Mengapa Presiden Prabowo Sering Bilang “Saya Curiga”?

Mengapa Presiden Prabowo Sering Bilang “Saya Curiga”?

Beberapa waktu terakhir, publik sering sekali mendengar satu frasa khas dari Presiden Prabowo:
“Saya curiga…”

Bukan sekali dua kali. Tinggal ketik di Google, “Presiden Prabowo curiga”, langsung muncul deretan berita. Seolah-olah negara ini sedang dipimpin oleh seseorang yang hidupnya penuh dengan rasa curiga.

Pertanyaannya sederhana: wajarkah seorang presiden curiga?

Secara manusiawi, tentu saja wajar. Presiden juga manusia, bukan patung Garuda di Monas. Punya perasaan, punya intuisi, punya kekhawatiran.

Tapi secara posisi, presiden itu bukan rakyat biasa. Ia bukan pengamat politik yang kerjanya hanya menganalisis dari kejauhan. Ia punya instrumen super lengkap. Ada BIN, BAIS, intel Polri, TNI, menteri, laporan rahasia, data berlapis-lapis.

Kalau rakyat bilang, “Saya curiga ada yang nggak beres,” itu wajar. Karena alatnya cuma insting, gosip, dan kuota internet. Kalau pengamat bilang, “Saya curiga,” itu juga wajar. Karena memang tugasnya mengamati dan mencurigai gelagat-gelagat.

Tapi kalau presiden yang bilang “Saya curiga”, publik berharap lanjutannya bukan berhenti di rasa curiga, tapi naik level menjadi kepastian. Karena presiden bukan cuma punya feeling, tapi juga punya wewenang untuk memastikan.

Di sinilah keganjilan kecil itu muncul. Bukankah presiden punya instrumen untuk memverifikasi? Kalau alat negara sudah lengkap, kenapa yang sampai ke publik masih berupa prasangka nasional?

Negara sebesar Indonesia seolah-olah masih beroperasi dengan sistem: Feeling dulu, data belakangan. Padahal idealnya: Data dulu, baru presiden bicara.

Karena kalau tidak, kesannya seperti aparat intelijen cuma figuran, dan negara dijalankan dengan intuisi. Dan intuisi, sekuat apa pun, tetap bukan kebijakan.

Masalahnya bukan pada kata “curiga”. Masalahnya pada efeknya. Bayangkan Anda naik pesawat, lalu pilot berkata, “Penumpang sekalian, saya curiga mesin kiri ada yang aneh.” Tanpa penjelasan. Tanpa solusi. Tanpa kepastian. Yang muncul bukan rasa aman, tapi overthinking nasional.

Negara juga begitu. Kalau presidennya sering terdengar curiga, publik ikut waswas. Stabilitas psikologis nasional pelan-pelan berubah jadi mode: siaga tanpa kejelasan. Lha presidennya saja curiga-an, masa rakyat disuruh tenang?

Negara hidup dari kepastian, bukan dari firasat. Curiga boleh, waspada penting, tapi publik butuh kejelasan: apa yang salah, siapa yang terlibat, dan apa solusinya.

Karena kalau tidak, yang tumbuh bukan stabilitas, tapi spekulasi.

Dan negara yang penuh spekulasi, biasanya bukan karena rakyat terlalu kritis, tapi karena pemimpinnya terlalu sering berkata: “Saya curiga…”

-Setiya Jogja-

Komentar