Istilah “bencong” sering digunakan secara populer di masyarakat untuk menyebut laki-laki yang berperilaku feminin. Namun sebelum membahas lebih jauh, penting dipahami bahwa identitas dan ekspresi seseorang merupakan persoalan kompleks yang tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor.
Sebagian orang berpendapat bahwa perubahan karakter maskulinitas pria masa kini bukan semata-mata karena faktor genetika, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh pola pembentukan hidup dan lingkungan sosialnya.
1. Pola Asuh yang Terlalu Memanjakan
Anak laki-laki yang tumbuh tanpa disiplin, tanggung jawab, dan pembiasaan menghadapi tantangan bisa kehilangan ketangguhan mental. Dalam banyak budaya, maskulinitas dibentuk melalui latihan tanggung jawab, kemandirian, dan keberanian menghadapi risiko. Jika hal-hal ini tidak ditanamkan sejak dini, karakter kepemimpinan dan ketegasan bisa melemah.
2. Pengaruh Budaya Tanpa Filter
Arus globalisasi membawa berbagai nilai dan gaya hidup baru. Tanpa penyaringan yang kuat dari keluarga dan lingkungan, seorang anak bisa menyerap budaya luar secara mentah. Media sosial, tren hiburan, hingga figur publik turut membentuk persepsi tentang identitas dan peran gender.
Ketika nilai-nilai lokal dan agama tidak lagi menjadi fondasi utama, maka standar maskulinitas pun ikut bergeser.
3. Pola Makan dan Gaya Hidup Modern
Konsumsi makanan ultra-proses, kurang olahraga, serta paparan gaya hidup instan juga diyakini sebagian kalangan dapat memengaruhi energi dan keseimbangan hormon. Meskipun faktor biologis tetap kompleks dan tidak sesederhana itu, gaya hidup modern memang berkontribusi pada perubahan fisik dan mental generasi saat ini.
4. Lingkaran Pergaulan dan Konsumsi Hiburan
Lingkungan pertemanan sangat berpengaruh terhadap pembentukan identitas. Hiburan tanpa batas, konten pornografi, serta komunitas yang tidak membangun karakter dapat membentuk pola pikir dan perilaku tertentu. Apa yang sering dilihat dan dikonsumsi secara mental lambat laun dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya.
5. Jauh dari Nilai Agama
Dalam perspektif Islam, laki-laki disebut sebagai qawwam (pemimpin dan pelindung) dalam keluarga, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Peran ini menuntut tanggung jawab, ketegasan, dan komitmen moral. Ketika nilai-nilai spiritual melemah, maka arah pembentukan karakter pun bisa kehilangan fondasi.
Perubahan karakter dan ekspresi laki-laki di era modern tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu sebab. Ia merupakan kombinasi dari pola asuh, budaya, lingkungan, gaya hidup, serta nilai yang dianut.
Yang terpenting adalah bagaimana keluarga dan masyarakat membangun generasi laki-laki yang sehat secara fisik, matang secara emosional, kuat secara mental, dan kokoh secara spiritual tanpa harus merendahkan atau menghakimi pihak lain.
Apabila anda sebagai orang tua saat ini mari lebih bijak menjaga pergaulan anak dan usahakan mengetahui banyak hal tentang sang anak.







Tolonglah itu foto tidak udah disertakan, jijik ngeliatnya
Acara2 tv marak nampilin orang2 kek gini
KPI sekarang juga kendor ngawasin acara2 tv