Intelligence Quotient (IQ) orang Iran memang termasuk tertinggi di dunia. Sehingga banyak mitos yang mengira bahwa orang Iran terlahir jenius. Sering diperbincangkan bahwa Iran menghasilkan banyak Ilmuwan Perempuan.
Prof Marandi, juru bicara Iran di berbagai televisi dan Youtube mencoba melakukan demistifikasi atau membongkar mitos-mitos tersebut dengan sejumlah fakta. Ia memberi judul pidatonya, “Demistifying Iran.”
Sebelum Revolusi 1979, kata Marandi, kaum perempuan Iran yang terliterasi hanya 35%. Setelah Revolusi, Republik Islam yang baru terbentuk memutuskan memobilisasi gerakan universal untuk mengatasi literasi. Literasi kaum perempuan naik 35% jadi 74% dalam dua dekade (20 tahun), dan terus naik sampai 94%. Di daerah terpencil kemampuan literasi penduduknya naik drastis dari 4% menjadi 90%.
Fondasi Investasi dalam pendidikan menciptakan ekosistem sosial baru yang lebih baik dalam masyarakat Iran. Dan semua ini dilakukan dalam keadaan sanksi embargo dan perang.
Kuncinya, kata Prof. Marandi, Keadilan pendidikan. Efek berantainya menyebabkan peningkatan luar biasa pada satu hal yang sangat penting bagi sebuah negara: Sistem kesehatan.
Sebelum Revolusi Islam 1979, kota-kota kecil dan desa-desa kekurangan fasilitas kesehatan yang paling mendasar. Oleh sebab itu dibentuk Kementerian Kesehatan dan Pendidikan Medis yang nantinya akan menjadikan Iran salah satu jaringan kesehatan top dunia.
Hasilnya angka kematian ibu dan bayi turun drastis. Tahun 1990, sekitar 97% peralatan medis diproduksi secara lokal. Akhirnya menjadikan Iran sebagai industri farmasi obat-obatan canggih top berteknologi tinggi. Hal ini memposisikan Iran menjadi pemimpin regional bidang kesehatan dan pendidikan, sekali lagi, ditengah sanksi dan embargo.
Prof. Marandi mengatakan, rahasia Iran adalah Human Capital (Sumber Daya Manusia): generasi ilmuwan, insinyur, dan ahli farmasi yang kini menjadi sumber daya nasional Iran.
Jika kita urut, langkah pertama Iran untuk menjadikan negara tersebut kuat dan mandiri adalah gerakan nasional pengentasan literasi.
Indonesia, juga memiliki masalah literasi, namun memilih memprioritaskan program makan yang seringkali tidak bergizi. Tentu mudah ditebak, bahwa kita masih akan tertinggal jauh dari hal-hal baik yang dicapai transformasi pendidikan di Iran.
Oleh: Iman Zanatul Haeri
(Guru Sejarah. Kepala Bidang Advokasi Guru P2G)
*sumber Pidato: https://www.instagram.com/reel/DUdnwoLAMgW/?igsh=eGM4cGhtZHlnaTVy







BLT, bansos, adalah alat biar rezim terus berkuasa jika rakyat pintar ini sebuah ancaman