Laporan: Rudal Hipersonik Fattah 2 Iran Disebut Hampir Mustahil Dicegat

Sebuah laporan dari situs pertahanan internasional Military Watch Magazine menyebut rudal hipersonik Fattah 2 milik Iran sebagai ancaman serius bagi sistem pertahanan udara modern. Dalam artikelnya, media tersebut menilai sistem anti-rudal yang ada saat ini praktis tidak mampu mencegat kendaraan luncur hipersonik tersebut.

Rudal Fattah 2 dikategorikan sebagai hypersonic glide vehicle (HGV), yakni wahana luncur yang dapat bermanuver di luar pola balistik konvensional. Berbeda dengan rudal balistik biasa yang mengikuti lintasan dapat diprediksi, kendaraan luncur hipersonik mampu mengubah arah dan ketinggian secara dinamis dengan kecepatan sangat tinggi.

Menurut laporan itu, kombinasi kecepatan ekstrem dan kemampuan manuver lateral ribuan kilometer di atas Batas Armstrong membuat sistem pertahanan udara tradisional kesulitan melakukan penguncian target. Rekaman yang diklaim berasal dari Israel disebut menunjukkan sedikitnya tiga serangan Fattah 2 berhasil menghantam target penting sejak 1 Maret.

Tekanan terhadap sistem pertahanan Israel dan Amerika Serikat juga disebut meningkat akibat gelombang serangan rudal Iran sebelumnya. Jumlah pencegat yang terbatas menjadi faktor krusial dalam menghadapi serangan bertubi-tubi.

Laporan tersebut turut mengutip pernyataan Yuval Baseski dari Rafael Advanced Defense Systems pada Agustus 2025. Ia mengakui bahwa sistem pertahanan udara saat ini dirancang untuk menghadapi target yang lebih lambat. Untuk mencegat objek berkecepatan Mach 10, dibutuhkan sistem yang bergerak jauh lebih cepat — sesuatu yang hampir mustahil dicapai di atmosfer karena hambatan gesekan.

Baseski menyarankan konsep “pertahanan zona”, yakni penggunaan beberapa pencegat yang mencakup area tertentu dan menyerang ancaman saat mendekat. Namun, menurut Military Watch, Israel belum menunjukkan kemampuan operasional untuk menerapkan pendekatan tersebut dalam waktu dekat.

Di tengah eskalasi konflik, Islamic Revolution Guards Corps (IRGC) juga mengumumkan pelaksanaan gelombang ke-16 Operasi “True Promise 4”. Jika klaim efektivitas Fattah 2 ini akurat, maka kemunculannya berpotensi menandai babak baru dalam perlombaan teknologi antara sistem serangan hipersonik dan pertahanan udara global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *