Klaim impor mobil India hemat Rp43 Triliun adalah perbandingan yang manipulatif

Klaim penghematan Rp43 Triliun adalah perbandingan yang manipulatif. Agrinas membandingkan harga pabrik luar negeri dengan harga e-Katalog lokal yang sudah mencakup PPN, PPh, asuransi, dan jaminan purna jual.

Membayar Rp24,6 Triliun ke India berarti melarikan modal nasional keluar negeri, padahal jika dibelanjakan di dalam negeri, uang tersebut akan menciptakan Multiplier Effect senilai lebih dari Rp 70 Triliun bagi industri baja, ban, aki, dan ribuan UKM komponen di Indonesia.

Industri otomotif memiliki angka pengganda (multiplier) sekitar 2,5x hingga 3x. Artinya, setiap Rp1 triliun yang dibelanjakan di industri lokal, akan menciptakan aktivitas ekonomi sebesar Rp2,5 – 3 triliun di sektor pendukung.

Hemat Rp 43 triliun menurut Agrinas.
Tapi berapa nilai ekonomi yang hilang kalau 105 ribu unit itu tidak diproduksi di dalam negeri?

Bukannya kalian selalu berkoar efisiensi fiskal?
Bukannya kalian selalu menggaungkan strategi industri jangka panjang?

Teriak hilirisasi, TKDN, substitusi impor, tapi tiba-tiba BUMN besar impor massal dengan dalih efisiensi APBN.

GAK NGOTAK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar