena sampeyan pemimpin hebat, sobat AS, kami berani ngasih tarif tinggi. Pemimpin lain mana mampu dikasih tarif segitu. Cuma sampeyan yang bisa. Karena apa? Karena sampeyan pemimpin cerdas, pemimpin hebat, pemimpin yang paling ikhlas.”

“Ah, Mr. Trump terlalu memuji. Kalau begitu, saya sangat berterima kasih kepada Mr. Trump yang sudah memberi kepercayaan setinggi itu.”

“Gitu, dong. Eh, saya ini ada surplus kecambah sama cabe keriting. Saya kirim ke negaramu ya. Jangan ngomong ke negara lain lho. Cuma sampeyan yang saya kasih.”

“Wah, terimakasih sekali lagi, Mr. Trump, atas kepercayaannya. Nanti kalau saya pidato lagi di depan pendukung saya, nama Mr. Trump akan saya sebut.”

“Hahaha… kamu memang pemimpin hebat.”

(Wendra Setiawan)

*Foto hanya ilustrasi cerita fiksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 komentar