Ketika Ulama Datang ke Istana Penguasa, Paling Tidak Ada Tiga Kemungkinan

Ketika ulama datang ke istana penguasa, paling tidak ada tiga kemungkinan:

(1) Ulama itu mengucapkan al-haq (kebenaran) di depan penguasa tersebut yang membuat sang penguasa marah, lalu membunuhnya, atau memenjarakannya, atau mengusirnya, atau…

(2) Sang penguasa mendengarkan nasihat sang ulama dengan khidmat, menerima nasihat tersebut dengan baik, dan berkomitmen menjalankan kekuasaan sejalan dengan panduan syariat.

(3) Sang ulama mendengarkan dengan patuh arahan dari penguasa, menerima dan mendukung arahan tersebut sepenuhnya, dan bersumpah akan senantiasa bersama sang penguasa.

Kalau poin 1, penampakannya jelas, seperti sang ulama hilang kabarnya, dicopot dari jabatannya (jika punya jabatan), atau dikriminalisasi dengan tuduhan yang dibuat-buat.

Yang samar, poin 2 dan 3, karena setelah selesai pertemuan, kedua belah pihak tampak biasa-biasa saja. Entah penguasa yang ikut ulama, atau ulama yang ikut penguasa.

Bagaimana cara mengidentifikasinya? Sebenarnya itu tidak sulit. Lihat saja kebijakan penguasa setelahnya, jika masih saja melahirkan kebijakan zalim dan menyelisihi syariat, anda bisa lihat siapa yang tunduk pada siapa.

Lihat juga ucapan sang ulama setelahnya, jika lidahnya kelu mengucapkan kebenaran, dan malah tampak seperti juru bicara penguasa, anda tahu saat pertemuan itu, barang berharga apa yang telah dia jual dengan harga murah.

(Ustadz Muhammad Abduh Negara)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar