✍🏻Balqis Humaira
Masalah Pandji ini sebenernya sederhana, tapi dibikin ribet karena banyak yang pura-pura bego.
Pandji naik panggung, stand-up, ngomong soal satu konsep: negara ini makin hari makin mirip agensi iklan. Kebijakan gak dijelasin pake kerja, tapi pake konten. Pake seleb. Pake influencer. Pake citra.
Terus dia pake contoh. Salah satunya nyebut nama Raffi Ahmad. Dalam konteks ilustrasi. Bukan nuduh. Bukan bikin laporan. Bukan bikin dakwaan. Itu analogi di panggung.
Sekarang kita berhenti dulu di sini.
Kalau di negara ini masih ada akal sehat, harusnya orang bisa bedain mana contoh, mana tuduhan. Kalau tiap contoh di panggung harus dibawa ke polisi, besok-besok tukang becandain temennya di pos ronda juga bisa dipenjara.
Tapi ini Indonesia 2026. Negara yang udah kelamaan hidup dari pencitraan.
Begitu video Pandji dipotong, diviralin, langsung muncul laporan. Siapa yang lapor? Katanya dari unsur ormas, NU dan Muhammadiyah.
Nah, di sini kita mulai masuk ke bagian yang busuk.
Pandji itu gak ngomong NU. Gak ngomong Muhammadiyah. Gak nyebut PBNU, gak nyebut PP Muhammadiyah. Yang dia omongin itu pola kekuasaan. Pola negara. Pola pejabat. Pola pencitraan.
Tapi kok yang maju malah bawa-bawa ormas?
Ini nih penyakit lama di republik ini.
Kalau ada yang mulai nyentuh: uang, kekuasaan, proyek, relasi elite
Maka isunya harus dipindahin ke: identitas, kelompok, agama, organisasi
Supaya apa?
Supaya kita gak ngomongin yang penting.
Sekarang gue tanya :
Kalau Pandji cuma ngomong ngawur, kenapa perlu dibawa ke polisi?
Kalau omongannya gak ada kena-kenanya, kenapa gak diketawain aja?
Orang waras itu kalau dituduh yang gak bener, reaksinya cuma satu: ketawa, karena gak merasa.
Yang ribut, yang marah, yang tersinggung, itu biasanya cuma satu jenis: yang merasa kesindir.
Sekarang kita buka konteks yang lebih gede.
Kenapa sih negara sekarang doyan banget pake seleb?
Kenapa Raffi Ahmad, Atta dan banyak influencer lain, bisa masuk ke orbit kekuasaan?
Kenapa Gibran Rakabuming sejak awal jadi walikota sampai wapres hidupnya gak pernah jauh dari kamera?
Jawabannya sederhana: ini warisan cara berkuasa ala Jokowi.
Jokowi itu presiden pertama yang bener-bener menjadikan citra sebagai tulang punggung kekuasaan.
Bukan cuma kerja, tapi kerja yang harus kelihatan.
Bukan cuma bangun, tapi bangun yang harus diviralkan.
Bukan cuma kebijakan, tapi kebijakan yang harus dikemas kayak konten.
Awalnya keliatan lucu. Blusukan. Vlog. Youtube. Tapi lama-lama berubah jadi sistem.
Dan di ujung jabatannya, Jokowi ninggalin satu warisan paling berbahaya: politik transaksional yang dibungkus citra.
Salah satu contohnya apa?
Izin tambang.
Lo inget gak, di akhir-akhir masa Jokowi, negara ini rame banget bagi-bagi konsesi tambang ke ormas. Resminya bilang buat pemberdayaan ekonomi. Buat kemandirian.
Tapi logika begonya gini:
Kalau ormas itu tugasnya ngurus umat, ngurus pendidikan, ngurus sosial, kenapa disuruh ngurus tambang?
Ini kayak nyuruh ustaz ngelola SPBU.
Bisa? Bisa aja. Tapi itu bukan kerjaan utamanya.
Dan yang lebih penting: kenapa negara ngasih tambang?
Karena tambang itu bukan cuma bisnis. Tambang itu sumber uang, sumber kuasa, sumber pengaruh.
Begitu negara mulai bagi-bagi tambang ke: ormas, koperasi, yayasan, kelompok
Sejak saat itu, negara lagi nanam satu hal:
kepentingan ekonomi ke dalam organisasi sosial.
Dan kalau kepentingan ekonomi udah masuk, jangan mimpi itu organisasi bisa bebas ngomong.
Sekarang kita tarik ke kasus Pandji.
Begitu ada orang ngomong soal: pencitraan, kekuasaan, relasi elite, cuci-cuci citra
Yang ribut bukan pejabat.
Yang ribut bukan istana.
Yang ribut malah dibelokin ke ormas.
Ini bikin gue mau ketawa tapi pahit.
Ini kayak ada orang ngatain maling di kampung, tapi yang marah malah tukang bakso.
Gak nyambung.
Tapi ini masuk akal kalau kita inget:
negara udah keburu nyebarin kepentingan ke mana-mana.
Sekarang semua sensitif.
Karena semua merasa punya beban.
Sekarang kita balik ke Raffi Ahmad.
Raffi itu bukan masalah pribadi. Dia simbol. Simbol seleb yang masuk ke orbit kekuasaan. Simbol negara yang pake popularitas buat nutupin politik.
Dia bukan satu-satunya. Tapi dia yang paling kelihatan.
Dan Gibran?
Gibran itu produk paling sempurna dari politik citra.
Dari awal, dia bukan dibangun pake debat gagasan. Dia dibangun pake: media, exposure, framing, dan mesin.
Sekarang kita tanya jujur aja:
Kalau sistem ini sehat, kenapa perlu seleb?
Kalau kebijakan ini bener, kenapa perlu influencer?
Kalau pemimpin ini dipercaya, kenapa perlu buzzer?
Jawabannya pahit:
Karena yang dijual bukan kinerja. Yang dijual persepsi.
Dan negara yang hidup dari persepsi itu alergi sama kritik.
Makanya komedian pun bisa jadi musuh.
Ini bagian yang paling bahaya.
Kalau kritik datang dari: LSM, dibilang asing.
Akademisi, dibilang teoritis.
Aktivis, dibilang cari panggung.
Sekarang komedian pun dilaporin.
Ini tandanya apa?
Ini tandanya negara ini makin tipis kulitnya.
Sekarang soal NU dan Muhammadiyah.
Gue ngomong lurus.
NU dan Muhammadiyah itu terlalu besar, terlalu tua, terlalu berjasa buat diperkecil jadi satu laporan polisi.
Isinya jutaan orang. Pandangannya macem-macem.
Kalau ada beberapa orang ngelaporin, itu bukan NU, itu bukan Muhammadiyah. Itu individu.
Tapi kenapa nama besarnya yang dipakai?
Karena lebih serem.
Karena lebih bikin ribut.
Karena lebih gampang mecah perhatian.
Sekali lagi, ini trik lama.
Bikin rakyat ribut di identitas, supaya lupa nanya soal kekuasaan.
Padahal pertanyaan utamanya cuma satu:
KENAPA NEGARA SEKARANG LEBIH TAKUT SAMA OMONGAN KOMEDIAN DARIPADA SAMA KORUPSI?
KENAPA METAFORA LEBIH BIKIN PANIK DARIPADA DATA?
KENAPA CANDAN LEBIH DIKEJAR DARIPADA KEBOCORAN DUIT?
Dan sekarang kita masuk ke bagian paling jujur dan paling kotor.
Izin tambang itu bukan cuma soal ekonomi. Itu alat kontrol politik.
Siapa yang dikasih, dia akan mikir seribu kali buat ribut.
Siapa yang kebagian, dia akan mikir seribu kali buat kritik.
Ini yang Jokowi tanam di akhir jabatannya.
Negara yang mengikat semua orang dengan kepentingan.
Begitu semua punya bagian, semua jadi jinak.
Dan di negara kayak gini, orang kayak Pandji itu bahaya. Bukan karena dia jahat. Tapi karena dia ngomong pake bahasa yang dimengerti rakyat.
Bukan bahasa seminar. Bukan bahasa sidang. Tapi bahasa warung kopi.
Dan kekuasaan paling takut sama satu hal:
dibahas pake bahasa sederhana.
Karena begitu rakyat paham, selesai.
Makanya reaksi selalu lebay.
Makanya selalu dibikin seolah ini soal: kesopanan, etika, perasaan kelompok
Padahal ini soal: kekuasaan yang gak mau dikaca-in.
Gue tutup pake logika paling telanjang.
Kalau negara ini sehat, Pandji cuma jadi bahan ketawa.
Kalau negara ini kuat, kritik jadi vitamin.
Kalau negara ini bersih, sindiran gak bikin gatal.
Tapi kalau negara ini: panikan, baperan, alergi metafora
Itu tandanya bukan rakyatnya yang sensitif.
Tapi kekuasaannya yang keropos.
Dan negara yang kekuasaannya keropos itu selalu punya ciri:
Lebih sibuk ngurus citra
Daripada ngurus isi.
Lebih takut sama omongan
Daripada sama kenyataan.
Lebih ngejar yang nyindir
Daripada yang nyolong.
Dan itu, mau dibungkus pake nama siapa pun, mau bawa-bawa ormas apa pun, tetap satu kalimat:
Ini bukan negara yang percaya diri. Ini negara yang lagi ketakutan sama bayangannya sendiri.
(sumber: fb)







Komentar