✍🏻M Rizki Fauzi
Suatu ketika, saat melewati check point pasukan Kurdi SDF di sebuah kota di Suriah bagian timur laut, beberapa Humvee terlihat keren di pinggir jalan dengan seorang tentara terlihat di atasnya memegang “Ma Deuce” kaliber 50, keren sekali. Pasukan Kurdi SDF yang katanya berjumlah sekitar 100 ribu petempur dan well-equipped dengan persenjataan dan logistik dari Amerika, WOW! Keren.
Namun ketika berhadapan dengan tentara Suriah yang baru, semua kesatuan pasukan Kurdi, SDF, PYD, YPG dan YPJ, semuanya menjadi macan kertas. Itu kata para pengamat.
Menurut sejarah, Islam memasuki wilayah Kurdi sekitar 1380 tahun yang lalu, dan semua orang Kurdi memeluk agama Islam kecuali kelompok kecil yang tetap menganut kepercayaan asli mereka: kelompok Yazidi. (Salahuddin Al-Ayyubi adalah dari keturunan muslim Kurdi)
Ada yang bilang, Yazidisme adalah agama yang didasarkan pada penyembahan Setan. Sebagian orang mungkin menertawakan hal ini, tetapi ini adalah fakta yang sudah diketahui umum, coba saja kamu bilang “Auzubillah mina Syaitanir Rajin…” di hadapan seorang Yazidi, dia akan menganggapnya sebagai penghinaan, dan mungkin dapat menyebabkan reaksi negative sekali.
Secara historis, perselisihan antara Kurdi Muslim, dan Kurdi Yazidi bukanlah perselisihan etnis, melainkan perselisihan agama dan keyakinan. Sepanjang sejarah telah terjadi perang, dan konflik antara kedua belah pihak karena Yazidi tetap menganut politeisme dan menyembah api. Ini adalah fakta yang tidak dapat dihapus oleh slogan-slogan modern. Orang-orang Yazidi selalu memandang Kurdi Muslim, sebagai pengkhianat atas iman nenek moyang karena Kurdi Muslim memeluk Islam dan meninggalkan penyembahan api. Oleh karena itu, di mata Yazidi, Muslim Kurdi, adalah musuh abadi bahkan lebih dimusuhi daripada Muslim Arab.
Konstelasi Politik dan Keamanan yang terjadi di kawasan sejak Perang Dingin, telah memberikan kesempatan emas bagi kelompok etnis Kurdi tertentu untuk mengeksploitasi situasi politik dan militer di Suriah atas nama Kurdi.
Milisi Kurdi PKK di Turki dan SDF di Suriah bukanlah gerakan dengan satu warna, satu ideologi, dan bukan pula proyek murni Kurdi seperti yang selama ini digadang-gadangkan. Struktur sebenarnya dari SDF adalah: di puncak sebagai pemimpin tertinggi itu Abdullah Öcalan (Kurdi Alawite Nusayri); tingkat kepemimpinan ring pertama terdiri dari penganut paham Komunis ateis (anti-agama); tingkat kepemimpinan ring kedua diisi oleh Yazidi (anti-Islam); tingkat ring ketiga (pelaksana) diisi oleh penganut aliran kiri sekuler (anti-agama); sementara tingkat ring keempat (pelaksana di lapanga) terdiri dari warga Suriah dan bangsa Asyur (Kristen). Adapun para petempur secara umum, mereka adalah campuran dari etnis Kurdi dan Arab, Druze, Alawite, dan lainnya, mereka digunakan sebagai umpan, bukan sebagai pengambil keputusan!
AS sendiri yang sejak awal membentuk SDF dan melatih serta mempersenjatai mereka, pada akhirnya meninggalkan mereka, Dubes AS untuk Turki, Tom Barrack hari ini mengatakan, “SDF’s role in Syria has largely expired after ISIL”, sudah selesai perannya setelah ISIS habis.

Bahkan katanya dalam pertemuan antara Komandan SDF, Mazloum Abdi; Mesut Barzani dan Tom Barrack, di Erbil 3 hari lalu, wak Barrack menegur Mazloum Abdi kira-kira katanya gini, “Ente salah, karena tidak melaksanakan Kesepakatan 10 Maret, jangan anggap Assad masih di Damaskus, Damaskus sekarang sudah beradaptasi strategy bersama AS.”
Pada akhirnya, Pencipta alam semesta yang ingin Suriah kembali bersatu.
Makanya dengan mudah mereka menumbangkan rezim Assad yang berkuasa 61 tahun dalam 7 hari, dan menumbangkan pasukan SDF dalam 48 jam!
ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAMD.







Komentar