✍🏻Erizeli Jely Bandaro
Terorisme memiliki kesan yang menakutkan, tetapi ia lahir dari keyakinan, betapapun keliru dan sesatnya keyakinan itu. Seorang teroris percaya sedang berjuang untuk sesuatu di luar dirinya. Bisa karena keyakina agama, ideologi, atau tafsir kebenaran yang ia anggap mutlak. Ia salah, bahkan kejam, tetapi masih memiliki narasi pengorbanan.
Koruptor tidak demikian. Korupsi adalah kejahatan tanpa ideologi.Tidak ada nilai yang ia bela.Tidak ada kebenaran yang ia perjuangkan. Tidak ada pengorbanan selain milik orang lain.
Koruptor lebih jahat bukan karena dampaknya semata, tetapi karena niatnya sepenuhnya egoistis. Ia merampas hak jutaan orang bukan demi cita-cita, melainkan demi kenyamanan pribadi. Ia mencuri masa depan anak-anak, menunda pembangunan, memperpanjang kemiskinan—semua dilakukan tanpa rasa malu dan tanpa alasan moral apa pun. Dalam perspektif spiritual, ini adalah bentuk kejahatan yang paling hampa.
Koruptor tidak hanya melanggar hukum negara; ia mengkhianati amanah kehidupan. Setiap jabatan adalah titipan. Setiap wewenang adalah ujian. Setiap tanda tangan adalah doa yang seharusnya dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Yang Maha Melihat. Koruptor memilih untuk menukar amanah dengan kenikmatan sesaat. Ia tahu perbuatannya salah, namun tetap melakukannya. Inilah letak kehinaan terdalam. Kejahatan yang dilakukan dalam keadaan sadar, tenang, dan penuh perhitungan.
Teroris mungkin menghancurkan satu tempat. Koruptor menghancurkan sistem. Teroris menciptakan ketakutan yang terlihat. Koruptor menciptakan penderitaan yang sunyi—pelan, sistematis, dan diwariskan lintas generasi. Dalam banyak tradisi spiritual, pengkhianatan terhadap amanah dipandang lebih berat daripada dosa akibat amarah atau fanatisme. Karena amarah bisa lahir dari kebodohan, fanatisme dari kesesatan. Tetapi korupsi lahir dari keserakahan yang dipelihara, dari hati yang memilih menutup nurani demi kenyamanan.
Tulisan ini hanya sebagai pengingat saja. Bahwa setiap manusia diuji bukan oleh besar kecilnya jabatan, tetapi oleh cara ia memperlakukan kepercayaan. Kita tidak pernah tahu kapan kekuasaan kecil hadir dalam hidup kita. Kesempatan, keputusan, pengaruh. Di situlah karakter diuji.
Jangan iri pada kekayaan hasil korupsi. Ia tidak membawa berkah, hanya menunda kehancuran. Jangan kagum pada kemewahan yang dibangun di atas pengkhianatan. Ia tidak memberi ketenangan, hanya menambah ketakutan. Dan bagi siapa pun yang sedang berada di persimpangan, ingatlah, hidup yang bersih mungkin terasa berat di awal, tetapi ia ringan di akhir. Sebaliknya, hidup dari korupsi terasa mudah di awal, namun berat di sepanjang sisa umur. Karena pada akhirnya, yang paling menakutkan bukan hukuman manusia, melainkan keheningan hati yang tahu bahwa ia telah mengkhianati dirinya sendiri. (*)







Komentar