Oleh David Hearst (Pimpinan Redaksi www.middleeasteye.net)
10 Maret 2026
Sulit menentukan siapa yang lebih menipu diri sendiri terkait perang melawan Iran: Presiden Amerika Serikat Donald Trump atau bahkan sistem kecerdasan buatan seperti Grok.
Platform AI milik Elon Musk itu sempat membuat kekeliruan dengan mengaitkan rekaman kebakaran di Glasgow dengan peristiwa di Tel Aviv. Video lain yang memperlihatkan kebakaran ladang minyak di Iran bahkan disalahartikan sebagai kebakaran yang terjadi pada 2017 di dekat Los Angeles.
Sementara itu, sejak Amerika Serikat menyerang Iran, Trump sendiri mengunggah serangkaian pernyataan di media sosial yang membingungkan. Ia menyerukan pemberontakan massal di Iran, menuntut penyerahan tanpa syarat, mengklaim akan ikut menentukan pemimpin Iran berikutnya, serta menyatakan bahwa negara itu sedang dihancurkan.
Dalam salah satu unggahan paling kontroversial, Trump bahkan menyebut pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, sebagai “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.”
Namun kenyataan di lapangan justru berbeda. Alih-alih bangkit melawan pemerintah, ribuan warga Iran turun ke jalan untuk berkabung atas kematian Khamenei, bahkan ketika serangan udara masih berlangsung.
Menurut penulis, pembunuhan kepala negara Iran—yang merupakan peristiwa sangat jarang dalam sejarah modern—justru bisa menghasilkan efek berlawanan dengan yang diinginkan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Kematian Khamenei, alih-alih melemahkan sistem politik Iran, bisa saja justru menghidupkan kembali semangat revolusioner Republik Islam.
Garis Merah Iran
Selama kepemimpinan Khamenei, Iran dikenal berhati-hati dalam merespons provokasi militer. Meski beberapa jenderal dan ilmuwan nuklirnya dibunuh, tanggapan Iran biasanya dilakukan secara terukur dan bertujuan mengakhiri eskalasi, bukan memperluasnya.
Iran di bawah Khamenei juga menjaga sejumlah “garis merah”, seperti tidak menyerang negara-negara Teluk secara langsung atau menutup Strait of Hormuz.
Ketika jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani tewas akibat serangan drone Amerika di Baghdad, Iran tidak membalas dengan menyerang negara-negara Teluk.
Begitu pula saat pemimpin Hamas Ismail Haniyeh tewas, atau ketika sejumlah komandan militer Iran terbunuh dalam konflik sebelumnya dengan Israel.
Bahkan ketika presiden Iran saat itu, Ebrahim Raisi, meninggal dalam kecelakaan helikopter di Azerbaijan, Iran tidak melakukan aksi militer balasan.
Khamenei dikenal sebagai pemimpin yang keras dalam prinsip, tetapi pragmatis dalam strategi. Ia pernah mengatakan kepada pejabat Amerika, “Orang seperti saya tidak akan bersumpah setia kepada orang seperti Anda.”
Sebagai contoh, setelah Soleimani dibunuh, Iran memang meluncurkan rudal ke dua pangkalan Amerika di Irak, tetapi sebelumnya memberi tahu pemerintah Irak lokasi yang akan diserang untuk meminimalkan korban.
Dari Revolusi ke Stabilitas — dan Kembali Lagi
Pendekatan Khamenei berbeda dari pemimpin pertama Republik Islam, Ruhollah Khomeini.
Pada masa Khomeini, Iran masih berada dalam fase revolusioner dan jauh lebih sulit diprediksi. Krisis penyanderaan Kedutaan Besar AS pada 1979, misalnya, membuat 52 warga Amerika ditahan selama 444 hari.
Ketika Irak di bawah Saddam Hussein menyerang Iran pada 1980 dengan dukungan Barat dan negara-negara Teluk, Iran belum memiliki militer yang siap.
Situasi itu mendorong Iran memperkuat Islamic Revolutionary Guard Corps, yang kemudian berkembang menjadi kekuatan militer besar setelah perang delapan tahun Iran-Irak.
Semangat Revolusioner yang Bangkit
Penulis berpendapat kematian Khamenei mungkin justru mengubah dinamika tersebut. Alih-alih melemahkan sistem, peristiwa itu bisa menghidupkan kembali semangat revolusioner Iran.
Dalam waktu sekitar sepuluh hari setelah perang pecah, Iran disebut telah:
- Menutup Selat Hormuz
- Menghentikan produksi minyak dan gas di kawasan Teluk
- Memicu krisis energi global yang bahkan disebut lebih besar daripada krisis minyak 1973
Gangguan produksi sekitar 20 juta barel minyak per hari disebut setara dengan total gangguan pasokan minyak global antara 1978 hingga 2022.
Serangan Iran juga diklaim merusak sistem radar peringatan dini senilai 1,1 miliar dolar di Doha, yang digunakan untuk mengoperasikan sistem pertahanan udara seperti THAAD dan Patriot.
Selain itu, kota-kota Teluk seperti Manama, Kuwait City, Dubai, Doha, dan Riyadh dilaporkan menjadi sasaran serangan drone, sementara lalu lintas udara di kawasan Teluk hampir lumpuh.
Konflik ini juga telah menyeret sedikitnya 14 negara di kawasan serta beberapa negara Eropa seperti Norway, United Kingdom, dan France.
Pemimpin Baru Iran
Setelah kematian Khamenei, Iran menunjuk putranya, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru.
Mojtaba dikenal memiliki hubungan kuat dengan IRGC dan jaringan keamanan Iran. Ia juga pernah menjadi relawan di Batalion Habib Ibn Mazahir, yang memberinya akses ke banyak tokoh penting di aparat keamanan Iran.
Menurut penulis, penunjukan Mojtaba adalah pesan langsung kepada Trump bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan luar.
Krisis Global yang Membesar
Sepuluh hari setelah perang dimulai, Iran dinilai berhasil mengubah konflik ini bukan hanya menjadi krisis regional, tetapi juga krisis energi global.
Ancaman lain juga datang dari kelompok Houthi di Yaman yang berpotensi menutup jalur pelayaran internasional di Bab el‑Mandeb Strait, salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia.
Perang Tanpa Strategi Keluar
Sementara konflik terus membesar, Trump sendiri dinilai belum memiliki strategi keluar yang jelas.
Beberapa hari sebelumnya ia menolak mengirim pasukan darat, tetapi laporan terbaru menyebut opsi tersebut kini mulai dipertimbangkan.
Masalahnya, untuk benar-benar mengamankan jalur pelayaran internasional, Amerika kemungkinan harus menguasai satu atau dua selat strategis—sesuatu yang hampir mustahil dilakukan tanpa pengerahan pasukan darat dalam jumlah besar.
Jika mundur, Trump berisiko merusak warisan politiknya sendiri. Namun jika perang dilanjutkan, konflik ini berpotensi menghancurkan negara-negara, membakar ladang minyak, serta menewaskan ribuan warga sipil.
Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa kawasan Timur Tengah kini harus membayar mahal akibat ambisi dua pemimpin.
“Ini adalah harga yang harus dibayar kawasan ini karena ego satu orang dan visi mesianik orang lainnya,” tulis Hearst.
Dalam situasi saat ini, Trump dan Netanyahu adalah dua orang paling berbahaya di planet ini.






