Kematian Ali Khamenei. Iran Kalah?

Berpikir jernih, Strategis, Teliti, Global, Tapi sederhana:

1. Tujuan serangan Amerika adalah mengganti rezim Khameini dengan bonekanya sendiri yang sangat mungkin Muhammad Reza Shah Pahlevi, Putra Mahkota Kerajaan Iran yang digulingkan rezim Ayatullah dan kini berada dalam pengasingan di London.

2. Andaikan itu berhasil, Peta geopolitik Timur Tengah tidak lagi imbang.

Israel sebagai salah satu dari dua pemilik nuklir di Timteng, Praktis tidak punya lawan sebagai penyeimbang. Karena pemilik nuklir satunya, Yaitu Iran, Secara politik sudah dicengkeram Amerika.

Dengan demikian, Nuklir Iran tidak akan pernah mengancam Israel lagi. Konsekuensinya, Moncong nuklir Iran, Akan sepenuhnya diarahkan ke negara2 Arab.

“Lho tapi Mir, Selama ini kan Iran mengintimidasi dan jadi masalah bagi negara2 Arab?”

Iya betul. Tapi ceritanya jangan dipotong. Karena selain kepada negara2 Arab, Nuklir Iran juga jadi duri dalam daging bagi Israel dan Amerika.

Kalau ancaman terhadap Israel dan Amerika itu sudah sepenuhnya dinetralisir, Mau kemana lagi nuklir Iran itu sepenuhnya ditujukan kalau bukan ke negara2 Arab?.

3. Dengan tumbangnya rezim Ayatullah, Amerika bakal punya dua proxy utama di Timteng; Israel dan Iran. Keduanya All out digunakan menekan negara2 Arab.

Konsekuensinya, Kalau selama ini duit Arab bisa melunakkan Amerika, Kalahnya rezim AyatUllah membuat Amerika ga mau lagi cuma disogok duit.

Mereka bakal minta segala macam, Termasuk memaksa mengganti pemerintahan siapapun di negara2 Arab yang tidak sejalan kebijakan luar negeri Amerika.

4. Bagi negara2 Arab, Strategis menghadapi (secara politik), Atau bahkan melawan (secara militer) Iran, Jauh lebih mudah daripada menghadapi atau melawan Israel.

Iran praktis terkepung, Baik geografis maupun geopolitik nya. Sekutu kuat Iran cuma Rusia (yang sekarang sedang sibuk di Ukraina) dan Cina (yang sekarang sedang menuju puncak kejayaan ekonominya.

Di Ukraina, Data valid menyebutkan sedikitnya 18.000 prajurit Rusia setiap bulannya mati atau terluka.

Dengan kerugian pasukan sebanyak itu, Ditambah sikon di Ukraina makin tidak menentu, Belum lagi tekanan ekonomi dunia terhadapnya, Sangat berat bagi Rusia membuka front lain di manapun, Apalagi kalau harus berhadapan langsung Israel atau Amerika.

Cina sendiri tidak punya banyak kepentingan terhadap Iran yang mengharuskannya face to face di medan perang melawan Israel dan Amerika.

Belum lagi faktor kejayaan ekonomi Cina yang sedang menuju puncak dan teramat sayang kalau harus hancur hanya demi Iran, Tentu Cina tidak akan maju membela Iran habis2an.

Dengan kalkulasi demikian, Daripada harus melawan Israel, Iran merupakan lawan yang masuk akal bagi negara2 Arab.

5. Selain Saddam Husein, Tidak pernah ada lagi negara Arab yang berani berhadapan langsung dengan Iran. Padahal saat itu program nuklir Iran belum kelar.

Konflik yang terjadi setelahnya hanya perang proxy atau gesekan2 saja.

Fakta kesiapan nuklir Iran hari ini, Makin besar resiko negara2 Arab menghadapinya secara frontal di medan perang.

Nah melawan Iran aja negara2 Arab itu mikir2, Apalagi menghadapi Israel?

Apalagi kalo Iran dan Israel bersatu di bawah komando Amerika?

6. Kesimpulan

Berdasarkan kalkulasi di atas, Jatuhnya rezim AyatUllah menjadi kerugian teramat besar bagi negara2 Arab. Karena yang tadinya Amerika cuma punya satu anjing bersenjata nuklir, Nantinya (kalau rezim AyatUllah kalah) jadi punya dua anjing bersenjata nuklir.

Jadi silakan disimpulkan mau dukung yang mana SEKARANG?

“Kenapa “sekarang” nya pake huruf besar Mir?”

Ya karena politik selalu dinamis. Hari ini ya hari ini. Besok lain cerita.

(Fathi Nasrullah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Pimpinan hamas banyak yang syahid, perlawan akan tetap ada selama penjahahan berlangsung, selam umat tidak terfokus pada satu perjuangan puncak yaitu berdieinya khilafah selama itu pula umat akan lemah