Kisah Penguasa Mesir: Firaun Ngutangkhamun Akehtenan III (Periode)

Lahir di pinggiran Thebes dengan nama kecil Mulhotep, ia adalah pria biasa yang bukan berasal dari garis darah murni dewa-dewi utama. Masa mudanya dihabiskan sebagai pengrajin kayu sederhana yang sering bercengkrama dengan pedagang pasar dan nelayan di pinggir Sungai Nil. Kesederhanaan inilah yang awalnya membuat rakyat jatuh hati. Wajahnya yang lugu dan sering tersenyum dianggap sebagai simbol harapan baru.

Karier politiknya meroket tajam. Saat menjabat sebagai Gubernur Thebes, ia mengeluarkan pernyataan legendaris yang tercatat dalam Prasasti Janji Suci:

“Permasalahan banjir tahunan Sungai Nil dan kemacetan kereta unta di Thebes akan lebih mudah saya atasi jika saya menjadi Firaun.”

Rakyat bersorak. Mereka percaya sepenuhnya bahwa Mulhotep memegang kunci pengendali air Sungai Nil.

VISI MESIR EMAS & REBRANDING NAMA

Ketika akhirnya menduduki takhta Firaun, Mulhotep segera melakukan rebranding. Ia merasa nama lamanya kurang menjual untuk visi global. Ia mengganti namanya menjadi Firaun Ngutangkhamun Akehtenan III (Periode).

Kenapa ada embel-embel “III Periode”? Karena ia memiliki ambisi Mesir Emas 2045 SM. Ia meyakini pembangunan infrastruktur Mesir tidak akan selesai hanya dalam satu atau dua masa pemerintahan. Ia butuh waktu lebih lama, meski konstitusi para dewa melarangnya.

Baru sebentar memerintah, Ngutangkhamun mulai merasa gerah di Thebes. Janjinya soal banjir Sungai Nil ternyata tak kunjung terbukti; Thebes tetap banjir, dan macet makin parah. Selain itu, para Pendeta Amun terlalu berisik mengkritik kinerjanya.

“Di Thebes saya tidak bisa kerja, banyak yang nyinyir,” keluhnya pada Wazir Agung.

Maka, lahirlah keputusan kontroversial itu: Memindahkan Ibu Kota Negara.

Ia memilih lokasi antah berantah di gurun pasir yang diberi nama Akehtenan. Alasannya? Agar pemerintahannya bisa “akeh-sentris” (banyak pusatnya) dan jauh dari polusi kritik.

JALUR UNTA CEPAT & DINASTI KELUARGA

Di ibu kota baru inilah ambisi infrastrukturnya menggila. Proyek paling ambisius adalah Jalur Unta Cepat Alexandria-Memphis.

Awalnya, studi kelayakan dilakukan oleh insinyur Romawi. Namun, karena dianggap terlalu mahal dan ribet, Ngutangkhamun membatalkan kontrak itu secara sepihak dan memberikannya kepada kontraktor dari Dinasti Han.

Biayanya? Membengkak drastis. Mesir terpaksa berutang 11.000 tael emas dengan bunga mencekik. Jalur itu dibangun tergesa-gesa, tiang pancangnya miring, dan stasiunnya sering bocor saat hujan. Namun, Ngutangkhamun III (Periode) tetap meresmikannya dengan gunting pita emas, mengklaim ini sebagai “Karya Anak Bangsa Mesir (yang didanai asing).”

Semakin lama berkuasa, lingkaran kekuasaannya semakin sempit. Ia tak lagi percaya pada profesional, melainkan membangun dinasti kecilnya sendiri.

Putra sulungnya, MartaBhakhamun, yang dulunya mengaku hanya ingin jualan Roti Maryam, tiba-tiba didorong maju lewat jalur pintas konstitusi dewa untuk menjadi Walikota Thebes Khusus.

Dua anaknya yang lain pun mendapat posisi strategis. Memphis Angnughet mendadak jadi raja bisnis pisang dan kuliner di seluruh lembah Nil, sedangkan Kahiyopatra dinikahkan dengan Bobbyses II, Penguasa Luxor yang terkenal dengan proyek Lampu Pocong di kuil-kuilnya.

Ketika rakyat protes, Ngutangkhamun mengerahkan pasukan Legiun Rameses (Ransum Gandum Mesir yang dibungkus daun papirus). Ini adalah pejabat-pejabat baru yang diangkat bukan karena skill, tapi karena loyalitas buta. Kerja mereka hanya satu: membalas kritik rakyat dengan narasi, “Kalian kurang bersyukur! Dasar Antek Pendeta Amun!”

PIDATO TERAKHIR & MANUVER MISTERIUS

Memasuki tahun-tahun terakhirnya (yang ia harap bisa diperpanjang jadi 3 periode), situasi ekonomi Mesir hancur lebur. Mata uang emas tak laku, rakyat kembali ke sistem barter batu bata. Raja-raja tetangga mulai menagih utang 11.000 tael emas itu dengan membawa pasukan gajah.

Dalam kondisi terdesak dan popularitas yang terjun bebas, Ngutangkhamun melakukan manuver terakhir. Ia berdiri di podium istana Akehtenan yang belum selesai dicat, wajahnya merah padam menahan emosi. Di hadapan ribuan rakyat yang lapar, ia berteriak:

4,5 Tahun saya difitnah oleh pendeta Amun, saya diam…

4,5 tahun saya dijelek-jelekin sama elit Memphis, dibilang plonga-plongo, saya diam…

Dihujat-hujat, dihina-hina soal utang unta cepat yang menumpuk, saya diam…

Napasnya memburu, matanya melotot ke arah kerumunan.

“tapi hari ini… di Akehtenan saya sampaikan… SAYA AKAN LAWAAANNN…!!!”

Teriakan itu menggema di gurun, namun menjadi bumerang. Rakyat yang sudah muak justru semakin marah.

Tak lama setelah pidato itu, Ngutangkhamun lenyap. Desas-desus mengatakan ia kabur lewat pintu belakang istana saat debt collector Dinasti Han datang. Makam yang disiapkannya di Lembah Para Raja ditemukan kosong, hanya berisi sisa-sisa proposal perpanjangan masa jabatan.

KEBANGKITAN MARTABHAKHAMUN (SANG DEWA ROTI LIPAT)

Penggantinya, MartaBhakhamun, harus menanggung beban berat: membereskan utang, mengembalikan ibu kota ke Thebes, dan memulihkan nama baik keluarga yang sudah hancur lebur. Nama Ngutangkhamun pun perlahan dihapus dari relief, disembunyikan agar generasi mendatang tidak meniru jejak sang Visioner yang Mangkrak.

Padahal awalnya, MartaBhakhamun dikenal sebagai sosok yang introvert. Jauh dari hingar-bingar politik istana Thebes, ia lebih memilih sibuk dengan bisnis kuliner Roti Maryam & Katering Cyparr, hingga mendapat julukan Dewa Roti Lipat dan Spesialis Katering Istana.

Setiap kali ditanya pengukir prasasti apakah akan meneruskan dinasti bapaknya, jawabannya selalu sama dan datar:

“Saya tidak tertarik politik. Saya cuma mau jualan roti maryam dan katering. Jangan tanya saya soal piramida.”

Rakyat percaya. Mereka mengira MartaBhakhamun adalah antitesis dari bapaknya: polos, pekerja keras, dan tidak neko-neko.

Namun takdir berkata lain. Kelak, MartaBhakhamun akan menguasai Mesir dengan bekerja sama dengan musuh bapaknya, Jenderal Perang Bowhotep, seorang jenderal temperamental yang ingin mengembalikan kejayaan militer.

Ironisnya, Jenderal ini adalah orang yang sering ia beri sumpah serapah di forum rahasia KazKuz dengan olokan bahwa Bowhotep hanya memiliki “Wapaq Satu Biji Zaytun” yang selalu digantung.

MartaBhakhamun menang telak dengan Program Susu Unta Gratis dan menawarkan visi: “Keberlanjutan” yaitu elanjutkan proyek Ibu Kota Akehtenan yang mangkrak dan melunasi utang 11.000 tael emas (dengan cara ngutang lagi).

Selama memerintah, ia sering meninjau proyek dari bapaknya, Jalur Unta Cepat, yang relnya sudah karatan namun sepi penumpang, serta bersikeras melanjutkan Ibu Kota Akehtenan yang tetap mangkrak.

(Sumber: X)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *