✍🏻Ayman Rashdan Wong
Masalah Afghanistan-Pakistan sebenarnya cukup sederhana.
Alasan mereka bertikai: Pakistan marah karena Taliban Afghanistan dituduh mendukung Taliban Pakistan (Tehrik-i-Taliban Pakistan/TTP).
Taliban tidak hanya ada di Afghanistan. Mereka juga ada di Pakistan.
Pada tahun 2001, ketika Bush menyerang Afghanistan dan pemerintahan Taliban runtuh, mereka melarikan diri ke perbatasan Pakistan untuk menunggu kembalinya mereka.
Perbatasan Afghanistan-Pakistan merupakan tempat tinggal banyak suku Pashtun. Suku Pashtun adalah kelompok etnis mayoritas di Afghanistan. Di Pakistan, mereka juga salah satu kelompok etnis utama, bersama dengan suku Punjabi, Sindhi, dan Baloch (mantan PM Pakistan, Imran Khan, juga berasal dari suku Pashtun).
Dan mayoritas anggota Taliban memang berasal dari suku Pashtun. Oleh karena itu, suku Pashtun di Pakistan mendukung saudara-saudara mereka yang jatuh di Afghanistan oleh serangan AS.
Seiring waktu, Taliban berhasil bangkit kembali dan menyerang pemerintah boneka AS di Afghanistan.
Pada saat yang sama, suku Pashtun di Pakistan membentuk cabang Taliban mereka sendiri. Nama lengkapnya adalah Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP).
Mereka terinspirasi oleh kesuksesan saudara-saudara mereka di Afghanistan. Mereka juga ingin melawan pemerintah Pakistan, yang mereka anggap “tidak Islami”.
Dan begitu, perang antara Pakistan dan “Taliban Pakistan” pun dimulai.
Awalnya, Taliban Afghanistan sibuk mencoba merebut kembali negaranya sendiri dan tidak punya waktu untuk konflik di Pakistan.
Namun, setelah Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, Pakistan mengklaim kedua kelompok Taliban mulai berkolaborasi untuk mengacaukan Pakistan. Hubungan kedua negara menjadi semakin tegang.
Mereka bentrok tahun lalu (2025). Setelah itu, situasi mereda untuk sementara waktu. Kini, pertempuran kembali berkobar.
Banyak negara Islam mencoba menjadi mediator, tetapi upaya tersebut gagal karena kedua belah pihak terlalu keras kepala.
Selain masalah Taliban, ada masalah besar lainnya: Garis Durand (Durang Line).

Garis Durand adalah perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan. Garis ini ditarik oleh seorang pejabat Inggris bernama Mortimer Durand pada tahun 1893, itulah mengapa disebut Garis Durand.
Wilayah Pashtun di Pakistan (warna merah) awalnya merupakan wilayah Afghanistan. Namun, Inggris memasukkan wilayah tersebut ke dalam India Britania.
Ketika India Britania merdeka dan terbagi menjadi India dan Pakistan, wilayah tersebut secara otomatis dimasukkan ke dalam Pakistan.
Hingga saat ini, Afghanistan masih tidak mengakui perbatasan tersebut sebagai milik Pakistan, termasuk pemerintah Taliban saat ini.
Inilah yang membuat Pakistan marah. Jika Anda membaca sejarahnya, Taliban awalnya naik ke kekuasaan dengan bantuan Pakistan pada tahun 1990-an.
Pakistan beranggapan bahwa jika mereka menempatkan pemerintahan “Islamis”, mereka akan kurang nasionalis daripada pemerintahan Afghanistan sebelumnya. Harapannya, dalam semangat keyakinan yang sama, mereka tidak akan lagi mengklaim Garis Durand.
Tapi ternyata, Taliban cukup ‘nasionalis’. Jadi Pakistan merasa tidak bisa membiarkan Taliban yang “dari penggorengan ke api” duduk nyaman. Mereka harus menggunakan kekuatan militer untuk menaklukkan mereka.
Situasi tegang ini menciptakan peluang bagi kekuatan besar lain untuk terlibat: India.
Anda mungkin terkejut mengetahui bahwa salah satu sekutu terdekat Afghanistan saat ini adalah India.
Bagaimana bisa? Satu negara adalah penindas berat umat Islam (India), sementara yang lain memiliki citra sebagai pejuang Islam (Taliban).
Alasannya sederhana: ‘Musuh dari musuhku adalah temanku’. Tidak peduli seberapa Islam suatu negara, ia tetap tunduk pada hukum kekuatan geopolitik.
Jika India mulai terlibat, masalah ini pasti akan menjadi lebih rumit.
Banyak orang berkomentar, “Betapa sedihnya Muslim saling berperang selama Ramadan.”
Faktanya, itulah sifat hubungan internasional. Muslim telah saling berperang sejak zaman dahulu kala.
Jika dilihat melalui lensa “realistis”, perang pada hakikatnya adalah hal yang biasa. Perdamaian adalah pengecualian.
Jadi, tidak apa-apa. Biarkan mereka menyelesaikan urusan geopolitik mereka sendiri.
(*)







Cikal bakal permusuhan manusia adalah dari anak nabiallah Adam alaihi salam yaitu Qabil dan Habil
Sampai era sekarang masih terjadi