Kata-kata Tak Bisa Menggambarkan Kepergianmu

Aku menuliskan kata-kata ini dengan air mata yang jatuh mendahului huruf-hurufnya. Aku menulisnya sembari merasakan ada sesuatu di dalam diriku yang telah hancur, bahkan mati untuk selamanya.

Ini bukan hanya perasaanku sendiri, melainkan perasaan setiap warga Gaza yang terbebani oleh tragedi, dan setiap orang Palestina yang telah mengecap pahitnya kehilangan serta menelan kekecewaan akibat kebungkaman dunia.

Abu Ubaidah, sesungguhnya kata-kata—dengan segala luas dan kekayaannya—berdiri tak berdaya hari ini di hadapan duka atas kepergianmu. Kata-kata tersandung saat mencoba menyentuh kemuliaan posisimu.

Bagaimana mungkin meratapi sosok agung yang telah melampaui batas deskripsi?! Dan bagaimana mungkin meringkas sebuah kisah dalam beberapa kalimat, padahal engkau adalah kisah sebuah umat, suara dari rasa sakitnya, dan raut dari martabatnya ketika pengepungan kian menghimpit?

Engkau bukanlah nama yang lewat begitu saja, bukan pula pidato sementara. Melainkan engkau adalah keyakinan yang terbentuk di dalam hati, ketenangan yang lahir dari balik reruntuhan, dan bukti bahwa rakyat ini, seberapa pun dalamnya luka yang diderita, masih mampu untuk tegak berdiri.

Engkau telah menyuarakan apa yang kami tak mampu katakan, memikul apa yang menyesakkan dada kami, dan menempuh jalan yang terjal atas nama jutaan orang, tanpa pretensi dan tanpa menanti balasan maupun pujian.

Kami tak mampu meratap hari ini, karena ratapan hanyalah untuk mereka yang tiada, sedangkan engkau tetap kekal di dalam diri kami sebagai jejak, di dalam ingatan sebagai sebuah sikap, dan di dalam jiwa sebagai sebuah makna.

Kata-katamu akan tetap hidup, dan bayangmu akan tetap menjadi saksi atas zaman yang mencoba mematahkan kami namun gagal. Suaramu akan tetap menjadi cemeti bagi leher musuh-musuh Allah, dan menjadi penawar bagi hati saudara-saudaramu di kota yang terluka ini.

(Rashdul Maidan)

Komentar