“Kayaknya di mata mereka ‘selangkangan wanita’ cuma jadi rest area aparat bermental binatang”

✍🏻Bilqis Humaira

Otak gue beneran mendidih sampai rasanya mau pecah pas baca hasil sidang etik keparat tanggal 7 April 2026 kemarin. Lo bayangin aja, lo punya akal sehat kan? Di mana letak keadilannya kalau ada aparat negara—yang disumpah pakai kitab suci, dibeliin seragam dan pistol pakai duit pajak kita buat ngelindungin rakyat—malah asyik nontonin anak perempuan umur 18 tahun digilir paksa sampai hancur masa depannya?

Terus, setelah kebiadaban itu kebongkar, sanksi buat tiga polisi bedebah ini cuma disuruh minta maaf, dikurung 21 hari, sama ikut ‘pembinaan rohani’? Lo kira dosa ngebantuin pemerkosa bisa luntur cuma gara-gara lo duduk dengerin ceramah agama sebulan? Sinting.

Ini institusi hukum atau panti asuhan buat kriminal?

Gue nggak habis pikir sama logika hukum macam apa yang dipake sama Komisi Kode Etik Polri (KKEP) Polda Jambi. Berita ini bukan sekadar angka atau statistik kriminal biasa di koran pagi yang bisa lo baca sambil ngopi. Ini tragedi kemanusiaan paling bangsat yang dilakuin sama mereka yang seharusnya jadi tameng buat masyarakat.

Buat lo yang belum paham betapa gilanya kasus ini, mari gue bongkar fakta brutalnya pelan-pelan, biar lo ngerasain mual, marah, dan jijik yang sama kayak yang gue rasain sekarang. Lo harus tahu seberapa bobrok sistem yang lagi kita hadepin.

Kita ngomongin soal CA. Anak perempuan ini baru umur 18 tahun. Di umur segitu, lo lagi sibuk-sibuknya ngerajut mimpi, kan? Tahu nggak apa mimpi anak ini? Dia itu calon Polwan. Cita-citanya pengen pakai seragam cokelat, pengen ngabdi buat negara, pengen ngebanggain keluarganya. Tapi apa yang dia dapet? Ironi paling kejam yang bisa dikasih takdir. Mimpi dia buat jadi polisi justru dihancurkan, dirobek, dan diinjak-injak sama polisi beneran. Bayangin trauma psikologisnya. Institusi yang dia puja-puja dan pengen dia masuki, malah jadi tempat berkumpulnya monster yang ngerenggut kehormatannya di malam jahanam itu.

Kejadiannya bulan November 2025.

Waktu itu CA cuma anak muda biasa yang apes kenal sama manusia berengsek berinisial I di sebuah gereja di Jambi. Namanya anak muda, kenalan biasa, nggak ada pikiran aneh-aneh. Tapi si I ini otak binatang. Tanggal 14 November tengah malam, saat CA lagi nginep di rumah temennya, si I datang bawa mobil double cabin. Dia neror, neken klakson, bikin ribut di tengah malam buta sampai warga keganggu. Dengan alasan basi mau nganterin CA pulang ke rumahnya sendiri, dia maksa CA keluar. CA yang mungkin panik atau nggak enak sama warga sekitar akhirnya nurut. Itu kesalahan kecil yang bayarannya terlalu mahal, karena niat si I dari awal emang udah busuk.

Bukannya dianterin pulang, rute mobil itu dibelokin ke sebuah kos-kosan di daerah Kebun Kopi. Lo tahu apa yang udah nunggu di sana? Pesta miras, bos. Di situ udah ngumpul gerombolan laki-laki hidung belang, termasuk lima oknum polisi bajingan. Di situlah neraka dunia buat CA dimulai. Menjelang subuh, dalam kondisi di bawah ancaman dan ketakutan luar biasa di tengah gerombolan laki-laki mabuk, CA diseret ke dalam kamar. Si sipil I ini merudapaksa CA. Nggak berhenti sampai di situ, masuk lagi manusia sampah lain berinisial C, nutup mulut korban rapat-rapat biar nggak bisa teriak, dan ikut memperkosa.

Sampai di titik ini aja darah gue udah naik, tapi yang bikin gue makin pengen muntah adalah kelakuan para aparatnya. Dua polisi, Bripda Nabil dan Bripda Samson, ngeliat korban yang udah lemas, nggak berdaya, hancur mental dan fisiknya, malah milih buat ikut-ikutan jadi binatang. Mereka masuk dan ngegilir korban. Dua orang ini emang akhirnya dipecat dengan tidak hormat (PTDH) di bulan Februari 2026 dan lagi nunggu sidang pidana. Tapi pemecatan itu nggak ada apa-apanya dibanding nyawa dan masa depan CA yang udah mati malam itu.

Sekarang, mari kita fokus ke bagian yang paling bikin akal sehat gue konslet dan jadi alasan kenapa gue nulis ini dengan emosi tingkat dewa. Di ruangan yang sama, di malam yang sama, ada tiga oknum polisi lain: Briptu VI, Bripda MIS, dan Bripda HAM. Tiga orang ini dibilang “bukan pelaku utama” karena mereka nggak ikut meniduri korban. Terus apa yang mereka lakuin? Mereka nonton, man. Mereka nonton anak orang diperkosa di depan mata kepala mereka sendiri sambil nenggak minuman keras!

Coba lo telaah baik-baik pakai logika. Kalau lo orang biasa aja, ngeliat ada cewek digilir dan disiksa kayak gitu, insting kemanusiaan lo pasti bakal teriak buat nolong, atau minimal lo lari cari bantuan. Lah ini polisi! Mereka dididik, dilatih, digaji buat mencegah kejahatan. Tapi waktu kejahatan paling biadab terjadi persis di depan hidung mereka, mereka milih buat jadi penonton VIP. Nggak ada satupun dari tiga bedebah ini yang narik temennya, nggak ada yang ngehubungi komandan, nggak ada yang ngelindungin korban. Mereka diem, menikmati pemandangan, dan membiarkan CA hancur lebur.
Dan lo tahu apa yang lebih gila dari sekadar diam? Setelah para pemerkosa itu selesai melampiaskan nafsunya, CA itu udah setengah sadar.

Dia udah kayak mayat hidup. Dan tiga polisi “penonton” ini, dengan tangan mereka yang kotor, ikut ngebantu ngangkat tubuh korban yang udah lemas itu buat dimasukin ke dalam mobil. Mereka buang korban gitu aja. Turut serta menyembunyikan kejahatan. Turut serta menyingkirkan bukti hidup. Di mata gue, dan di mata hukum mana pun yang nggak cacat, orang yang memfasilitasi, menonton, dan menutupi kejahatan itu sama bangsatnya dengan pelakunya!

Lalu datanglah hari lelucon nasional itu. Tanggal 7 April 2026. Sidang Komisi Kode Etik Polri digelar buat nentuin nasib Briptu VI, Bripda MIS, dan Bripda HAM. Harusnya, institusi kepolisian menjadikan momen ini buat bersih-bersih, buat nunjukin ke masyarakat kalau mereka nggak main-main sama kejahatan seksual, apalagi yang bawa-bawa seragam. Tapi putusannya? Gue ulangin biar makin nancep di kepala lo: Penempatan Khusus (Patsus) selama 21 hari, kewajiban minta maaf secara lisan, dan pembinaan mental, rohani, serta pengetahuan profesi selama satu bulan.

Cuih. Sanksi macam apa itu? Lo ngilangin nyawa orang secara perlahan lewat trauma seumur hidup, dan hukuman lo cuma liburan di sel khusus tiga minggu sambil dengerin kultum sebulan? Itu bukan hukuman, itu penghinaan! Penghinaan buat institusi Polri itu sendiri, penghinaan buat keluarga korban yang tiap hari nangis darah ngeliat anaknya trauma, dan penghinaan buat akal sehat seluruh rakyat Indonesia.

Gimana caranya seorang polisi yang udah terbukti punya mental tempe, nggak punya empati, dan tega ngangkat tubuh wanita korban pemerkosaan temen-temennya, masih dipertahankan di kesatuan? Gimana ceritanya orang-orang kayak gini besok-besok pakai seragam lagi, bawa senjata lagi, dan berpatroli di jalanan? Apa jaminannya mereka nggak bakal ngelakuin hal yang lebih gila kalau mereka tahu hukuman buat menutupi pemerkosaan cuma disuruh minta maaf dan ngaji sebulan? Ini bibit-bibit psikopat yang dipelihara negara pakai duit kita.

Keluarga CA, yang sekarang didampingi berbagai pihak, lagi berjuang mati-matian bawa kasus ini ke Kompolnas dan Propam Mabes Polri. Tapi jujur aja, liat realita di bawah yang putusannya sebercanda ini, bikin gue pesimis tapi sekaligus marah banget. Kita nggak boleh diem aja ngeliat kelakuan sirkus hukum kayak gini. Narasi “oknum” itu udah basi. Kalau kebusukan di depan mata cuma diganjar permintaan maaf, berarti ada yang salah sama sistemnya secara keseluruhan.
Lo bayangin posisi CA sekarang. Setiap kali dia ngeliat mobil polisi lewat, tiap kali dia ngeliat seragam cokelat yang dulu dia impi-impikan, yang muncul di kepalanya bukan rasa aman, tapi wajah-wajah iblis yang ngerusak hidupnya dan wajah-wajah pengecut yang nontonin dia dihancurin. Ketiga polisi itu mungkin habis ini bebas, balik kerja dapet gaji buta, pura-pura suci lagi setelah sebulan dapet “pembinaan rohani”. Tapi CA? CA dihukum seumur hidup sama trauma yang nggak akan pernah hilang.

Gue bener-bener muak. Keadilan di negeri ini kadang kerasa kayak barang mewah yang nggak bisa dibeli sama rakyat kecil. Kalau aparatnya aja bisa dapet diskon gede-gedean buat dosa seberat ini, lantas ke mana lagi kita harus lapor kalau kita dalam bahaya? Sama setan sekalian? Setidaknya setan nggak munafik pakai seragam pelindung masyarakat. Kasus Jambi ini bukan cuma soal hukum yang gagal ditegakkan, tapi soal hilangnya nurani kemanusiaan sampai ke akar-akarnya di dalam institusi yang harusnya paling beradab. Bajingan tolol semua. Kita harus terus ributin ini, jangan sampai kasus ini tenggelam gitu aja. Viralin, caci maki putusannya, tekan terus sampai tiga penonton biadab itu dicopot seragamnya dan dijeblosin ke penjara umum bareng pelaku utamanya. Nggak ada tempat buat pengecut fasilitator pemerkosa di institusi mana pun di negara ini. Titik.

Pelakunya baru dirilis publik 2

  • Bripda Nabil Ijlal Fadlul Rahman (Anggota Ditreskrimum Polda Jambi).
  • ​Bripda Samson Pardamean (Anggota Polres Tanjung Jabung Timur).

Yang lain masih di lindungi karena alasan proses hukum.

Profil pelaku : Dua Predator Utama: Produk Gagal SPN

Dua orang ini, Nabil Ijlal Fadlul Rahman dan Samson Pardamean, adalah bukti kalau sistem rekrutmen kita lagi sakit parah.

Pendidikan & Pangkat: Mereka berdua pangkatnya Bripda (Brigadir Polisi Dua). Artinya apa? Mereka ini masih “anak kemarin sore” di kepolisian. Baru lulus dari SPN (Sekolah Polisi Negara) sekitar tahun 2023 atau 2024. Masih seumur jagung make seragam cokelat. Keringat latihan mereka di barak mungkin belum kering bener, tapi otaknya udah penuh rencana buat ngerusak anak orang.

Unit Kerja (Nabil): Si Nabil ini dinas di Ditreskrimum (Direktorat Reserse Kriminal Umum) Polda Jambi. Ini gila banget, gaes! Reserse itu tugasnya nyari pelaku kejahatan, bongkar kasus kriminal, bela korban. Lah, ini dia sendiri malah jadi “pelaku kriminal utama”. Dia dididik buat investigasi kejahatan, tapi malah pake skill-nya buat ngerancang skenario biadab ini.

Unit Kerja (Samson): Si Samson ini dinas di Polres Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). Jauh-jauh dari Tanjabtim ke Kota Jambi cuma buat nyari mangsa.

Profil Mental: Dari laporannya, mereka berdua ini emang udah “akrab” sama dunia malam dan miras meski statusnya anggota aktif. Seragam cuma dipake buat gagah-gagahan di siang hari, pas malem berubah jadi iblis.

Sekarang mereka berdua sudah di PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat), tapi buat gue, itu doang nggak cukup buat bayar air mata korban.

***

Bantu Temannya Perkosa Calon Polwan, 3 Polisi di Jambi Cuma Disanksi Disiplin, Publik Geram

Kasus pemerkosaan terhadap seorang remaja perempuan di Jambi kembali menyedot perhatian publik.

Sorotan tak hanya tertuju pada pelaku utama, tetapi juga pada tiga oknum polisi yang diduga ikut terlibat.

Pihak Polda Jambi telah menjatuhkan sanksi terhadap ketiganya. Mereka adalah Briptu VI, Bripda MIS, dan Bripda HAM.

Sanksi yang diberikan berupa penempatan khusus (patsus) selama 21 hari. Keputusan ini diambil setelah sidang kode etik yang digelar pada Selasa (7 April 2026).

Selain dijatuhi sanksi penempatan khusus, Briptu VI, Bripda MIS, dan Bripda HAM juga dikenakan sanksi untuk meminta maaf secara lisan di hadapan sidang etik Komisi Kode Etik Polri (KKEP) dan wajib mengikuti pembinaan mental dan pengetahuan profesi selama satu bulan.

Kasus ini sendiri bermula dari peristiwa yang terjadi pada Jumat (14 November 2025). Meski bukan pelaku utama, ketiga anggota tersebut diduga memiliki peran dalam kejadian tersebut.

Dalam proses pemeriksaan, terungkap bahwa mereka berada di lokasi saat peristiwa berlangsung. Bahkan, mereka disebut tidak hanya menyaksikan, tetapi juga sempat membantu para pelaku utama.

Ketiganya diketahui ikut membantu empat pelaku mengangkat korban dari rumah menuju mobil.

Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi penjatuhan sanksi disiplin terhadap mereka.

Namun, keputusan tersebut justru memicu reaksi keras dari publik. Banyak pihak menilai hukuman yang dijatuhkan tidak sebanding dengan dugaan keterlibatan mereka dalam kasus serius tersebut.

Hingga kini, penanganan perkara masih terus berjalan. Aparat kepolisian menyatakan akan terus mendalami kasus ini untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain, sekaligus memastikan proses hukum berjalan secara adil.

Tanggapan Kuasa Hukum Korban

Menanggapi hal ini, kuasa hukum keluarga korban, Romiyanto, menilai sanksi yang diberikan terhadap tiga oknum tersebut belum memenuhi rasa keadilan atau sense of justice.

Romi mengatakan, sanksi meminta maaf tidak sebanding dengan penderitaan yang dialami oleh kliennya yang merupakan remaja yang disebut calon Polwan.

Dia menambahkan, tanpa adanya peran atau bantuan tiga oknum tersebut, pemerkosaan itu tidak akan bisa dilakukan oleh empat pelaku.

“Kalau mereka tidak membantu, dua temannya tidak akan di-PTDH dan dua pelaku sipil lainnya tidak dipidana,” tambah Romi.

Kemudian, sanksi 21 hari penahanan dan pembinaan rohani ini, kata Romi, hanya merupakan sanksi administratif.

“Jadi, apakah ini cukup untuk memberikan efek jera agar tidak ada lagi polisi yang melindungi perbuatan melindungi oknum yang melakukan tindak pidana?” tandasnya.

Menurut Romi, jika tindakan “membantu” yang dilakukan ketiga anggota tersebut memenuhi unsur Pasal 55 atau 56 KUHP (turut serta atau membantu kejahatan), dia mendesak agar proses pidana umum tetap dijalankan secara transparan.

“Kami akan melapor ke Kompolnas dan Propam Mabes Polri untuk menilai ulang putusan ini. Kami juga akan mengawal betul hak-hak korban, yakni resitusi dan pemulihan korban,” kata Romi.

(Sumber: Tribunnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 komentar

  1. kalo kayak gitu itu polisi yg tdk dipecat biasanya punya bekingan
    entah ada om nya yg punya pangkat lebih tinggi dan msh hubungan keluarga
    kompolnas harus usut & teliti ini
    enak bgt mereka