Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) menimbulkan efek domino di kalangan tingkat bawah.
Terutama kalangan pedagang, mereka mengeluhkan omzet menurun sejak program itu berjalan.
Skema penyediaan makanan yang terpusat justru membuat pasar tradisional kehilangan pembeli.
Salah satu pedagang sayur Pasar Argosari Suherni mengaku, sejak MBG berjalan, kebiasaan orang tua menyiapkan bekal untuk anak berkurang drastis.
Imbasnya, pembelian bahan kebutuhan dapur ikut menyusut.
“Kalau saya bisa ketemu Pak Prabowo, saya ingin menyampaikan langsung. Program makan bergizi gratis ini tidak berdampak pada ekonomi masyarakat kecil seperti kami pedagang pasar. Justru pasar jadi sepi,” ujarnya kepada wartawan saat ditemui Selasa (17/2/2026).
Dia menjelaskan, sebelumnya ibu-ibu rutin berbelanja bahan makanan untuk bekal sekolah anak.
Bahkan pada siang hingga sore hari, sekitar pukul 14.00-16.00, masih ada pembeli yang mampir sepulang kerja untuk membeli cabai, sayur, maupun bumbu dapur.
“Sekarang sudah jarang sekali. Omzet jelas turun. Biasanya saya stok cabai rawit merah 5 kilogram sehari habis. Ini sudah tiga sampai empat hari masih banyak tersisa,” bebernya.
Suherni menilai, skema MBG yang dikelola melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kurang melibatkan pedagang kecil.
Ia menduga, bahan baku lebih banyak diambil langsung dari pemasok besar, bukan dari pasar tradisional.
Sumber : radarjogja







Pak Bowo lebih seneng denger cerita yg bagus2 dari ketua BGN sama si Deyang wakilnya
Bahan baku diambil langsung dari pasar induk..harga lebih murah