LUKA LAMA

Akhir-akhir ini, publik digemparkan oleh kabar tragis: Affan Kurniawan, seorang ojek online yang hanya ingin mengantarkan pesanan pelanggan, justru tewas mengenaskan setelah dilindas mobil panser Brimob di tengah ricuhnya demo di depan DPR.

Peristiwa ini seolah membuka kembali ingatan kelam bangsa: Tragedi Tanjung Priok 1984. Bedanya, kalau kini satu nyawa rakyat jelata kembali melayang di jalanan ibu kota, maka kala itu ratusan nyawa muslim ditumpahkan begitu saja, tanpa belas kasih, tanpa kemanusiaan.

Tahun 1984, Orde Baru berada di puncak represi. Ekonomi terpuruk, harga BBM naik 60%, jurang ketimpangan makin lebar. Suara kritik dari para ulama pun dibungkam, terlebih setelah rezim mewajibkan Pancasila sebagai asas tunggal bagi semua organisasi.

Di Mushola As-Sa’adah, jamaah berencana menggelar pengajian akbar. Sebuah pamflet sederhana ditempel di dinding mushola—tanda undangan persaudaraan dan dakwah. Tapi yang terjadi sungguh di luar nalar.

Seorang oknum aparat tiba-tiba masuk ke mushola tanpa melepas sepatu, meninggalkan jejak pantofel di lantai suci. Lebih dari itu, ia merobek pamflet dan menyiramnya dengan air comberan.
Bagi warga Tanjung Priok, itu bukan sekadar penghinaan. Itu adalah penistaan. Itu adalah pelecehan terhadap rumah Allah.

Dipimpin Ustadz Amir Biki, ribuan warga turun ke jalan dengan damai. Namun yang menyambut mereka bukanlah telinga yang mau mendengar, melainkan moncong senjata.

Tanpa aba-aba, peluru langsung diberondongkan ke tubuh rakyat.
Suara tembakan memecah malam, jeritan ibu mencari anaknya, teriakan takbir bercampur dengan rintihan kesakitan.

Lalu datanglah panser besar yang tak mengenal belas kasih. Ia menggilas tubuh-tubuh yang jatuh, dan saksi mata menyebut, “suara tulang patah terdengar seperti ranting kering diinjak.”

Mayat-mayat diangkut layaknya karung sampah, lalu regu pembersih menyapu darah seakan tak pernah ada tragedi.

Mereka yang selamat bukan berarti bebas. Banyak yang justru diseret ke penjara. Puluhan ibu kehilangan anaknya, puluhan istri jadi janda seketika.

Sampai hari ini, keluarga korban masih bertanya: di mana kuburan mereka?
Negara kala itu hanya mengakui 7 korban jiwa, padahal catatan warga dan LSM menunjukkan lebih dari 400 orang yang gugur.

Jamaah pengajian itu tak pernah kembali pulang. Nama mereka hilang dari catatan resmi, namun tidak dari hati para keluarga yang ditinggalkan.

Tragedi Tanjung Priok bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah luka bangsa yang belum pernah dijahit dengan keadilan.

Dan kini, setelah kita kembali menyaksikan seorang anak bangsa bernama Affan Kurniawan tewas di jalanan karena kekerasan aparat, luka itu terasa terkuak lagi.

Apakah kita akan membiarkan darah rakyat terus tumpah tanpa harga?
Apakah nyawa rakyat hanya sekadar angka dalam laporan?

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang pandai melupakan, melainkan yang berani menghadapi masa lalu dengan jujur. Karena tanpa keadilan, luka itu akan terus bernanah, dari generasi ke generasi.

📖 Sumber: Tanjung Priok Berdarah, Gema Insani Press, Jakarta, 1998

(NGOPIDIYYAH)

Komentar