Keliru Nabi Muhammad lahir di Arab Saudi

✍🏻Ustadz Muhammad Abduh Negara

Ada yang menulis, yang maknanya kira-kira, “Ada hikmah mengapa Allah memilih Arab Saudi jadi tempat lahir Nabi terakhir…”

Yang begini ini, perlu dikoreksi. Arab Saudi merupakan nama untuk sebuah entitas politik, sebuah negara, yang baru berdiri sekitar seabad yang lalu. Jadi kurang tepat menyatakan, Nabi terakhir (yaitu: Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) lahir di Arab Saudi.

Nabi lahir di Makkah, dan wafat di Madinah. Kawasan Makkah, Madinah, dan sekitarnya, disebut dengan Hijaz. Jadi, menyatakan Nabi hidup di Makkah dan Madinah, atau di Hijaz, lebih tepat, dan lebih selamat dari bias politik dan pemahaman keagamaan tertentu.

Di masa Nabi, masa al-Khulafa ar-Rasyidin, dan ratusan tahun setelahnya pun, Arab Saudi belum ada. Anda akan mengalami bias kognitif, kalau keliru memahami hubungan “Nabi” dan “Arab Saudi”.

Selain itu, pemahaman keagamaan yang berkembang di Hijaz pun, tidak selalu sama. Saat ini, bisa dikatakan yang dominan dan didukung oleh pemerintah—paling tidak, hingga hari ini, adalah paham salafi, atau disebut juga oleh sebagian kalangan dengan “wahhabi”. Tapi dalam perjalanan panjang sejarah Makkah dan Madinah, bukan hanya paham ini yang berkembang. Dalam masa yang cukup panjang di masa lalu, yang dominan berkembang di sana adalah paham sufi, yang punya konflik panjang, baik secara pemikiran maupun politik, dengan salafi.

Ada hikmah mengapa Nabi lahir di Makkah, lalu hijrah ke Madinah. Namun, kita harus melihatnya sesuai keadaan Makkah dan Madinah di masa Nabi tersebut, bukan keadaannya di masa sekarang yang didominasi paham salafi, maupun di periode ‘Utsmani dan pra ‘Utsmani yang cenderung dominan berpaham sufi. Anda tidak bisa menjustifikasi, bahwa paham salafi atau paham sufi itu benar, hanya karena Nabi lahir dan wafat di Hijaz. Ini kekeliruan dalam memahami sejarah. (*)

Komentar