Berhasil menjinakkan harga BBM di tengah badai global membuat Bahlil layak dijuluki “Pangeran Hormuz” sang penyelamat dompet rakyat. Ketika harga minyak dunia sedang ugal-ugalan, harga BBM subsidi tidak naik, apakah ini bukti ‘kesaktian’ Sang Menteri atau sekadar ‘jurus maut’ (nekat) demi menjaga ketenangan sebelum badai inflasi benar-benar datang?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi tidak naik karena APBN masih mampu menopang fluktuasi harga minyak mentah dunia, serta potensi pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari tambang yang meningkat, yang dapat menutupi beban subsidi. Pemerintah memilih menahan harga untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi.
Berikut adalah poin-poin utama kebijakan tersebut menurut Bahlil:
- Ketahanan APBN & PNBP: Kenaikan harga minyak dunia di atas asumsi ($100 per barel) diimbangi dengan pendapatan negara dari sektor lain (royalti tambang dan ekspor nikel), sehingga defisit tidak melebar.
- Stabilitas Ekonomi: Bahlil menekankan perlunya menjaga harga agar tidak memberatkan masyarakat.
- Stok Aman: Cadangan energi nasional dalam kondisi aman di atas standar minimum, dan pemerintah terus membangun penyimpanan (storage) baru, contohnya di Karimun.
- Arahan Presiden: Keputusan menahan harga merupakan bagian dari strategi penanganan tekanan ekonomi yang mirip dampak COVID-19, atas arahan Presiden Prabowo Subianto.









kadrun tidak senang kalau pemerintah mampu menjaga stabilitas dan berprestasj
main subsidi silang dg harga minyak goreng, sekarang migor udah 21rb