Katanya setan dibelenggu, tapi kenapa orang masih bermaksiat di bulan Ramadhan bahkan ketika dia sedang puasa?
Karena dosa itu tidak hanya karena setan jin, tapi dosa datang dari tiga arah:
- Setan golongan jin
- Setan golongan manusia
- Dari jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan (an-nafs al-ammarah bis suu`)
Allah membelenggu setan-setan dari golongan jin pada bulan Ramadan sebagai bentuk pertolongan bagi kita agar dapat memperbanyak kebaikan tanpa banyak kesulitan, dan meninggalkan keburukan tanpa banyak perjuangan berat, serta agar menjadi jelas bagi kita dosa yang disebabkan oleh setan jin dan mana yang disebabkan oleh nafsu sendiri.
Dalam hal ini Ibnu Al-Qayyim dalam kitab Ar-Ruuh memberi penjelasan memadai:
وَأما النَّفس الأمارة فَهِيَ المذمومة فَإِنَّهَا الَّتِي تَأمر بِكُل سوء وَهَذَا من
طبيعتها إِلَّا مَا وفقها الله وثبتها وأعانها فَمَا تخلص أحد من شَرّ نَفسه إِلَّا بِتَوْفِيق الله لَهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى حاكيا عَن امْرَأَة الْعَزِيز وَمَا أبرىء نَفسِي إِن النَّفس لأمارة بالسوء إِلَّا مَا رحم رَبِّي إِن رَبِّي غَفُور رَحِيم
“Adapun jiwa yang selalu memerintahkan kepada keburukan (an-nafs al-ammārah), maka itulah jiwa yang tercela, karena ia memerintahkan kepada setiap keburukan. Itu memang merupakan tabiatnya, kecuali jiwa yang diberi taufik oleh Allah, diteguhkan, dan ditolong oleh-Nya.
Tidak seorang pun dapat selamat dari keburukan jiwanya kecuali dengan taufik dari Allah, sebagaimana firman-Nya ketika mengisahkan perkataan istri Al-‘Aziz Raja Mesir:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu benar-benar selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Yusuf ayat 53).
Lalu Ibnu al-Qayyim melanjutkan:
فالشر كامن في النفس،وهو يوجب سيئات الأعمال، فإن خلى الله بين العبد وبين نفسه هلك بين شرها وما تقتضيه من سيئات الأعمال، وإن وفقه الله وأعانه نجاه من ذلك كله فنسأل الله العظيم أن يعيذنا من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا
“Keburukan itu tersembunyi dalam jiwa, dan ia melahirkan perbuatan-perbuatan buruk. Jika Allah membiarkan seorang hamba bersama dirinya sendiri (tanpa pertolongan-Nya), niscaya ia akan binasa oleh keburukan jiwanya dan oleh perbuatan-perbuatan dosa yang ditimbulkannya.
Namun jika Allah memberinya taufik dan menolongnya, Dia akan menyelamatkannya dari semua itu. Maka kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar melindungi kita dari keburukan jiwa kita dan dari keburukan amal-amal kita.”
Jadi setan jin itu hanya provokator saja karena tipuan mereka lemah sebagaimana Allah tegaskan dalam surah An-Nisa. Yang kuat justru an-nafs al ammarah bis suu itu tadi. Nah puasa akan mengurangi efek an-nafs al-ammarah bis suu (nafsu jahat) itu dengan kadar tertentu. Dia tidak hilang total tapi melemah. Makin bagus puasanya makin terkendali dia.
Jadi, Allah sudah kasi bonus dengan membelenggu setan jin, tinggal kita yang harus berjuang sendiri membelenggu nafsu kita sendiri. Kira-kira begitulah mengkompromikan hadits dengan fakta yang ada. Wallahu a’lam.
(Ustadz Anshari Taslim)






