MONOLOG ISTANA
Ada satu bentuk seni pertunjukan yang kini tampaknya naik kelas: monolog istana. Panggungnya megah, tata cahaya rapi, kostum formal, dan audiensnya bukan sembarang orang—para rektor, guru besar, dan akademisi. Sayangnya, satu elemen kunci hilang: dialog.
Pertemuan antara Prabowo Subianto dan para guru besar tanpa sesi tanya jawab pada dasarnya bukanlah forum ilmiah. Ia lebih mirip acara panggung satu arah. Yang berbicara satu orang; yang lain duduk rapi, mengangguk, mencatat—seperti menonton pertunjukan yang durasinya terlalu panjang dan klimaksnya tak pernah datang.
Jika dialog adalah jantung akademia, maka forum tanpa dialog adalah anatomi tanpa denyut. Rektor diundang bukan untuk menguji gagasan, melainkan untuk menyaksikan gagasan lewat—tanpa boleh menyentuh, apalagi mempertanyakan. Sebuah town hall yang lupa pada hall-nya, dan meniadakan town-nya. Ironinya, kampus—yang sehari-hari mendewakan critical thinking—diistana justru berubah menjadi ruang critical listening. Bertanya dianggap mengganggu alur. Menyela dianggap tidak sopan. Padahal, tanpa pertanyaan, pidato hanyalah pernyataan; dan tanpa sanggahan, pernyataan mudah menjelma dogma.
Bayangkan jika Socrates diundang ke Athena hanya untuk mendengar, bukan bertanya. Atau jika seminar doktoral berakhir tanpa sesi diskusi. Kita akan menyebutnya apa? Bukan akademik—melainkan seremonial. Dan seremonial, betapapun khidmat, tidak pernah melahirkan pengetahuan baru.
Yang paling miris bukan monolognya, melainkan posisi rektor yang direduksi menjadi penonton VIP. Bukan mitra intelektual negara, melainkan figuran legitimasi. Seolah-olah kehadiran mereka cukup untuk menyempurnakan adegan, tanpa perlu suara.
Padahal, negara yang kuat tidak takut pada dialog. Ia justru membutuhkan pertanyaan tajam—karena pertanyaan adalah alat uji kebijakan, bukan ancaman stabilitas. Tanpa dialog, kekuasaan memang terdengar lantang. Tapi lantang bukan berarti benar; rapi bukan berarti matang.
Akhirnya, kita patut bertanya—secara satir namun serius. Jika istana mengundang rektor hanya untuk menonton, mengapa tidak sekalian menjual tiket? Setidaknya penonton tahu mereka datang untuk hiburan, bukan untuk berpikir. Karena di republik yang sehat, dialog bukan dekorasi. Ia adalah substansi.
Dan tanpa substansi, panggung sebesar apa pun hanya akan meninggalkan satu kesan, membosankan!
(Erizeli Jely Bandaro)







Komentar