Menolak (MBG) Bukan Anti Pemerintah

Menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan berarti anti pemerintah. Justru ini bentuk kepedulian dan cinta pada NKRI. Pemerintah kita yang bodoh dan pansos tega menghamburkan uang rakyat untuk program boros dan rawan korupsi.

Rp 335 triliun hanya untuk MBG.

  • Hampir separuh dari total anggaran pendidikan nasional: Rp 758 triliun digunakan untuk MBG.
  • Jauh lebih besar dari anggaran kesehatan: Rp 205 triliun.
  • Lebih tinggi dibanding anggaran infrastruktur: Rp 190 triliun.
  • Mengalahkan perlindungan sosial non-MBG: Rp 160 triliun.

Artinya, satu program makan siang gratis bisa mengalahkan dana untuk membangun rumah sakit, jalan, jembatan, hingga bantuan sosial lain yang lebih penting dan berjangka panjang. Tidak heran kalau banyak pihak menyebut MBG hanyalah ladang korupsi baru dengan bungkus “kemanusiaan”.

Buktinya?
September ini saja sudah tercatat 5.000 kasus siswa keracunan akibat makanan yang dibagikan asal-asalan.

Kok bisa sampai keracunan?
Karena bahan bakunya tidak layak.

Kenapa bahan bakunya tidak layak?
Karena dikorupsi: diganti dengan bahan murah, basi, penuh bakteri.

Belum lagi terbongkar kasus 7.000 dapur MBG fiktif. Setiap hari uang negara tersedot ke dapur-dapur bodong. Itu yang ketahuan. Yang tidak ketahuan? Bisa jadi jauh lebih banyak.

Karena itu, kalau Anda punya sekolah, yayasan, atau pesantren, lalu memilih menolak MBG, maka sesungguhnya Anda sedang ikut menyelamatkan anggaran negara dari potensi kebocoran ratusan triliun rupiah. Dana sebesar itu lebih bermanfaat jika dipakai memperkuat pendidikan, kesehatan, infrastruktur, atau pemberdayaan ekonomi rakyat.

Menolak MBG bukan berarti melawan pemerintah. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk cinta NKRI. Menolak pemborosan, menolak korupsi, dan menolak program yang hanya mengubah uang rakyat menjadi tai.

Kami kemarin sudah ditawari pemerintah untuk menyediakan MBG, dan kami tolak. Karena kami sayang Indonesia, kami tidak rela uang rakyat digelontorkan untuk proyek busuk ini.

Kami sudah menolak, kalian kapan?

(Oleh: Ngopidiyyah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *