Komedi Tepi Jurang: Jangan Percaya Prabowo!

Sebuah kritik tajam kembali muncul dari panggung stand up comedy. Kali ini datang dari Yudhit Ciphardian, seorang komedian yang tampil dalam sebuah acara stand up komedi di Netflix bersama Pandji Pragiwaksono. Meski dibungkus tawa, materi yang ia sampaikan sesungguhnya menyimpan kegelisahan yang serius, terutama terkait kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam salah satu segmennya, Yudhit berandai-andai tentang betapa “enaknya” jika Tuhan masih bisa berbincang langsung dengan manusia seperti pada zaman nabi dahulu. Ia lalu melontarkan kalimat satir: “Misalnya di suatu pagi yang indah, Tuhan berkata: ‘Jangan percaya Prabowo’, mungkin Indonesia tidak harus jadi segelap ini.” Kalimat tersebut sontak memancing tawa, namun di baliknya tersimpan kritik keras tentang arah bangsa.

Akhir-akhir ini, nama Prabowo memang tak lepas dari sorotan. Kritik datang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari mata internasional. Penanganan bencana di Aceh dan Sumatera dinilai lamban dan kurang menunjukkan empati negara terhadap warganya yang terdampak. Situasi ini memperkuat kesan bahwa pemerintah kerap hadir terlambat ketika rakyat berada dalam kondisi paling rentan.

Di sisi lain, gelombang protes masyarakat justru dibalas dengan pendekatan represif. Penangkapan aktivis, pembubaran aksi, hingga hilangnya nyawa demonstran akibat tindakan aparat semakin menyulut emosi publik. Negara yang seharusnya melindungi, justru tampak berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri.

Kritik lain yang mengemuka adalah soal jalur komunikasi kekuasaan. Banyak pihak menilai bahwa keluhan rakyat tak pernah benar-benar sampai ke Presiden. Segala masukan dianggap berhenti di meja Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara, yang dinilai menjadi “penyaring tunggal” kritik dan aspirasi. Dalam kondisi ini, Prabowo seolah tidak memiliki “telinga” sendiri untuk mendengar langsung jeritan rakyat.

Stand up comedy Yudhit Ciphardian menjadi cermin kegelisahan publik. Di balik tawa, ada pesan bahwa bangsa ini sedang lelah. Beratnya perjalanan Indonesia hari ini bukan hanya karena krisis dan bencana, tetapi karena rakyat harus berhadapan dengan pemerintahnya sendiri.

Komentar