Kasus ini sederhana sekali.
Suami dan anak dari Bupati ini punya PT, namanya PT RNB, Raja Nusantara Berjaya. Lantas PT ini dapat proyek outsourcing dari Pemda (yang puncak keputusannya ada di Bupati).
Banyak sekali proyeknya. Setidaknya ada di 17 berbagai instansi dan perangkat kabupaten tsb. Uang dari proyek ini diduga mengalir deras ke Bupati (dan tentu saja ke keluarganya).
Nah, Bupati berdalih dia tidak tahu aturannya. Gitu deh. Dia TIDAK tahu jika itu tidak boleh. Oke deh. Percaya deh.
Beginilah realitas Indonesia, my friend. Kalau kasus-kasus begini diungkap semua, tidak akan kurang 10.000 politisi, elit-elit politik di negeri ini ditangkap malam ini juga. Karena begitulah. Di Indonesia itu, semua sibuk diproyekin, semulia apapun konsep sebuah program ujung-ujungnya proyek, dan siapa pelaksana proyeknya? Mereka-mereka juga. Bahkan, sekarang mereka buat resmi dan legal agar memang mereka-mereka operatornya. (MBG? -red)
Mereka yaang membuat kebijakan, mereka yang buat peraturan, mereka pelaksananya, mereka yang mengevaluasi, mereka semuaaaa. Mengalir deras duit ke keluarga-keluarga elit-elit ini. Bancakan ratusan triliun tiap tahun.
Lantas rakyat dapat apanya? Joget-joget nggak jelas. Oke gas oke gas, dan saat ditanya apakah bahagia? iyyyaaa, kami paling bahagia seduniaaaa.
(Tere Liye, penulis novel “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”)






