Misteri Kenapa Pemimpin Tertinggi Iran Tak Pernah Keluar Negeri?
Tahukah Kamu? Di tengah berkecamuknya Perang Timur Tengah antara koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, ada satu fakta sejarah yang sangat unik sekaligus misterius yang sangat jarang diketahui. Tahukah kamu bahwa sosok pemegang kekuasaan mutlak di Iran ternyata memiliki pantangan besar untuk bepergian ke luar negeri?
Mari kita bedah alasan di balik “kurungan suci” para penguasa Teheran ini…
Sumpah Seumur Hidup Ayatollah Khomeini
Tradisi ini bermula dari Pemimpin Tertinggi pertama Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (1979–1989).
Setelah hidup bertahun tahun dalam pengasingan di Prancis, beliau akhirnya pulang untuk memimpin Revolusi Islam pada tahun 1979. Begitu menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, Khomeini bersumpah tidak akan pernah lagi meninggalkan Iran hingga akhir hayatnya.
Meneruskan Tradisi Sang Pendahulu
Sumpah tersebut kemudian dipegang teguh oleh penerusnya, Ayatollah Ali Khamenei (1989-2026). Perjalanan luar negeri terakhirnya adalah ke China dan Korea Utara pada Mei 1989 saat beliau masih menjabat sebagai Presiden Iran. Namun begitu beliau diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) pada Juni 1989, Ali Khamenei mengunci dirinya di dalam negeri. Selama 36 tahun memimpin hingga ajal menjemputnya, beliau tidak pernah sekalipun melakukan kunjungan kenegaraan ke luar negeri!
Mengendalikan Dunia dari Balik Tembok Teheran
Jangan kira karena tidak pernah jalan jalan, mereka terisolasi. Justru sebaliknya! Dalam sistem politik Iran, Pemimpin Tertinggi memegang kendali absolut atas militer, program nuklir, dan deklarasi perang. Dari balik tembok Teheran, mereka menarik benang percaturan geopolitik dunia. Jika ada negosiasi atau urusan diplomasi tingkat tinggi, para pemimpin negara asinglah yang harus repot repot terbang dan datang menemui mereka di Iran, bukan sebaliknya. Puncak arogansi geopolitik yang elegan.
Pewaris Tahta di Tengah Perang Berdarah
Kini, sejarah Iran memasuki babak baru yang sangat menegangkan. Menyusul tewasnya Ali Khamenei akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu, posisi Pemimpin Tertinggi resmi diwariskan kepada putranya, Mojtaba Khamenei. Ini adalah pertama kalinya sejak Revolusi 1979, kekuasaan tertinggi diwariskan dari ayah ke anak.
Kesimpulannya
Fakta sejarah ini membuktikan bahwa hegemoni dan pengaruh politik yang masif tidak selalu diukur dari seberapa sering seorang kepala negara terbang berkeliling dunia. Di Iran, pusat gravitasi kekuasaan itu mutlak diam di tempat, dan dunialah yang dipaksa berputar mengelilinginya. Kini dunia sedang menanti, apakah Mojtaba Khamenei akan meneruskan tradisi berdiam diri di dalam negeri, atau justru mengambil langkah radikal turun ke panggung internasional di tengah kecamuk perang yang sedang menyala?
(Disadur dari: CNBC Indonesia)







di negeri wakanda pemimpinnya malah sering ke LN…padahal katanya lagi berhemat