Ketika Hutan Dikorbankan Bupati Tapsel Menyebut Banjir Bukan Sekadar Musibah

Air bah datang tidak dengan peringatan panjang. Ia menerjang seperti amuk yang lama ditahan, membawa gelondongan kayu, lumpur pekat, dan suara runtuh yang menelan jalan, jembatan, hingga rumah warga. Batangtoru yang dikenal sebagai wilayah berhutan lebat sekaligus ekosistem langka mendadak berubah menjadi ladang bencana.

Saat warga mengais puing dan mencari keluarga yang hilang, sebuah suara muncul paling lantang. Gus Irawan Pasaribu, Bupati Tapanuli Selatan, tak lagi memilih bahasa diplomatis. Dalam satu pernyataan yang menyentakkan banyak pihak, ia secara terbuka menyebut penebangan hutan yang kembali diberi izin dalam dua tahun terakhir sebagai faktor yang memperparah banjir bandang.

“Kementerian Kehutanan tugasnya menjaga hutan. Kalau hari ini Batangtoru luluh lantak, saya ingin tahu berapa nilai yang masuk ke kas negara dibanding kerugian yang kami tanggung,” ujar Gus dengan nada tegas.

Ia menyebut sudah mengirim surat resmi pada 14 November 2025 ke Direktorat Pengelolaan Hutan Lestari. Isi surat itu adalah keberatan dan permintaan agar aktivitas penebangan dihentikan. Namun kenyataan di lapangan berjalan ke arah berlawanan. Pada awal November 2025 kerja sama korporasi dengan masyarakat kembali aktif. Hutan kembali berderak oleh suara gergaji, batang pohon kembali menyisakan tunggul, dan sungai kehilangan penyangganya.

Beberapa hari setelahnya hujan turun tak kenal kompromi. Air yang turun deras seakan menemukan jalan tanpa hambatan, menghantam permukiman dari hulu. Kayu gelondongan yang hanyut menjadi saksi bahwa banyak pohon tidak tumbang secara alami, melainkan hasil tebangan yang dilepas begitu saja.

Bagi sebagian pejabat ini mungkin bisa dianggap musibah alam. Namun di mata banyak mata yang menyaksikan sendiri kehancuran di Batangtoru, banjir ini tampak seperti hasil dari keputusan yang dikeluarkan jauh sebelum hujan pertama turun. Keputusan yang membuka hutan, mengizinkan tebangan, dan mengubah bentang alam menjadi area produksi.

Kini serpihan rumah warga bertumpuk di tepi sungai seperti lembaran sejarah yang koyak. Anak-anak menghuni tenda pengungsian, ladang-ladang rata oleh arus, dan peta desa tak lagi sama. Pertanyaan besar pun menggantung di udara yang masih basah oleh bau lumpur.

Berapa nilai sebuah izin penebangan jika yang dibayar kemudian adalah nyawa, tanah, dan masa depan?

#PrayForSumatera

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *