Mengapa Bangsa Iran Yang Syiah Menguasai Sains Dan Teknologi Canggih Dan Mengapa Bangsa Muslim Di Luar Iran Hanya Bisa Beli Produk Sains Dan Teknologi Bangsa Barat?

Oleh: Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si.
[Ketua Senat Akademik Universitas Terbuka (UT) 2022–2027]

Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi tentang perkembangan sains di dunia Islam. Mengapa Iran yang Syiah lebih maju daripada semua negara-negara muslim yang Sunni.

Dalam pandangan saya hal ini berkaitan dengan tradisi filsafat, logika, kurikulum pendidikan, dan perkembangan politik serta institusi ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam.

Tulisan ini mencoba menjelaskan secara ringkas dan sistematis.

1. Pada awalnya dunia Islam memimpin sains dunia

    Pada abad ke-8 sampai abad ke-13, yang sering disebut sebagai masa keemasan peradaban Islam, dunia Islam justru menjadi pusat sains dunia. Pada masa ini lahir banyak ilmuwan besar yang mengembangkan filsafat, matematika, astronomi, kedokteran, dan fisika.

    Beberapa tokoh besar pada masa itu antara lain:
    Al-Farabi
    Ibn Sina
    Ibn Rushd
    Al-Biruni
    Al-Khwarizmi
    Ibn al-Haytham

    Mereka mengembangkan berbagai bidang ilmu seperti:
    logika Aristoteles (mantiq)
    matematika dan aljabar
    astronomi
    kedokteran
    optika.

    Pada masa ini tradisi rasional dan logika sangat kuat dalam peradaban Islam. Bahkan karya-karya ilmuwan Muslim kemudian menjadi buku teks di universitas Eropa selama berabad-abad.

    Artinya, pada masa klasik dunia Islam—yang mayoritas Sunni—justru memimpin perkembangan sains dunia.

    2. Setelah abad ke-13 rasionalisme melemah di banyak wilayah Sunni

      Banyak sejarawan mencatat bahwa setelah abad pertengahan terjadi perubahan besar dalam sistem pendidikan Islam di banyak wilayah Sunni.

      Kurikulum madrasah mulai menyempit dan lebih fokus pada ilmu agama seperti:
      fikih
      tafsir
      hadis
      bahasa Arab.

      Sementara ilmu rasional seperti:
      filsafat
      logika
      astronomi
      kedokteran
      perlahan tersingkir dari kurikulum pendidikan.

      Akibatnya tradisi rasional yang dulu menjadi dasar perkembangan sains semakin melemah di banyak wilayah dunia Islam.

      3. Tradisi filsafat justru bertahan lebih lama di Persia (Iran)

        Berbeda dengan banyak wilayah muslim lain, tradisi filsafat Islam justru bertahan lebih lama di Persia (Iran). Banyak filsuf besar berasal dari wilayah ini.

        Di Iran berkembang tradisi filsafat seperti:
        Suhrawardi dengan filsafat Hikmah Isyraqiyah;
        Mulla Sadra dengan filsafat Hikmah Muta‘aliyah.

        Tradisi filsafat ini tidak pernah terputus dan terus diajarkan di lembaga pendidikan ulama Syiah sampai sekarang.

        4. Kurikulum pendidikan ulama Syiah masih mempelajari filsafat dan logika

          Dalam sistem pendidikan ulama Syiah yang dikenal dengan hawzah, para pelajar diwajibkan mempelajari beberapa disiplin ilmu rasional, antara lain:
          mantiq (logika)
          filsafat
          usul fiqh
          ilmu kalam.

          Kitab-kitab filsafat seperti karya Mulla Sadra masih dipelajari secara serius hingga sekarang.

          Hal ini berbeda dengan banyak madrasah di dunia Sunni modern yang lebih menekankan studi fikih, hadis, tafsir, ilmu kalam, dan tasawuf sementara filsafat dan logika tidak lagi menjadi bagian utama kurikulum.

          Saya waktu belajar di pesantren yang kebetulan diajak senior ngaji ilmu mantiq/logika dengan kitab Sulam Al-Munawroq, oleh teman malah dibuly, “Untuk apa kamu belajar ilmu mantiq, ilmu untuk bantah-bantahan, kayak omongan pokrol. Ini bukan ilmu agama. Maka gak ada sunah-sunahnya”

          5. Iran memiliki tradisi intelektual panjang sejak sebelum Islam

            Selain faktor pendidikan agama, Iran juga memiliki tradisi intelektual yang sangat tua bahkan sebelum Islam. Salah satu pusat ilmu terkenal pada masa Persia kuno adalah Academy of Gondishapur.

            Akademi ini menjadi pusat kedokteran dan penerjemahan ilmu Yunani serta India pada abad ke-6.

            Tradisi intelektual yang panjang ini membuat masyarakat Iran memiliki budaya penghargaan terhadap ilmu pengetahuan yang kuat hingga sekarang.

            6. Kemajuan teknologi Iran modern juga dipengaruhi faktor politik dan ekonomi

              Kemajuan sains dan teknologi Iran modern tidak hanya disebabkan oleh tradisi filsafat, tetapi juga oleh faktor negara. Negara melakukan:
              – Investasi besar pemerintah pada riset ilmiah
              – Sistem universitas yang kuat.

              Dengan adanya embargo teknologi dari Barat memaksa Iran mengembangkan teknologi sendiri.

              Akibatnya Iran berhasil mengembangkan berbagai teknologi strategis seperti:
              teknologi nuklir;
              nanoteknologi;
              bioteknologi;
              teknologi ruang angkasa;
              teknologi misil dan satelit.

              Kesimpulan

              Perbedaan perkembangan sains antara Iran dan banyak negara Muslim lainnya karena tradisi intelektual dan sistem pendidikan.

              Beberapa faktor penting yang mempengaruhi adalah:
              dunia Islam dulu pernah memimpin sains dan teknologi berdasarkan filsafat dan logika kemudian melemah di banyak wilayah Sunni. Di dunia Sunni bahkan pelajaran filsafat dikeluarkan dari kurikulum pendidikannya karena dikhawatirkan bisa meragukan ajaran agama.
              Ilmu logika atau mantiq yang awalnya alat berpikir untuk menemukan ilmu pengetahuan baru disederhanakan hanya untuk memahami ilmu Ushul fiqih, fiqih, dan teologi (ilmu kalam).

              Akibatnya sejak abad ke-13 di dunia sunni sudah tidak ditemukan karya-karya ilmiah berbasis filsafat dan logika yang lebih mendalam sebagai pengembangan dari temuan-temuan ilmuwan abad 9 sampai 12. Berjilid jilid karya baru hanya sekitar tafsir alquran, hadis, fiqih, dan tasawuf.

              Hal ini berbeda dengan di dunia muslim Syiah. Tradisi filsafat bertahan lebih lama di Persia.
              Pendidikan ulama Syiah masih mempelajari filsafat dan logika sampai sekarang.

              Dengan tradisi filsafat dan logika yang sangat mengakar sejak pra Islam sampai sekarang maka bangsa Iran yang Syiah tidak kesulitan mengembangkan sains dan teknologi modern. Hal ini berbeda dengan dunia Sunni yang sudah asing dengan filsafat dan logika sehingga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern harus belajar lagi kepada bangsa Barat dan jumlahnya sangat terbatas.

              Apalagi di dunia Muslim Indonesia. Hampir semua perguruan tinggi tidak mengajarkan filsafat dan logika. Maka riset ilmu alamnya hanya replikasi saja.

              Lebih parah riset ilmu sosial. Risetnya hanya meneliti opini responden, informan, dan peserta FGD. Lalu dikotak-katik pakai statistik terus dibilang temuan ilmiah. La ini mitos kok dibilang ilmiah. Begitu juga yang deskripsi opini informan dan peserta FGD. Deskripsi opini dibilang ilmiah. Ini kan mitos: percaya pada opini.

              _________________

              *Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si. adalah seorang pakar di bidang Administrasi Publik dan Pemerintahan Daerah yang saat ini menjabat sebagai Ketua Senat Akademik Universitas Terbuka (UT) untuk periode 2022–2027. Beliau merupakan sosok inspiratif bagi dunia pendidikan jarak jauh di Indonesia karena merupakan alumni angkatan pertama UT tahun 1984 yang berhasil meraih gelar Guru Besar.

              Bidang Keahlian & Kontribusi

              • Fokus Riset: Beliau sangat aktif dalam penelitian mengenai kebijakan pendidikan, pemerintahan daerah, pengembangan masyarakat, dan administrasi publik.
              • Karya Ilmiah: Telah menulis berbagai buku teks dan artikel ilmiah yang banyak disitasi, terutama terkait teori administrasi dan otonomi daerah.
              • Jabatan Akademik: Diangkat menjadi Guru Besar (Professor) pada Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) UT sejak tahun 2015.

              Beliau sering membagikan pemikirannya mengenai filsafat administrasi, metodologi penelitian kuantitatif/kualitatif, serta perkembangan sains melalui berbagai platform edukasi.

              Tinggalkan Balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

              2 komentar

              1. Pasca Runtuhnya Daulah Khilafah, negeri² kaum Muslimin semakin dicabik², diperdaya hingga dibantai sampe ratusan ribu nyawa melayang sampe dihinakan oleh Musuh..

                Para penguasa (rezim) Sunni hampir seluruhnya mengekor ke Barat (khususnya AS + Israel).. Dan tdk ada kemandirian khususnya trkait ilmu Sains & Teknologi..

                Termasuk negeri Iran sklipun pd dasarnya ikut terkotak-kotak oleh Nation State.. Nmun iran memiliki tekad kemandirian & Berani melawan penindasan Barat, khususnya tatkala imam Ali Khmanaei dibunuh secara keji oleh AS + zionis israel setanyahu + si trump, laknatullaah alaihim!!

                Jika oleh iran saja AS + ISRAEL keteteran & mulai kalah, apalagi nanti ketika Khilafah yang kedua muncul kembali di tengah² geopolitik internasional masa kini?!..

                Insya Allah Masa depan Kemenangan ada pd Umat Islam!!!☝️