Mengapa Anies Membuat Partai Gerakan Rakyat?
✍🏻Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik
Banyak orang bertanya mengapa Anies buat Partai Gerakan Rakyat. Pendukung Anies ada yang pro dan kontra. Yang pro menyatakan bahwa Anies perlu kendaraan partai sendiri, agar tidak dikadalin sebagaimana pemilihan gubernur DKI 2024. Selain itu kendaraan partai ini juga diperlukan untuk membuktikan Anies adalah seorang manajer yang handal, di samping seorang intelektual yang hebat.
Beberapa orang khawatir bahwa Partai Gerakan Rakyat ini justru memecah belah pendukung Anies yang keberadaannya lintas partai. Pendukung Anies tersebar di Nasdem, PKS, PKB dan juga di partai-partai yang lain. Mereka yang sudah menjadi aktivis partai itu biasanya enggan untuk pindah Partai Gerakan Rakyat (PGR), meski mereka mungkin akan tetap mendukung Anies dalam pemilihan presiden 2029.
Keuntungan bagi Anies
Bagi Anies Baswedan, keuntungan utama Partai Gerakan Rakyat (PGR) adalah kemandirian politik. Ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kehendak elite partai lama dalam menentukan arah pencalonan, pasangan calon, maupun agenda politik.
Pengamat politik Ujang Komaruddin (Universitas Al-Azhar Indonesia) menilai kehadiran figur Anies memberi nilai jual instan bagi partai baru. “Anies adalah figur dengan popularitas nasional. Bagi partai baru seperti Gerakan Rakyat, kehadiran Anies jelas menjadi pengungkit elektoral dan alat branding yang sangat kuat,” kata Ujang.
Dalam konteks ini, PGR berfungsi sebagai rumah politik bagi para relawan dan simpatisan Anies yang sebelumnya tersebar lintas partai. Transformasi dari gerakan relawan ke partai memberi struktur permanen: kepengurusan daerah, kaderisasi, hingga alat konsolidasi suara.
Selain itu, PGR memungkinkan Anies membangun narasi politik jangka panjang pasca Pilpres 2024—bukan sekadar tokoh yang “dipinjam” partai, melainkan figur sentral yang membentuk partai itu sendiri.
Pertaruhan Anies
Memang PGR ini pertaruhan bagi Anies. Jika PGR gagal menembus parlemen justru bisa menjadi bumerang, karena ia akan dicap sebagai tokoh yang gagal membesarkan partainya sendiri.
Secara elektoral, tantangan PGR sangat berat. Ambang batas parlemen (parliamentary threshold) memaksa partai baru bekerja ekstra keras untuk sekadar lolos ke DPR. Guru Besar Ilmu Politik Universitas Andalas, Prof. Asrinaldi, menilai sistem politik Indonesia tidak ramah bagi tokoh nasional yang berdiri di luar atau membangun partai baru tanpa dukungan kuat.
“Dalam sistem kepartaian kita, tidak menjadi bagian dari partai besar atau tidak memiliki basis struktural yang kuat akan merugikan secara politik,” kata Prof. Asrinaldi. Ia menambahkan, popularitas tokoh tidak otomatis berubah menjadi suara partai jika tidak diikuti mesin partai yang rapi hingga tingkat desa. Dengan kata lain, Anies mungkin populer, tetapi PGR belum tentu elektoral.
Masalah lain yang tak terhindarkan adalah pendanaan. Membangun partai dari nol membutuhkan biaya besar dan berkelanjutan: kantor daerah, logistik, saksi pemilu, kampanye, hingga operasional harian. Ujang Komaruddin menegaskan bahwa tantangan finansial sering menjadi titik lemah partai baru. “Tanpa dukungan dana besar dan stabil, partai baru akan kelelahan sebelum mencapai pemilu. Politik elektoral di Indonesia sangat mahal,” ujarnya.
Jika PGR gagal membangun sumber pendanaan yang transparan dan kuat, partai ini berisiko menjadi partai papan bawah atau bahkan menghilang sebelum 2029.
Di sinilah muncul pertanyaan strategis: apakah Anies perlu sepenuhnya bertumpu pada Partai Gerakan Rakyat atau tetap menjaga hubungan dengan partai-partai yang mendukung pada 2024? Secara realistis, Anies masih memiliki peluang besar untuk melobi partai mapan seperti Nasdem dan PKS, dua partai yang memiliki rekam jejak dukungan terhadapnya.
PKS, misalnya, memiliki basis pemilih ideologis yang relatif solid dan struktur kader hingga akar rumput. Nasdem kuat secara logistik dan pengalaman dalam pemilu. Ray Rangkuti melihat koalisi sebagai pilihan yang lebih rasional, “Partai baru bisa menjadi alat tawar, tapi untuk menang, Anies tetap membutuhkan partai besar yang punya kursi, dana, dan jaringan,” ujarnya.
Dalam skema ini, PGR tidak harus menjadi satu-satunya kendaraan, melainkan alat tekanan politik agar posisi tawar Anies dalam koalisi lebih kuat.
Masa depan PGR sangat ditentukan oleh satu hal: apakah ia bisa melampaui figur Anies Baswedan. Jika PGR mampu membangun ideologi yang jelas, merekrut tokoh-tokoh non-Anies, dan lolos ke parlemen, maka ia bisa menjadi kekuatan politik baru yang relevan.
Namun jika tidak, PGR hanya menjadi kendaraan yang menurunkan kredibilitas Anies.
Maka sambil membangun PGR agar menjadi partai yang besar dan mandiri, Anies harus tetap membuka ruang koalisi dengan NasDem, PKS, dan partai mapan lainnya. Dengan begitu, Anies tidak menggantungkan masa depannya pada satu kendaraan saja, tetapi menyiapkan beberapa jalur menuju 2029.
Menurut survei Media Survei Nasional (Median) terkini, Anies menempati posisi kedua dalam elektabilitas calon presiden, dengan angka sekitar 19,9 %, hanya selisih kurang lebih 7,9 % dari pemimpin survei, Prabowo Subianto, yang berada di sekitar 27,8 %. Posisi ketiga diduduki Dedi Mulyadi di kisaran 17,4 %.
Jangan sampai Anies mengulangi kegagalan tokoh Islam Amien Rais pada pemilu 1999 dan 2004. Ketokohan Amien Rais pada 1997-1999, sulit dikalahkan dengan tokoh lain. Bila Amien pidato atau hadir di suatu tempat, maka ribuan masyarakat berbondong-bondong menyaksikannya. Tapi ketika Amien mencoba membuat partai nasionalis relijius (PAN), perolehan suaranya kurang menggembirakan. Sehingga akhirnya Amien Rais gagal menjadi presiden dan hanya menjadi Ketua MPR.
Beberapa tokoh Islam saat itu menyayangkan, karena Amien tidak membuat atau mau bergabung dengan Partai Islam yang jelas-jelas pendukungnya militan saat itu. Baik bergabung dengan PBB, PPP atau PKS. Amien menyatakan saat itu Partai Islam adalah seperti baju yang sempit.
Anies memang beda Amien Rais. Bila Amien Rais kental keislamannya, Anies agak cair. Meski keislamannya juga tidak diragukan. Anies bisa merangkul kalangan non Muslim, anak-anak muda dan juga pihak Barat. Anies dianggap sosok yang agamis tapi tidak menakutkan bagi pemeluk agama lain. Anies juga mempunyai keunggulan dalam manajemen dan pengalaman organisasi yang panjang. Apakah Anies akan berhasil dengan Partai Gerakan Rakyat 2024? Mudah-mudahan. Wallahu azizun hakim.







Komentar