Prabowo Siap Terbang ke Teheran untuk Jadi Mediator
Seperti yang Sodara tahu, Amerika Serikat bersama Israel telah melancarkan serangan terhadap Iran. Alasannya? Amerika menuntut agar Iran menghentikan kegiatan memperkaya uraniumnya sehingga bisa membuat bom nuklir. Tidak itu saja, Trump mengindikasikan perubahan rejim di Iran.
Tahun lalu, Amerika sudah membom fasilitas nuklir Iran. Saat itu Trump dan pejabat-pejabat Amerika berkokok bahwa mereka sudah memusnahkan (obliterated) semua kemampuan Iran membuat bom nuklir.
Alasan Amerika berubah-ubah. Sebelum ini, Amerika mengancam akan membom Iran sebagai hukuman tindakan keras Teheran terhadap demonstran anti-rejim. Sekarang, kembali ke nuklir.
Tentu Sodara tidak lupa bahwa Trump juga membuat Board of Peace. Ini usaha untuk menjaga perdamaian. Dan siapa yang sangat bersemangan mendukungnya? Yak, betul: Indonesia!
Hanya dua minggu sesudah dideklarasikan di Washington DC, dimana Presiden Indonesia mengangkat piagam pendirian Board of Peace, Trump membom Iran.
Dan, Indonesia menawarkan diri sebagai mediator. Serius?
Saya tidak tahu mengapa Indonesia bereaksi sangat cepat. Hari-hari sebelum AS-Israel menyerang Iran ini ada perundingan soal perkayaan uranium Iran ini. Perundingan itu difasilitasi oleh Menlu Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi.
Beberapa jam sebelum serangan itu, Menlu Oman, seorang diplomat terhormat, memberikan wawancara dalam program Face the Nation di TV AS, CBS. Ia mengatakan bahwa kesepakatan sudah ada dalam jangkauan. Rupanya, AS menggunakan perundingan ini untuk mengulur waktu untuk mempersiapkan perang.
Saya menonton beberapa interview tentang diplomasi ini. Tingkah laku AS yang tidak menghormati pihak yang memediasi ini menimbulkan pertanyaan: Siapa yang mau menjadi mediator jika tingkah laku yang dimediasi tidak berkomitmen pada mencari titik temu tetapi pada perang?
Hello, Indonesia? Dalam pandangan saya, Indonesia tidak memiliki standing (posisi) dalam perundingan mengatasi perang ini. Mengapa? Indonesia berada dalam Board of Peace-nya Trump, yaitu pihak yang menginginkan perang!
Saya tidak tahu siapa yang menasehati Presiden dalam hal ini. Atau ini memang sekedar ledakan emosional dari seorang presiden yang memang tidak bisa dinasehati.
Sama seperti keputusan tarif dan Board of Peace, apakah Presiden mendapat masukan (counsel) dari orang-orang yang benar-benar cakap? Dari para diplomat yang lama berkarier di Amerika?
Saya ragu. Apakah Presiden pertama-tama mengerti mengapa AS terjun ke dalam perang ini? Apakah Presiden mengerti tujuannya? Apakah Presiden paham berapa lama perang ini akan berlangsung? Apakah Presiden pernah berusaha mencari jawaban, apa ‘exit strategy’ dari Trump yang memulai perang ini?
Juga, apa yang menjadi parameter bagi AS bahwa perang ini selesai dan Trump bisa mengklaim “kemenangan”? Kalau Anda menjadi mediator, sebaiknya Anda tahu hal-hal seperti itu.
Sama juga terhadap Iran. Seberapa kuat rejim revolusioner ini bisa bertahan? Apakah mereka akan menyerah begitu saja dan memberi kemenangan untuk AS-Israel? Kecil sekali kemungkinan. Seberapa jauh tuntutan Trump bisa dipenuhi oleh Iran karena selain pemusnahan bahan nuklir, Trump juga minta penggantian rejim.
Kemudian, seberapa jauh Presiden Indonesia paham akan dinamika politik dalam negeri AS? Bahwa mid-term election (pemilu sela) tinggal beberapa bulan lagi. Bahwa Trump sangat tidak populer disana. Apakah perang ini hanya pengalihan dari isu dalam negeri Trump? Ataukah ada sebab lain? Bagaimana memuaskan dan memberi “kemenangan” sebagai jalan keluar untuk Trump?
Politik luar negeri kita justru hancur lebur karena ditangani langsung oleh Presiden. Menteri Luar Negeri kita jelas tidak cakap untuk menangani persoalan-persoalan internasional yang rumit. Sekarang tampaknya, Menlu ini lebih banyak mengurusi partainya ketimbang politik luar negeri. Dan memang sebaiknya dia mengurus partai saja! (Menlu Sugiono adalah Sekjen Partai Gerindra -red)
Menurut saya, politik luar negeri biarlah diurus para diplomat profesional yang sudah terasah insting politik internasionalnya. Mereka tahu dimana bahaya. Mereka bisa bertindak untuk memaksimalkan dana menjaga kepentingan nasional Indonesia.
Coba lihat India dalam soal. Mereka tahu bahwa ada gugatan ke Mahkamah Agung AS. Dan kalau Trump kalah, maka soal tarif ini akan berantakan. Para diplomat India menasehati PM Narendra Modi untuk mengulur-ulur waktu. Sementara Trump mendesak terus. Karena apa? Karena Trump ingin kemenangan! Dia ingin tampak menang di depan rakyat Amerika.
Dan, masuklah Indonesia … yang dengan unyu-unyu dan amat amatiran setuju saja dengan segala macam persyaratan yang dituntut AS. Indonesia menyerah total! Sekalipun kemudian orang-orangnya Prabowo berusaha membuat narasi sebaliknya: kita menang! 1,819 jenis barang kita masuk ke AS dengan tarif 0%! Nilai barang-barang itu jauh lebih murah ketimbang yang dimasukan AS ke Indonesia. Trump sudah menjual perjanjian dagang AS-Indonesia ini sebagai kemenangan besar AS!
Dan, sekarang? Indonesia jadi mediator? Saya benar-benar tidak bisa membayangkan ini. Prabowo yang disanjung-sanjung oleh Trump dan memperlihatkan kedekatan dengan Presiden Amerika ini akan menjadi jembatan untuk Iran?
Mediator itu adalah pihak netral. Apakah dunia internasional akan melihat Indonesia sebagai pihak netral?
Pihak yang barangkali paling senang akan hal ini adalah Bibi Netanyahu. Sudah pasti, jika Indonesia menjadi mediatornya, Israel akan dengan mudah mengakali Indonesia yang sudah berjanji akan menjamin keamanan Israel. Bukankah ini persis seperti yang dijanjikan Prabowo? Nah!
(MADE SUPRIATMA)







Sama Zelensky sj dilepeh elu, wo … sama setanyaho apalagi … sama trump? Jongos kok mau cawe2 gawean majikan, elo ambilin map yg kemarin sj, wo …