✍🏻Agustinus Edy Kristianto
Sebelum membahas perhitungan njelimet berkaitan dengan hubungan investasi Google di Gojek (GOTO) dan kasus Nadiem Makarim (Chromebook), saya mau menyemangati para penegak hukum supaya bisa segera menangkap buron Jurist Tan (staf khusus Nadiem).
Saya ingat seorang sumber jauh hari sebelum dakwaan dibacakan berkata kepada saya: jangan lihat pengadaan laptop (hardware) saja, tapi lihat permainan di pengadaan software (Chrome Device Management/CDM). Amati Jurist Tan—masih buron sampai sekarang.
Dalam dakwaan disebutkan pengadaan CDM seharga Rp420 ribu/unit itu tidak diperlukan dan tidak bermanfaat bagi kebutuhan pendidikan dasar dan menengah di Indonesia. Akibatnya menambah kerugian keuangan negara sebesar US$44,05 juta atau setara Rp621,3 miliar.
Jurist Tan mengatakan ada arahan dari Nadiem mengenai permintaan 30% dari revenue Google atas penjualan CDM di Kemendikbud (Hlm. 72). 30% dari Rp621,3 miliar adalah sekitar Rp186,3 miliar.
Dalam dakwaan disebutkan uang itu digunakan untuk membayar gaji tim teknologi, salah satunya adalah Ibrahim Arief (Baim), yang ditulis bergaji Rp163 juta per bulan.
Bagi saya, Google perlu diperiksa lebih jauh. Berdasarkan info sumber saya, suami Jurist ternyata bekerja di Google Australia. Mengenai investasi Google di GOTO, perlu diperiksa lebih jauh lagi berkaitan dengan keuntungan apa saja dan berapa besar yang didapat Google dalam hubungannya dengan proyek Chromebook semasa Nadiem menjabat.
Per status ini ditulis, saya dikirimi seseorang tautan “buku putih” Nadiem, yang salah satu poinnya berisi pembelaan bahwa tidak ada hubungan antara proyek Chromebook dan investasi Google di Gojek—perusahaan yang didirikan Nadiem.
Ya, bebas saja kubu Nadiem mau membela diri, memutihkan citra, atau berharap jika pun nanti divonis bersalah oleh pengadilan akan dapat amnesti atau abolisi dari presiden. Tapi mengenai GOTO, saya pikir ini beda urusan: kasus Chromebook merupakan bagian dari satu rangkaian panjang praktik sekelompok orang yang melakukan rekayasa nilai aset (valuasi) dengan menggunakan uang negara sebagai pelicinnya—dalam hal ini uang BUMN Telkomsel sebesar Rp6,4 triliun.

Saya buat poin per poin, by data, dari dokumen resmi.
MODAL RP1
Dalam prospektus GOTO, nilai nominal saham itu cuma Rp1. Artinya, Nadiem dkk sebagai pendiri (PT Aplikasi Karya Anak Bangsa/AKAB berdiri 2015) memegang saham di harga Rp1 ini. Jangan percaya begitu saja kalau dibilang kekayaan Nadiem merosot 51% saat menjabat menteri karena harga saham GOTO yang anjlok (IPO Rp338, saat ini Rp66). Lihat dulu posisi awalnya di mana, baru kita bisa menilai. Sepanjang tidak di bawah Rp1, itu masih untung namanya!
GOOGLE MASUK (2019–2020)
Pertama kali Google tercatat sebagai pemegang saham GOTO dalam laporan keuangan pada 2019, yakni sebanyak 108.018 lembar (6,50%), dan tahun berikutnya naik menjadi 119.901 lembar (7,09%). Pada 2021, nama Google lenyap dari daftar pemegang saham di atas 5%, berganti menjadi SoftBank dan Alibaba.
Google membeli saham Gojek seharga USD5.049 per lembar (Rp70,6 juta, kurs Rp14.000). Dengan demikian, kepemilikan 108.018 lembar pada 2019 setara Rp7,6 triliun. Sebagai perbandingan, dalam dakwaan jaksa disebutkan bahwa total investasi Google ke Gojek (GOTO) mencapai USD786 juta (sekitar Rp11 triliun, asumsi kurs Rp14.105) yang dilakukan secara bertahap sepanjang 2017–2020.
Pertanyaannya: mengapa Google mau membeli saham Gojek di harga premium setinggi itu? Apakah murni pertimbangan bisnis, atau ada faktor koneksi proyek tertentu? Di sinilah letak menariknya posisi ganda Nadiem sebagai Mendikbudristek sekaligus pendiri Gojek.
Dalam dokumen paparan Direktur Utama Telkom pada Rapat Panja Komisi VI DPR tentang Investasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk di GOTO tertanggal 14 Juni 2022 (eksklusif saya dapat), validasi investasi Telkomsel disebutkan karena adanya berbagai perusahaan terkemuka dari seluruh dunia yang berinvestasi di GOTO, salah satunya Google.
Pada kurun waktu 2019–2020 itulah terjadi proyek Chromebook di kementerian Nadiem.
Pada tahap pra-IPO (2021), valuasi GOTO naik lagi menjadi USD6.997,85 (sekitar Rp98 juta per lembar), dengan taburan berbagai sentimen positif atas keberadaan Google dkk serta Telkomsel. Dari sini kelihatan, Google sudah mengantongi potensi untung (capital gain) sebesar 38,6%, dari harga beli USD5.049 ke USD6.997,85.
STOCK SPLIT & DANA BUMN TELKOMSEL MASUK (2020–2021)
Terjadilah pecah saham (stock split), di mana harga nominal GOTO disesuaikan menjadi Rp266,167 (atau Rp270 dalam pembulatan pasar). Di sinilah duit Telkomsel masuk sebesar Rp6,4 triliun.
Akibat stock split tersebut, jumlah lembar saham Google yang tadinya ratusan ribu kini membiak menjadi sekitar 43,8 miliar lembar. Sementara itu, dengan duit Rp6,4 triliun, Telkomsel mendapatkan sekitar 24 miliar lembar.
Saya duga, Google menjual sebagian sahamnya kepada Telkomsel (transaksi sekunder) untuk mengubah “uang kertas” valuasinya menjadi uang tunai nyata, dan memegang sisanya untuk exit di kemudian hari.
Apakah Nadiem ikut menjual sebagian kepemilikan sahamnya ke Telkomsel juga? Menarik untuk didalami penegak hukum!
PESTA IPO RP338 (11 April 2022)
Puncaknya adalah IPO pada harga Rp338 yang digambarkan seolah publik antre memborong GOTO. Berarti ketika IPO itu, kekayaan Nadiem naik 33.700%: dari modal Rp1 ke harga Rp338. Google pun kelihatannya jualan dan cuan banyak. Inilah The Great Exit: saat publik membeli di harga Rp338, investor awal bisa “cuci tangan”, alias menjual saham mereka kepada masyarakat luas.
Benang merah semua cerita ini adalah negara berpotensi rugi dua kali. Pertama, rugi di APBN karena proyek Chromebook Menteri Nadiem (setidaknya rugi Rp2,1 triliun menurut dakwaan, berdasarkan hitungan BPKP). Kedua, rugi di BUMN (Telkomsel) karena membeli saham di harga “gorengan” Rp270 yang kini harganya tinggal recehan (Rp60-an).
Lupakan dulu anggapan bahwa “Mas Menteri” itu dari keluarga antikorupsi sehingga tak mungkin korup, kampusnya ternama, atau sejak kecil dicekoki petuah integritas. Lihat faktanya saja.
Proyek Chromebook nyatanya bukan dibuat semata untuk mencerdaskan bangsa, tapi untuk menjaga valuasi agar investor elite bisa selamat (exit) membawa profit triliunan, sementara menteri kita hartanya naik ratusan miliar bahkan triliunan di atas kertas.
Operasi semacam ini memang halus, rapi, terstruktur, tapi sangat mematikan bagi keuangan negara.
Masih mau percaya Nadiem dikriminalisasi?
Salam,
AEK








Komentar