KETUA BEM PAKET C
Oleh: Among Kurnia Ebo
Entah dari gerombolan mana yang mikirnya telmi atau memang karena individunya yang nggak paham perkembangan jaman, belakangan saya melihat banyak orang meremehkan Ketua BEM UGM yang ternyata hanya lulusan Paket C. Lalu muncul cemoohan: halah keluaran paket C aja ngomongnya sotoy!
Rupanya merekalah yang asal njeplak. Asal tulis asal ngomong tanpa riset. Asal komen tapi tak ada argumentasi yang ade kuat. Tak menelisik dulu apa itu sekolah-sekolah Paket C dan bagaimana reputasinya sekarang ini.
Paket C era sekarang sangatlah berbeda dengan yang dulu. Bahkan jauh sekali. Ada banyak SMA Paket C yang kualitasnya justru melampaui sekolah-sekolah konvensional. Bahkan sekolah negeri yang punya standar internasional sekalipun.
Yang saya tahu sendiri misalnya Praxis High Scool di Sleman Yogyakarta. Atau lebih populer disebut SMA Praxis yang hanya selemparan baru dari Candi Prambanan itu.
Satu, guru-gurunya rata-rata lulusan universitas top luar negeri. Salah satunya lulusan S3 Oxford yang bernama Aisha Prastowo yang memilih pulang ke Yogya untuk membagi ilmunya dengan mengajar di SMA.

Dua, Anak-anak SMA Praxis hari-harinya memakai bahasa internasional karena ada kesepakatan tidak boleh ikut kompetisi domestik. Setahun bisa empat kali mereka ikut kompetisi di luar negeri. Antara lain pernah di Singapore, Vietnam, Taiwan, Jepang dan yang terakhir masuk 100 besar saat lomba di Texas dalam sebuah kompetisi di NASA. Sejak masuk sekolah mereka sudah diwajibkan menjadi manusia global dengan memiliki paspor sehingga sewaktu-waktu ada kompetisi di luar negeri mereka semua sudah siap berangkat. Sejak SMA mereka sudah diajarkan pentingnya punya jejaring internasional dan menguasai bahasa internasional. Dunia sudah satu desa mereka harus siap dengan situasi itu
Tiga, di SMA Praxis Sleman ini siswa banyak dibekali ilmu softskill. Ada materi public speaking, leadership, writing, cooding, art, entrepreneur, dan lain-lain. Selain belajar mata pelajaran kurikulum nasional, sekolah ini telah berpikir jauh dengan membekali siswanya dengan ilmu-ilmu kekinian. Bukan semata belajar ilmu usang, tapi juga fokus belajar ilmu hari ini yang konon setiap jam di dunia ini ada ilmu baru, yang mereka tak boleh ketinggalan itu.
Empat, meski mereka dipush untuk berkompetisi di dunia global, tapi semangat kolaborasi dan build to winning team ditekankan di antara mereka. Itulah sebabnya di sekolahnya suasananya guyub, santai, dan penuh kegembiraan. Di sekolah mereka seperti belajar sambil bermain tapi ketika dikirim ke luar negeri mereka kompak bertarung dengan amunisi optimum.
Selain SMA Praxis tentu saja ada sekolah-sekolah Paket C antimainstream ada di Yogya. Mereka melahirkan siswa-siswa hebat dengan kurikulumnya masing-masing. Meskipun tidak dipungkiri bahwa masih banyak juga sekolah Paket C yang “alakadarnya”. Perihal SMA Praxis ini semua orang bisa dengan mudah menelusurinya secara digital setidaknya lewat instagram Praxis High School.
Ketemu siswa-siswa SMA tengah sawah itu bisa bikin kita geleng-geleng kepala. Obrolannya sudah di luar nurul semua (buat generasi old kayak kita). Kebetulan saya beberapa kali ke sana dan dekat dengan Om direkturnya Abdullah Soedarmo yang mendesain sekolah ini dan memimpikan dari Yogya akan muncul anak-anak muda cemerlang penerus otak Habibi. Jadi, saya optimis ke depan nanti sekolah-sekolah Paket C itu justru akan lebih banyak melahirkan anak-anak hebat yang punya otak cemerlang, punya skill yang mumpuni, dan memiliki leadership yang hebat.
Demikian, info dari tepian Selokan Mataram.







Nanik > wartawan kena jabatan > jebokin program nya lah
Kalau kita > Tiyo adalah kata hati rakyat Konoha